
Mobil mercy melaju dengan kecepatan sedang, terlihat Aira begitu cantik dengan gaun berwarna biru senada dengan baju yang di kenakan David. Di depannya ada Wira yang sedang menyetir, ia juga terlihat rapi. Sungguh berada dalam lingkungan orang-orang kaya membuat Aira minder, mendadak rasa percaya dirinya hilang.
Semakin dekat dengan kediaman keluarga besar David. Aira meremas ujung gaunnya, sungguh ia merasa amat gugup.
"Kau merasa gugup?" tanya David, Aira pun menganggukan kepalanya.
"Wajar jika untuk pertama kali datang di rumah seseorang. Mungkin jika itu aku, aku pun akan merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi tenang saja di sini ada aku, kau akan baik-baik saja," ujar David menenangkan. Aira pun menoleh ke arah David, ia tersenyum tipis tidak dipungkiri jika David memang sangat tampan, hidungnya mancung, alisnya tebal, rahangnya terlihat kokoh, di balik kemeja yang ia kenakan tentu akan terlihat perut sispacknya, ia juga masuk dalam jajaran kaum pria pembisnis yang handal, hanya wanita yang beruntung yang bisa mendapatkan pria seperti David pikirnya. Mendadak ia jadi pesimis.
Saat Aira sedang asyik dengan lamunannya tiba-tiba David membuyarkan lamunannya,
"Kita sudah sampai," ucapnya. Aira pun melihat ke samping benar mereka memang telah sampai di sebuah rumah yang terlihat mewah dan megah. Ia bahkan sangking asyiknya melamunkan David sampai tidak menyadari mobilnya telah melewati banyak para penjaga di depan.
Saat turun dari mobil Aira mengedarkan pandangannya, benar rumah ini mewah bahkan sangat mewah, bangunannya terlihat kokoh dengan banyaknya pilar-pilar. Serta lampu-lampu yang menghiasi taman, banyak pepohonan serta bunga-bunga di sekitar rumah ini. Bagi Aira ini bukan rumah melainkan sebuah istana, apalagi ia melihat di sana banyak para penjaga yang sedang mondar-mandir menjaga keamanan. Aira terperangah merasa takjub.
Aira tersentak kaget saat sebuah tangan menautkan jarinya. Ah iya, David menggenggam tangannya, jangan lupakan ini merupakan bagian dari sebuah perjanjian itu. Sebelumnya David menatap wanita yang berada di sampingnya ini, lalu ia bergumam. "Gaunmu sangat cocok dengan tubuhmu, kau terlihat lebih cantik," pujinya, membuat wajah Aira merona malu.
Sekian banyak ia menemani seorang pria menjadi pasangan pendamping bayaran, baru kali ini ia merasakan sesuatu hal yang aneh, ia merasa senang sekaligus malu mendapat pujian dari David. Biasanya ia hanya menganggap hal itu biasa. Aneh entah pesona apa yang membuat Aira begitu takjub pada pria ini.
"Ayo masuk," ajak David. Mereka masuk lalu melewati para penjaga yang tampak menunduk membiarkan mereka masuk.
David tau saat ini Aira tengah menahan rasa gugupnya, ia merasakan tangan Aira yang gemetar juga berkeringat dingin.
"Tarik nafas hembuskan, jangan takut ataupun grogi tenanglah. Jika kau merasa takut salah, kau hanya cukup diam, oke," ucap David menenangkan Aira.
Sampailah mereka di ruang makan, terlihat meja makan yang panjang super mewah, di situ juga sudah banyak orang yang menduduki kursinya.
"Kau datang juga?" sapa seorang pria paruh baya di ujung meja.
"Apa kabar papa?" tanya David setelah mendudukan dirinya di sampingnya.
Pria itu menggeram kesal. "Kau masih menganggap aku papamu, setelah sekian kali kau selalu menghindari untuk datang ke rumah ini."
__ADS_1
"Aku sibuk," jawab David datar
"Memangnya kau pikir, hanya kau yang sibuk," seru Deni sang papa.
"Yah, kita memang punya kesibukan masing-masing. Jadi, mengertilah jangan menyamakan aku denganmu papa," sahut David tenang.
Rasa marah Deni telah sampai puncaknya anaknya terlihat membangkang. Jika tidak ada wanita di sampingnya bisa ia pastikan piring beserta isinya akan melayang saat itu juga. Berusaha tenang, lalu ia melihat ke arah putranya ia mengernyit heran melihat putranya membawa seorang wanita.
"Siapa dia?" tanya Deni langsung.
"Teman! Em teman spesial maksudnya. Ah mungkin juga em kekasihku," jawab David.
Jawaban David membuat Aira gemetar, sungguh ia merasa takut dengan tatapan papanya David itu. Berbeda dengan Aira, David justru merasa tenang. Namun Aira berusaha untuk tidak peduli.
"Kamu tau jika malam ini papa juga mengundang teman papa yang membawa putrinya itu?" tanya Deni dengan marah.
"Tentu, aku tau!"sahut David tenang
"Lalu kenapa kau membawa temanmu itu kesini, kau mau membuat malu papa ha!" teriak Deni emosi.
"David, kau-" teriak Deni kencang,
"Papa tenanglah jangan buat keributan, sudah cukup. Benar kata David biarkan ia memilih jalan hidupnya sendiri, kita tidak usah ikut campur," sela Mega mama David.
"Kenapa kau membela putramu itu? Kau tau dia amat keterlaluan, dia sekarang menjadi pembangkang," sarkas Deni dengan emosi.
"Sudahlah, apa kau tidak malu pada saudara-saudaramu itu? Kau bertengkar dengan anakmu sendiri di depan mereka," ujar Mega. Deni pun melihat sekilas ke arah adik-adiknya, beserta adik dari istrinya.
Aira yang merasa ketakutan hanya diam menunduk sungguh tidak pernah terlintas dalam pikirnya jika ia akan terlibat pertengkaran seorang anak dengan papanya, apalagi ia terlibat dalam hal ini. Ia meraih gelas lalu meminumnya berharap ketakutannya akan hilang. Berada dalam lingkup keluarga sosialita membuat ia tidak percaya diri. Ia merasa terdampar tidak mengerti apapun.
"Gugup apa takut?" tanya David.
__ADS_1
"Emm... mungkin keduanya," sahut Aira.
"Jangan khawatir aku akan melakukan sesuatu untukmu," ucapnya dengan senyumnya, sungguh senyumnya sangat menawan pikir Aira.
David mengelus rambut serta pipi Aira membuat semua pandangan orang tertuju padanya, Aira baru menyadari jika David melakukan semua ini dengan sengaja.
"Siapa namamu?" tanya Mega dengan lembut,
"Aira, tante," sahut Aira dengan gugup juga takjub, ia tidak menyangka jika wanita yang menyandang gelar Adinata itu ternyata bersikap lembut padanya.
"Oh sudah berapa lama kau mengenal David?" tanya Mega lagi.
Aira tampak bingung untuk menjawab,
"Belum lama," timpal David. "Kami baru dalam tahap saling mengenal," tambahnya kemudian.
"Baru dalam tahap pengenalan kau sudah berani membawanya ke rumah ini? Sungguh hebat wanita ini!" Kali ini Dera sang tante David ikut bersuara, ia menatap ke arah Aira dengan tajam. "Siapa dia, dari keluarga mana, juga apa usahanya?"
"Aira adalah temanku, siapapun dia anda tidak berhak ikut campur urusanku," sahut David dengan tegas.
"Kurang ajar kau, kau membelanya dan menentang diriku? Aku adalah tantemu, tentu aku akan ikut campur urusanmu, apalagi untuk pendamping dirimu," teriak Dera.
"Tidak ada yang boleh ikut campur urusanku termasuk kau!" tunjuk David.
Sebelum Dera kembali membuka suaranya, Deni lebih dulu berbicara. "Cukup Dera diamlah, duduklah dengan tenang di kursimu. Jangan membuatku tambah pusing."
Dera mendengus kesal kembali duduk "Di mana Dino?" tanya Deni.
"Dia ada urusan, tidak bisa datang," sahut Dera.
Aira merasakan sangat perih dalam perutnya, sebelum berangkat tadi ia belum makan apapun, sungguh ia merasa lapar. Saat David hendak bertanya seorang pelayan datang, mengatakan jika tamunya sudah datang. Seketika Deni bangun menyambut mereka.
__ADS_1
Sepasang suami istri serta anak perempuan mereka. Namun, yang membuat Aira kaget adalah penampilan dari anaknya itu, ia memakai gaun merah dengan potongan dada yang sangat rendah memperlihatkan belahan dadanya, serta dandanannya yang sangat tebal. Rasanya ia ingin tertawa, namun ia menahannya.
😊Selamat membaca, berikan like dan komentarmu di part ini😊