Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Bayangkan nanti malam


__ADS_3

Hari pernikahan Wira dan Felicia tiba, keduanya hanya mengadakan pesta di rumah utama. Pesta pernikahan ini terlihat elegan, dengan dekorasi warna putih dan gold, tidak semewah pernikahan David memang. David berniat untuk membayarkan seluruh pengeluaran pesta pernikahan Wira dan Felicia, namun Wira dengan tegas menolaknya. Apa boleh buat demi menjaga perasaan Wira, David pun tidak ikut campur dalam urusan pernikahan keduanya. Baginya yang terpenting keduanya bahagia.


Wira mencoba tenang duduk di depan penghulu dengan berbatas meja , pria itu terlihat tampan dengan tuxedo yang ia kenakan.


David menepuk pundak Wira, "Kalau kau grogi kau cukup bayangkan saja apa yang akan terjadi nanti malam, pasti kau langsung semangat.."


Dasar David mentang-mentang sudah merasakannya ckck.


Mendengar kata nanti malam membuat otak Wira traveling kemana-mana, ia menggelengkan kepalanya wajahnya justru tampak memucat bertambah grogi. Ada apakah gerangan?


"Daddy ayo kita makan.."seru Axel menepuk paha David.


"Let's go Son.."sahut David


Deni dan Mega tampak sibuk menyapa beberapa tamu undangan yang hadir. Begitu pula dengan Surya dan Annisa di sertai Aurell yang tampak cantik dengan gaun bak pirncess kecil, mereka tampak begitu serasi layaknya kekyarga yanh bahagia, Papa Surya terlihat lebih muda dari usianya, aura kebahagiaan begitu terpancar di wajah pria itu. Istrinya mengurus dirinya dengan baik mungkin.


Tidak jauh dari itu Dino menggandeng mesra pinggang Tia, sesekali ia akan mengecup mesra pipi Tia, lalu akan di balas cubitan oleh Tia. Dasar Dino tidak tau malu,,ehh


"Nanti malam ya.."Bisik Dino tepat di telinga Tia membuat bulu kuduk Tia meremang, sebelum Tia menjauh dari jangkauannya ia mengedipkan sebelah matanya. Tia berpamitan ke kamar Felicia, ia berniat membantu Aira membawa Felicia ke pesta.


Sekian menunggu lama calon pengantin wanita tiba dengan di gandeng oleh Aira dan Tia. Felicia tampak begitu cantik dengan gaun putih serta hiasan di sanggul rambutnya. Para tamu undangan berbisik-bisik terkagum melihat kecantikan sang mempelai wanita. Terbukti, Wira bahkan tidak mengedipkan matanya, Felicia yang di tatap Wira tersipu malu,.


Hingga Felicia telah duduk di samping Wira, Wira masih tak bergeming dari pandangannya.


"Ehem.." pak penghulu berdehem, membuat Wira mengalihkan pandangannya. Tidak sedikit para tamu yang terkekeh melihatnya.


"Bisa kita mulai Tuan.."


Wira mengangguk, "Silahkan..", seru Wira dengan wajah datar.


Deni tiba duduk menghadap Wira, ia akan menikahkan putrinya sendiri dengan di dampingi penghulu. Lalu di sebelahnya keluarganya duduk berdekatan, menjadi saksi pernikahan keduanya.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Wira Sanjaya Bin Bapak Sanjaya, dengan putri saya yang bernama Felicia Adinata dengan mas kawin berupa uang tunai senilai dua ratus juta beserta kalung emas seberat dua puluh lima gram di bayar tunai.." Deni menjabat tangan Wira.


"Saya terima nikah dan kawinnya Felicia Adinata binti Deni Adinata dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.."Dengan satu tarikan nafas Wira dapat mengucapkan ijab kabul dengan lantang.


"Sah..."seru semua para saksi.


Wira dan Felicia menarik nafas lega, Wira melirik Felicia sejenak kedua saling memberikan senyum tipis. Selesai Ijab sang photografer meminta Felicia untuk menjabat tangan Wira, lalu Wira memberikan kecupan singkat di dahinya. Wira mengikuti perintah itu, meski ia merasa sedikit gemetar.


Wira dan Felicia berjalan menghampiri Deni.


"Papa terimakasih aku..."Entah apa yang ingin Felicia ucapkan tidak mampu ia keluarkan ia terlalu terharu dengan keadaan ini.


"Kemarilah nak.."Deni merentangkan tangannya membawa Felicia ke dalam pelukannya. Ia memberikan kecupan singkat di pucuk rambut sang putri.


"Jadilah istri yang patuh pada suamimu, Papa lega sekarang ada yang menjagamu.."tutur Deni dengan mata berkaca-kaca.


Melepas pelukannya Deni menatap Wira, sejujurnya Wira masih merasa canggung, "Aku percayakan putriku padamu. Pengabdianmu pada keluarga kami aku rasa cukup untuk membuktikan segalanya. Kemarilah.."tutur Deni ia memeluk Wira sambil menepuk pundaknya.


"Terimakasih Tuan.."ucap Wira saat pelukan keduanya terlepas.


"Papa, mulai hari ini kau harus memanggilku Papa.."

__ADS_1


Wira mengangguk, "Baiklah Papa.."


Setelah keduanya di minta untuk menandatangani surat-surat pernikahan.


⚘⚘


Felicia dan Wira berjalan menghampiri Mega,


"Mama.."panggil Feli


Mega menyeka kedua sudut matanya yang basah ia terharu sangat bahagia, "Mama masih ingat bagaimana masa kecilmu, tidak menyangka waktu begitu cepat berjalan, sekarang kau bahkan sudah menikah, dan sebentar lagi kau akan memiliki keluarga."


"Selamat sayang, semoga bahagia selalu menyertaimu. Jadilah istri yang berbakti pada suamimu."sambung Mega


"Mama terimakasih.."Felicia memeluk Mega.


Mega bergantian memeluk Wira, "Mama percayakan Felicia padamu nak. Jaga dan bahagiakan dia.."


"Iya ma.."jawab Wira


(Jadi ingat bagaimana dulu pas nikah😂😂)


Kini Felicia dan Wira di bawa ke ruang ganti untuk istirahat sejenak sebelum ke sisi pakaian selanjutnya.


"Kak.."


"Hem.."sahut Wira sambil berpura-pura memainkan ponselnya, padahal ia sedang sangat gugup.


"Apa kau lelah.."tanya Felicia


Feli mengerucutkan bibirnya kesal sedari tadi hanya ia yang bertanya dan Wira hanya menjawab dengan satu kata dengan muka datar tanpa expresi. Wira mengambil minum di atas meja, ia merasa tenggorokannya kering.


"Kak, kau inginnya bulan madu di mana.."tanya Felicia


Uhuk.. uhuk.. Wira langsung tersedak mendapatkan pertanyaan Felicia. Felicia mengambil tisu lalu mendekatkan pada Wira mulai membersihkan pakain Wira yang sedikit basah. Wira dapat melihat bagaimana cantiknya paras Felicia hembusan nafasnya yang begitu kuat, aroma tubuhnya, pusatnya ia melihat ke arah bibir ranum milik Felicia entah kenapa ia merasa tergoda untuk mencicipinya sedikit mungkin sekedar mengecup sekaligus **********.


"Apa aku mengejutkanmu kak, maafkan aku kak.."lirih Felicia, ia merutuki mulutnya yang selalu ceplas ceplos asal bicara. Tapi itukan jujur.


Wira masih terdiam melihat dan mengamati setiap pergerakan bibir Felicia. Wira memegang pergelangan tangan Felicia yang tengah membersihkan noda di pakaian Wira, Felicia merasa terkejut saat Wira menghentikan gerakannya ia berfikir jika Wira akan marah. Salah menduga, dengan gerakan perlahan Wira menundukan wajahnya mendekatkan bibirnya pada bibir Felicia. Felicia sudah tau apa yang akan terjadi, ia memejamkan matanya.


Ceklek.. pintu terbuka mengejutkan keduanya.


"Ya ampun pesta kalian bahkan belum usai, tapi kalian sudah tidak sabar. Bersabarlah tunggu nanti malam Kak Wira.."cerocos Dino tanpa dosa.


Felicia mencebik bibirnya kesal gagal kan merasakan ciuman dengan suaminya,


Wira menggaruk tengkuknya, ia bangkit dari tempatnya menuju kamar mandi, "Aku akan mengganti pakaianku.."


"Kau mengganggu saja.."cebik Felicia kesal. Dino mengerutkan keningnya, ingin rasanya tertawa, bagaimana melihat wajah Felicia yang kesal tapi melihat rona malu di wajah Wira. Kok jadi kebalik ya, pikir Dino.


⚘⚘⚘


Kini Felicia dan Wira sudah kembali bergabung di pesta. Banyak tamu dan rekan kerja serta teman-teman Felicia yang meminta berfoto dengannya.

__ADS_1


"Feli, bisakah meminta suamimu untuk tersenyum sedikit, agar fotonya terlihat cantik.."Seru Dea


Felicia mencebik kesal, "Tidak bisa. Suamiku hanya boleh tersenyum padaku. Kalau fotonya jelek itu terserahmu.."


Wira yang mendengarnya tanpa sadar menarik sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman tipis, ada rasa senang saat Felicia mengatakan hal itu.


Aira tengah menikmati berbagai hidangan yang ada ia mencicipi segala menu yang tersedia, dari mulai pojok kanan hingga pojok kiri.


"Kau di sini? sedang apa..? aku mencarimu."tanya David mendudukan dirinya di sebelah Aira.


"Memangnya kau tidak lihat jika aku sedang makan.."seru Aira dengan kesal.


David menganggukan kepalanya ia memilih diam mengamati dan menemani setiap pergerakan Aira ketika mencona bernagai menu. David meneguk ludahnya kasar.


"Sayang, apa kau tidak sakit perut. Sedari tadi kau sudah makan, ayo berhentilah. Papa mengajak kita untuk berfoto keluarga.."tutur David selembut mungkin.


Aira menatap tajam David, "Kenapa kau melarangku makan, aku belum kenyang. Kalau kau tidak suka pergilah sana. Bikin kesal saja. Dasar Direktur pelit.."


David tergelak akan ucapan Aira, "Direktur pelit.."ulang David.


"Ya kau memang pelit, kau menyuruhku berhenti makan karena takut aku menghabiskan semuanya kan.."


"Bukan, maksudku.."


"Diam, aku sedang kesal denganmu tidak mau bicara denganmu.."


"Apa aku melakukan kesalahan.."tanya David


Aira menggeleng


"Lalu.."


"Pokoknya aku sedang ingin marah padamu, karena melarangku banyak makan.."


"Mommy.."Axel datang, wajah Aira yang semual seperti harimau kelaparan menjadi berbinar.


"Ya, son.."


"Mommy sedang apa..?"tanya Axel


"Wisata kuliner.."serunya, David tergelak.


Jika ada yang mendengar segala ucapan Aira tadi tentang dirinya yang menyatakan dirinya direktur pelit pasti akan tertawa, Aira ada-ada saja padahal apapun yang ia minta sebisa mungkin David akan memberinya, asal jangan meminta bulan dan bintang saja, eh .


⚘⚘⚘


13000 kata lho..


Jangan lupa kadonya ya😊😊


like dan komennya juga..


ucapkan selamat untuk Bang Wira dan Neng Felicia..😊

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2