
๐๐Dear readers tolong beri pendapatmu mengenai cerita ini, menurut kalian lanjut gak, jika memang kurang suka, tidak akan saya lanjutkan๐๐
๐๐Selamat membaca๐๐๐
๐๐Jangan lupa tekan tombol like๐๐๐
****
Setelah jam makan siang tiba Aira dan Sandra pergi ke kantin kantor ini.
"Malam minggu nanti kita hang out bareng yuk," ajak Sandra sambil menyantap makan siangnya.
Aira mendesah. "Ayo, tapi aku tidak janji. Jika tiba-tiba aku disuruh pulang ke mama tiriku gimana lagi."
Ia sengaja berbicara seperti, agar jika saatnya nanti tiba lalu Aira membatalkan niatnya demi untuk menemani David ia tidak perlu mencari alasan lain. Beberapa hari ini David dan Aira tidak ada komunikasi, saat bertemu di kantor pun mereka tetap bersikap layaknya atasan dan bawahan.
"Memangnya papamu makin parah?" tanya Sandra.
"Begitulah. Mungkin mama tiriku tidak merawat papa dengan baik. Tapi jika tidak ada dia siapa yang akan merawatnya, jujur aku belum mampu untuk membawa papa kesini, kau taulah aku di sini hanya kos," tutur Aira di sela-sela suapan terakhirnya.
__ADS_1
"Tapi uangnya lancar bukan?" tanya Sandra lagi.
"Lancar, kurang malah." Aira mendengus kesal. "Kau bahkan tau, gajiku habis untuk mereka," sambungnya kemudian.
Sandra tertawa. "Mereka dikasih berapapun pasti kurang."
Aira mengiyakan apa yang diucapkan Sandra, karena memang begitulah sifat mama tirinya, mendadak ia teringat akan hutang pada Jhony dan Siska sahabat masa kecilnya. Dan naasnya saat ini dikontrak oleh David secara ekslusive, yang berarti tidak boleh menerima ajakan pria lain. Ia sudah pasrah, apalagi mengingat bayaran yang David berikan jauh lebih besar. Tersenyum tipis, ia merasa seperti seorang pelacur, bedanya ia tidak melayani di atas ranjang. Mengingat hal itu membuat selera makannya hilang. Ia berniat beranjak menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih cepat.
Saat ia tengah membalikkan badannya, dan..
Brukk!
"Kau?" ucap sang pria yang bernama Dino pada Aira. Sedang Aira merasa bingung, pria itu bukannya bilang maaf malah tersenyum.
"Aira?" panggil Dino.
"Kau mengenalku?" tanya Aira merujuk pada dirinya sendiri.
Dino mencebik kesal. "Kau tidak ingat padaku, aku Dino yang saat itu pernah melihatmu bertarung melawan jambret," ucapnya.
__ADS_1
Sementara Dino dan Aira tengah terlibat percakapan yang entah apa itu, Sandra merasa sedang menonton sebuah siaran langsung dari meja makannya.
Aira berusaha mengingatnya. "Oh iya, aku ingat. Maaf aku suka lupa."
"Tidak masalah, "sahut Dino.
"Hei kau mau kemana, temani aku makan dulu," ajak Dino untuk mengajak Aira duduk kembali.
"Tapi aku harus kembali bekerja." Aira berusaha menolak ajakan Dino.
"Oh kau bekerja di sini ternyata, jika ada kau di sini aku akan senang bila harus berkunjung ke kantor kakakku ini," ucap Dino senang.
"Kantor kakakmu?" tanya Aira dan Sandra bebarengan. "Maksudnya?" sambung Aira.
Dino tengah bingung dengan reaksi keduanya "Kau tau bukan jika kantor ini milik keluarga Adinata, pimpinan di sini namanya David Adinata bukan? Iya dia itu kakak sepupuku, aku tadi habis berkunjung ke ruangan dia, tapi mendadak aku lapar makanya aku pergi kesini," jelasnya.
"Oh untuk apa kau repot-repot kesini, kau bisa delivery bukan," sahut Sandra.
"Hei aku bukan kakakku ya, jika kakakku tentu tidak akan mau bukan makan di sini. Tapi bagiku di sini jauh lebih baik dari pada makan di dalam ruangan tertutup," tutur Dino
__ADS_1
Sandra dan Aira merasa kagum pada Dino yang tanpa rasa malu mau bergabung pada kalangan bawah. Jika itu David, ah mana mungkin pikir Aira.