Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
Aku akan membawanya..


__ADS_3

CHILDREN FOREIGH SCHOOL


Axel berjalan dengan lesu sepanjang lorong sekolah.


"Axel.." Panggil Tia saat melihat Axel sudah keluar dari gedung sekolah.


Axel tersenyum tipis menghampiri Tia, "Onty bolehkah Axel bertanya.."


Tia mengangguk, "tentu.."


"Kenapa Mommy sekarang selalu melarang Daddy masuk ke rumah kita..?"tanya Axel membuat Tia tergelak.


"Apa onty tau. Aku sangat merindukan Daddy. Apa Mommy sedang marah sama Daddy. Malam itu aku melihat Mommy menutup pintu dengan kencang saat Daddy hendak masuk ke rumah.."sambungnya dengan wajah sendu.


Tia mensejajarkan dirinya pada Axel, "Axel, Mommy dan Daddy hanya sedang ada masalah sedikit, tapi tenanglah semua akan baik-baik saja"tutur Tia dengan lembut berusaha meyakinkan Axel.


"Onty bohong..."Axel menepis tangan Tia, lalu berlali kencang keluar area sekolah.


Tia bangkit berusaha mengejar Axel, "Axel tunggu Onty, jangan lari sayang. Kau mau kemana.."


"Aku akan menemui Daddy sendiri.."ucapnya, ia terus berlari tanpa memperdulikan jalanan sekitar yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Tanpa melihat sekitar Axel menyebrang jalanan, hingga akhirnya


Brak..


"Axel.."Teriak Tia berlali kencang menghampiri tubuh Axel yang sudah bersimbah darah.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu pun segera berdatangan. Pengendara mobil yang tado menabarak Axel pun ikut keluar.


"Nona maaf, sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit. Saya akan tanggung jawab.."ucap Pria paruh baya dengan bergetar.


🎋🎋🎋


Aira yang sedang bekerja di Cafe merasa gelisah sejak tadi. Hingga dering ponselnya membuyarkan lamunan.


"Hallo.."


"Axel ketabrak mobil Nona. Saya sedang membawanya ke rumah sakit terdekat.."ucap Tia di balik telpon.


Aira terkejut ia menjatuhkan ponselnya. Aira mengambil kunci motornya kemudian ia berlalu pergi menuju rumah sakit.


"Tunggu Mommy sayang, kau pasti baik-baik saja.."ucapnya


Aira mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Hingga pada akhirnya kini ia telah sampai di rumah sakit. Aira langsung mencari ruangan UGD.


"Tia apa yang terjadi? kenapa bisa begini.."tanya Aira dengan air mata mengalir.


"Maafkan saya, saya tidak becus menjaga Axel. Tadi Axel bertanya tentang anda dan Tuan David, kemudian ia berlari keluar sekolah, ia bilang ia akan menemui Daddynya, ia sangat merindukannya Nona.."jelas Tia


Deg.. Perasaan bersalah kembali menyelimuti Axel. Aira tidak menyangka semua yang ia lakukan akan berdampak buruk bagi putranya.

__ADS_1


"Nona saya tidak sengaja menabrak putra anda, tolong maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab.."ucap Pria paruy baya itu.


Aira tidak menjawab perkataan pria itu ia sedang di landa kecemasan serta ketakutan, tidak lama pintu ruangan terbuka, Dokter keluar dengan pakaian


"Maaf Nona, pasien membutuhkan transfusi darah, sedangkan persediaan darah di rumah sakit kami sedang habis.."Kata Dokter.


Aira bingung golongan darahnya tidak sama dengan Axel pun dengan Tia.


"Maaf Nona saya tidak bisa mendonorkan darah saya, karena saya memiliki anemia.."ucap Pria paruh baya itu.


"Baiklah saya akan menghubungi Daddynya.."ucap Aira, Aira merogoh ponselnya di saku namun ia tidak mendapatinya di sana.


"Tia, bisa pinjam ponselmu.."sambung Aira, Tia pun memberikannya.


Aira menghubungi David, namun David tidak kunjung mengangkat telponnya.


"Tidak ada jalan lagi, aku akan menemuinya.."ucap Aira ia menyerahkan ponsel Tia.


"Tapi Nona,.."Seru Tia


"Aku yakin Axel akan bertahan, dia begitu merindukan Daddynya bukan.. aku akan membawanya. Tidak perduli sekalipun nanti keluarganya akan mengambil Axel dariku, akan ku berikan asalkan mereka menyelamatkan putraku."Ucap Aira ia mengusap sudut matanya yang basah.


Aira berlari keluar rumah sakit menuju parkiran motor, setelah memasangkan helm pada kepalanya Aira memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


🎋🎋🎋


David memandanga gemercik air melalu jendela kaca kamarnya, ia memikirkan sikap Aira yang semakin susah untuk ia dekati akhir-akhir ini, semakin David mengejar Aira justru semakin menjauh.


tok.. tok.. pintu terbuka Wira masuk.


"Tuan, ini makanan anda.."ucap Wira


"Tarolah di situ.."sahut David


"tapi Tuan, anda harus tetap makan kalau tidak.."


"Aku tidak akan mati secepat itu Wira.."decak David


"Keluarlah.."sambungnya


Namun Wira masih tetap berdiri.


"Apa lagi..."ucapnya


"Tuan perusahaan.."


"Biarkan saja, aku tidak peduli. Jika Pak Tua itu sudah merasa hebat ia tidak akan membutuhkanku.."jelas David


"Sekarang keluarlah aku ingin sendiri.."sambungnya.

__ADS_1


Wira pun mengikuti perintah David. Sampai di ruang tamu ia terkejut saat mendapati Aira berdiri dalam keadaan basah kuyub.


"Nona Aira.."ucap Wira terkejut


"Apa yang terjadi.."


"Wira, bisakah aku bertemu David. Tolong aku tidak punya waktu banyak.."ucap Aira dengan bibir bergetar.


"Baik.. tunggu sebentar."Wira kembali berlari menaiki anak tangga menuju kamar David.


Dengan tergesa-gesa Wira langsung masuk ke kamar David tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Apa lagi.."decak David


"Tuan, di bawah ada Nona Aira.."seru Wira, membuat David terkejut.


David langsung berlari keluar dari kamarnya, ia menuruni anak tangga. David langsung memeluk Aira dengan erat.


"David.."panggil Aira lemah


"Apa yang terjadi.."Seru David setelah ie melepaskan pelukannya, ia melihat mata Aira yang bengkak.


"Kau menangis.."David mengulurkan tanganya menghapus sudut air mata Aira yang basah.


"Ayo duduklah.."sambungnya


Aira menggeleng, "David, aku tidak punya waktu sebanyak itu."


"Apa yang terjadi..?"tanya David


"David, tolong selamatlan Axel dia tertabrak mobil saat ini sedang di rumah sakit. Aku akan melakukan apapun. Ku mohon David. Dia membutuhkan transfusi darah,"jelas Aira membuat David terkejut.


"Wira ayo antarkan aku ke rumah sakit.."ucap David, Wira pun menuruti.


Sepanjang jalan Aira masih menangis, David tidak pernah melihat Aira selemah ini. David membawa kepala Aira untuk bersandar di bahunya.


"Maafkan aku, aku terlalu egois memisahkan kalian berdua.."ucap Aira di sela-sela tangisnya.


"Kau tidak bersalah, tenanglah Axel akan baik-baik saja. Putra kita anak yang kuat, percayalah.."David mengelus kepala Aira ia berusaha menenangkan Aira.


🎋🎋


Sorry baru up, aku masih di kampung mama mertua, gak tau kenapa di sini mati lampu dari jam 3 pagi sampai jam satu pada akhirnya sinyalnya pun hilang, ternyata telah terjadi kecelakaan di sekitar.. Aku bisa ngetik sampai segini dulu ya, ponselku lobet..


Konflik mereka akan segera berakhir kok, maaf kalau buat kalian bosan dengan ceritanya, tapi enggak masalah, saya sudah menyusun cerita ini sedemikian rupa jadi saya tidak bisa mengubah alur yang sudah saya buat


jangan lupa like, komen, hadiahnya ya😊


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2