
Kelas pagi ini membuat Felicia bertambah pusing, entah karena suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Berkali-kali Felicia di tegur sang Dosen, namun tetap saja ia merasa tak dapat konsentrasi.
Sedari bangun tidur Felicia sudah tak mendapati Wira di apartemen, entah kemana perginya sang suami. Merasa kecewa Felicia tak ingin tau.
Menghela nafasnya Felicia merasa jenuh jika langsung pulang ke apartemen, akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung ke rumah kakaknya, ia mendengar jika Aira kembali mengandung. Barangkali setelah berkunjung kesana Felicia suasana hatinya akan menjadi baik.
"Selamat ya kak, akhirnya aku akan mempunyai keponakan lagi.."seru Felicia setelah bertemu Aira, kini keduanya duduk santai di ruang televisi.
"Makasih Feli, aku yakin sebentar lagi kau juga akan menyusul.."sahut Aira
Raut muka Felicia langsung berubah sendu, ia tersenyum miris, Suamiku bahkan tidak sudi menyentuhku bagaimana mau hamil.
Menyadari tak jawaban dari Felicia, Aira kembali bertanya "Kau baik-baik saja kan Feli,"
"Tentu saja aku baik.."
"Pernikahanmu baik-baik saja kan? Wira memperlakukanmu dengan baik kan.."tanya Aira
Felicia menatap Aira sesaat, ingin sekali ia memeluk kakak iparnya itu lalu mencurahkan segala yang terjadi, namun ia mengurungkan niatnya jika sampai semua terdengar ke telinga David, David pasti akan menghajar Wira habis-habisan. Felicia menggelengkan kepalanya, ia tidak mau membuat suaminya celaka.
"Tentu saja baik.."
Meski Aira merasa ada yang di tutupi oleh Felicia, namun ia tidak mau memaksa Felicia untuk bercerita, bagaimana seseorang mempunyai privasi.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk terus mengobrol, sesekali akan terdengar canda tawa.
"Jam berapa Kak David pulang.."tanya Felicia, ia merasa sudah sangat lama menghabiskan waktu di sana.
"Sebentar lagi, kenapa? apa kau mau menunggunya.."tanya Aira
"Tidak, kalau begitu aku pamit saja ya kak.."Felicia bangkit dari tempatnya
"Lho, kenapa tidak bareng suamimu saja. Dia pasti akan mengantar David pulang,.."ujar Aira
Felicia menggeleng, "Aku membawa mobil sendiri. Aku permisi dulu ya kak.."
⚘⚘
__ADS_1
Setelah mengantar David pulang, Wira segera melajukan mobilnya ke aparetemen miliknya. Entah mengapa semenjak melangkahkan kakinya ke kantor ia merasa perasaannya tidak tenang, ia merasa gelisah.
Setelah membuka kode apartemen miliknya Wira melangkahkan kakinya ke kamar, matanya menyapu ke segala isi penjuru kamar dan setiap sudut aparetemen, namun tidak ada siapapun di sana.
"Di mana Feli,.."gumamnya ia merasa cemas saat tak menemukan keberadaan istrinya.
Wira merogoh ponselnya mencari kontak Felicia dan mulai menghubunginya, tersambung namun tak di angkat.
Akhrinya ia memilih mengirimkan pesan, namun tetap saja tak ada balasan.
⚘⚘
Sementara Felicia yang saat berada si sudut taman kota, menatap lalu lalang orang yang berada di sana. Banyak sekali pasangan yang menghabiskan waktu di sana, ia melihat sekitar tak ada satupun yang nasibnya sama seperti dirinya.
Felicia merasakan getaran ponsel yang ia letakkan di tasnya, tanpa melihat ia tau siapa yang menghubunginya. Ia memilih mengabaikan panggilan telpon Wira.
Hingga pukul sembilan malam, Felicia memutuskan untuk kembali, melajukan kembali dengan kecepatan tinggi, tak jarang ia menitikkan air matanya.
⚘⚘
Ceklek..
"Kau dari mana Feli? kenapa tidak mengangkat telponku."cecar Wira ia hendak menyentuh tangan Felicia, namun Felicia menepis tangannya, membuat Wira terkejut.
"Feli, kamu..."
"Jangan sentuh aku kak, bukankah kau jijik padaku.. Sudahlah tidak sok peduli lagi padaku."ucap Felicia dengan tajam.
Wira tergelak, "Aku tidak mengatakan hal itu.."
"Tidak perlu kau berkata, namun aku tau dari semua sikapmu... Aku pikir kau normal, ternyata tidak.."
"Feli.. Aku ini suamimu. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu.."teriak Wira dengan keras, di kata tidak normal Wira merasa tidak terima.
Felicia menitikan air matanya, ia memberanikan diri menatap Wira, "Apalagi yang harus ku katakan, bukankah semua sudah jelas. Kau menganggap apa pernikahan kita kak, aku ini istrimu tapi kau hanya memperlakukanku layaknya seorang adik. Jika kau tidak menginginku untuk apa kau mengikatku dalam ikatan pernikahan kak. Harusnya biarkan saja semua orang mencemoohku, itu lebih baik di bandingkan kau mengikatku dalam luka seperti ini kak."
Felicia memukul dadanya yang terasa sakit, "Hatiku sakit kak, sangat sakit. Kau ingat kejadian semalam saat tiba-tiba kau mencampakanku begitu saja, paginya kau bahkan pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun. Aku merasa layaknya seorang jalang bagimu, yang merasa tak di inginkan lalu kau mencampakkanku begitu saja."
__ADS_1
Wira berusaha meraih Felicia ke dalam pelukannya, namun Felicia memberontak, "Feli tenanglah ku mohon, aku akan jelaskan semuanya,.."
"Diam... aku tidak mau mendengarkan apapun dari pria seperti dirimu.."teriak Felicia dengan kencang.
"Sudah cukup, hatiku sudah terlanjur sakit.."sambungnya, Felicia berlalu pergi ke kamar, ia langsung mengunci pintunya dari dalam tak lama badannya merosot ke lantai Felicia kembali menangis.
"Sungguh aku merasa terhina Tuhan.."ucapnya.
Dari luar Wira terus mengetuk pintunya, Felicia tetap mengacuhkannya. Felicia menghapus air matanya lalu kembali berdiri, Felicia melangkahkan kakinya menuju lemari ia mengambil koper miliknya lalu ia mulai memasukan pakaiannya, hingga habis tak tersisa.
"Pergi adalah jalan tebaik, sudah cukup semuanya.."
Ceklek..
Felicia kembali membuka pintunya, di ambang Wira sudah berdiri dengan tampang kacau. Ia kembali terkejut kala melihat Felicia keluardengan membawa kopernya.
"Feli, kau mau kemana.."tanya Wira
"Pergi, di sini bukan tempatku. Aku tak layak untuk menjadi istrimu.."
"Jangan pergi Feli, aku mohon. Aku akan jelaskan semuanya..."
Wira berusaha meraih koper Felicia, namun Felicia justru memukul Wira dengan kopernya hingga ia terjatuh.
"Aku tidak akan mendengarkan apapun darimu,.."
Melihat Wira sedang tak berdaya Felicia berlari keluar.
"Selamat tinggal kak Wira.."
⚘⚘
Segini dulu ya, next Bab aku usahakan bongkar masa lalu Wira.
Jangan lupa like, komen, hadiahnya..
Beri hadiah yang banyak biar aku semangat ya😊
__ADS_1
bersambung..