Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Kau harus terbiasa


__ADS_3

Beberapa hari setelah di nyatakan kondisinya membaik Dino membawa Tia pulang. Sesuai keinginan Papa Surya, Dino membawa pulang ke rumahnya.


Rumah ini terdiri dari dua lantai dengan bercat putih, memang tidak semewah rumah Deni. Tapi Dino bisa merasakan kehangatan di rumah ini, ah mungkin karena ia tinggal bersama Papa kandungnya yang selama ini ia rindukan.


Setelah membantu Tia berbaring dan menyuruhnya istirahat, Dino pun membereskan pakaiannya dan pakaian Tia ke dalam lemari.


Merasa badannya lengket Dino masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Tia yang mendengar gemercik air dalam kamar mandi merasa terusik ia membuka matanya. Lalu menyandarkan badannya di ranjang.


Pintu kamar mandi terbuka Dino keluar dengan rambut basah serta handuk yang melilit di pinggangnya. Tia yang melihatnya menelan ludahnya kasar. Dino berjalan ke arah lemari tanpa melirik ke arah Tia, ia mengira Tia masih tidur. Setelah mendapatkan pakaiannya Dino langsung memakainya.


"Ya ampun Mas Dino kenapa tidak ganti di kamar mandi saja.."teriak Tia merasa malu ia melemparkan bantal pada Dino.


Dino terjangkit kaget ia membalikkan badannya, "Jadi kau sudah bangun, maaf aku kira kau masih tidur.."


"kau harus terbiasa melihatnya sayang, bukankah kita itu suami istri . Tunggu sampai kau benar-benar sehat aku akan memperlihatkan yang lebih, tadi kau hanya melihatnya dari belakang..."sambungnya ia mengedipkan sebelah matanya menggoda Tia.


"Memalukan.."umpat Tia ia menutupi mukanya yang terlihat merona.


Dino hendak melangkah mendekati Tia, namun ia mengurungkan niatnya kala mendengar pintu di ketuk dari luar.


"Apa Bunda mengganggu.."tanya Annisa saat Dino sudah membuka pintunya ia membawa nampan yang berisi makanan dan segelas air putih. Sedikit canggung ketika ia harus menyebutnya Bunda untuk Dino takut jika anak tirinya tidak akan menerimanya, tapi ia harus memberanikan diri. Ketika ia bersiap menikah dengan Papa Surya ia juga harus bersiap menerima keluarganya. Mendengar cerita dari Surya tentang kehidupan Dino sebelumnya ia merasa miris, ia berjanji akan memperlakukan Dino layaknya anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Oh tidak, masuklah Bun. Kenapa repot-repot aku bisa mengambilnya sendiri nanti.."sahut Dino merasa tidak enak merepotkan ibu tirinya.


Annisa tersenyum tipis, "Mana mungkin merepotkan. Bunda justru senang melakukannya.."


Annisa meletakkan nampannya di atas meja, "Dino ini makan siang untuk Tia, jangan lupa minum obatnya juga. Perlukah Bunda suapi.."


Tia menggeleng, "Tidak Bunda, aku sudah bisa makan sendiri.."


"Baiklah, Bunda keluar dulu ya. Setelah makan istirahatlah agar cepat pulih, jika perlu apa-apa kau bisa panggil Bunda.."Seru Annisa


"Terimakasih Bun.."ucap Dino


Annisa menggeleng, "Tidak ada ucapan terimakasih untuk keluarga Dino. Saat ini kau juga putraku kan."


Dino menatap lembut wajah Tia yang saat ini masih terlelap di depannya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang hampir menutupi wajahnya lalu mengecup kening Tia. Dino bangkit dari tempat tidurnya ia berjalan menuju balkon kamarnya. Matanya melihat ke arah jalanan sekitar komplek perumahan itu, namun pikirannya kosong.


"Mas Dino memikirkan mama ya.."ucap Tia sambil memeluk Dino dari belakang.


Dino menghela nafasnya, "Tidak. Kenapa bangun, hem.."tanya Dino sembari membalikan tubuhnya hingga kini keduanya saling berhadapan.


"Karena Mas Dino juga bangun,"serunya ia membenamkan wajahnya di dada bidang Dino. Tia dapat merasakan jantung Dino yang berdegub kencang.

__ADS_1


"Angin malam tidak baik untukmu, ayo masuk. Istirahat agar kau cepat pulih, kau tidak mungkin membiarkanku berpuasa lama-lama kan.."seru Dino


"Maaf ya mas.."lirih Tia, ia merasa bersalah belum bisa melayani suaminya dengan baik, luka di tangan dan kepalanya belum cukup kering.


"Tidak ada yang perlu di maafkan karena kau juga tidak bersalah.."ucap Dino


Dino membawa Tia masuk ke dalam kamar.


"Muda-mudahan lusa aku sudah sehat ya mas, aku kan juga ingin datang ke pernikahan Felicia dan Kak Wira.."ucap Tia saat kini keduanya sudah membaringkan dirinya di atas ranjang.


"Iya, Tia sayang.."


"Apa kau juga ingin pesta pernikahan mewah Tia.."tanya Dino


Tia menggeleng, "Sudah bisa menikah denganmu saja aku sudah bersyukur mas. Tidak perlu pernikahan mewah.."


"Ayo tidurlah mas, aku sudah ngantuk.."Tia mendekat dan memeluk erat Dino. Dino mengecup kening Tia lalu menyusulnya tidur.


โš˜โš˜


jangan lupa like, komen, hadiahnya..

__ADS_1


next bab siapin kado buat Wira dan Felicia ya readers๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


bersambung..


__ADS_2