Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
Apa Daddy takut..


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, sesuai dengan janji David sebelumnya ia akan membawa Axel pergi ke taman bermain.


Dufan menjadi pilihan yang tepat bagi Axel dan Aira, mereka memilih tempat yang terdekat saja. David pun dengan senang hati memenuhinya, ingin menghabiskan waktu buat Aira dan Axel, David memlih menyetir mobil sendiri.


Binar bahagia terpancar dari wajah Axel, anak itu terus berceloteh panjang lebar. David menanggapinya dengan senyuman, terkadang pula ia akan menjawab jika memang di perlukan.


"Axel Daddymu sedang menyetir jadi jangan banyak bertanya.."ucap Aira


Axel cemberut.


David tersenyum, "tidak apa-apa Aira, biarkan saja.."


Akhirnya Aira membiarkan saja Axel terus berbicara.


Singkat cerita kini mereka telah sampai di tempat tujuan, David bersiap untuk turun dari mobilnya. Namun Aira mencegahnya.


"Ada apa..?"tanya David


Aira memberikan kaca mata hitam beserta masker, "ini pakailah.."


"untuk apa..?"


Aira terkekeh, "Melindungimu untuk gosip yang tidak mengenakan. Jangan lupakan statusmu, di luar sana pasti banyak orang yang mengincar berita burukmu.."


David terkekeh, "Jadi maksudmu pergi denganmu dan Axel adalah berita buruk."


David menggeleng, "simpanlah aku tidak memerlukannya, aku tidak masalah dengan berita apapun nanti.."


"Tapi David.."


"Sudah diamlah, ayo turun..."


"Ayo son.."ajak David pada Axel


"Let's go Daddy.."sahut Axel.


David bisa saja membooking seluruh wahana ini sementara untuk Axel, namun Aira mencegahnya ia tidak mau Axel di buat manja. Ya sudah David mengikuti perintah Aira, anggap saja ini kencan pertama, eh maksudnya liburan pertama.


"Jangan meminta untuk menaiki wahana yang exstrim ya, Daddy tidak akan mengijinkannya.."ucap David pada Axel


"Apa Daddy takut.."tanya Axel,


"No, mana mungkin.. Daddy hanya.."ucapan David terhenti kala mendengar tawa Aira yang meledak.


"Kenapa tertawa.."tanya David


"lucu saja, masa seorang Direktur Adinata Group takut menaiki wahana exstrim.."ejek Aira


David merasa tertantang akan ucapan Aira, "kata siapa, aku tidak takut.."


"Nanti sebelum itu kita coba wahana lain.."sambungnya


Aira hanya mengangguk, David kembali menggendong Axel.


"Turunkan, dia sudah besar. Biarkan dia berjalan, jangan memanjakannya.."ucap Aira pada David


"kau iri ya, apa kau maunya kau yang aku gendong.."goda David


Aira menghela nafasnya, sungguh tidak lucu bukan mendengar David menggoda dirinya. "terserah lah.."


David terkekeh, "biarkan aku memanjakannya untuk hari ini."seru David


Aira mengangguk pasrah. Jika orang yang melihat pemandangan itu tentu mereka akan terkesan, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. David kembali berjalan pilihan pertama jatuh wahana turangga (komedi putar).


Pandangan Aira tidak lepas dari wajah bahagia Axel. Apakah sudah saatnya Aira memutuskan untuk menerima ajakan David menikah, bukankah David sudah menunjukkan keseriusannya. Jika berbicara mengenai cinta, tentu cintanya Aira pada David bahkan lebih besar dari cinta David untuknya. Aira jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria yang menyewa dirinya, padahal jika difikir dulu setiap kata yang meluncur dari mulut David terdengar tajam, namun anehnya justru hal itu yang membuat Aira terpesona padanya, David terlihat tampan dan berwibawa saat itu. Bahkan berpisah lima tahun tidak membuat perasaan Aira memudar begitu saja, rasanya cinta itu begitu kuat tetanam dalam hatinya, Aira hanya merasa kecewa pada pria itu.

__ADS_1


"Kau melamunkan apa..?"tanya David kini mereka sudah turun dari wahana itu.


Aira tersentak kaget, "tidak ada.."


"Aku fikir kau sedang berfikir untuk mempertimbangkan ajakan menikah denganku.."serunya


Aira terdiam, bagaimana ia bisa tahu, gumamnya


"Jangan terlalu di bikin beban, nikmati hari ini tanpa beban apapun oke."seru David


Aira mengangguk,


"Daddy aku ingin naik itu..."ucap Axel menunjuk wahana permainan lainnya.


David pun mengangguk menuruti permintaan Axel, "Oke son hari ini milikmu, jadi Daddy akan menuruti kemauanmu.. ayo.."


David menuruti segala kemauan Axel yang mencoba berbagai wahana yang ada di sana, mulai dari komedi putar, sampai wahana happy feet Dufan.


"Daddy, Mommy naiklah wahana itu sebelum pulang.."tunjuk Axel pada sala satu wahana yang cukup exstrime wahana Hysteria Dufan.


Mata David membulat sempurna, "Tapi son itu.."


"ayolah Daddy kau bilang kau tidak takut.. Naiklah bersama Mommy aku akan menunggu di sini."ucap Axel


David memandang Aira, Aira mengedikkan bahunya. "Tenang saja aku aman, aku akan menunggu di sini. Daddy bisa menitipkanku penjaga.."


"Baiklah.."David pasrah.


David dan Aira menaiki wahana itu, wahana yang seolah-olah dilemparkan ke atas dalam waktu seperkian detik kemudian kembali di lemparkan kebawa dengan sangat cepat. Hal ini terus di lalukan secara berulang-ulang.


"Aira bantu papah aku.."ucap David


"Kau kenapa?"tanya Aira melihat wajah David yang pucat.


"Kepalaku pusing sekali, aku juga mual.."ucapnya


"Jangan mengejekku atau menertawakanku. Kau tau aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Tapi aku tidak ingin membuat Axel kecewa.."ucap David


Aira mengerti, ia pun membantu memapah David.


"Daddy kenapa..?"tanya Axel dengan polos.


"Daddy baik-baik saja, ayo kita pulang.."ucap Aira


Aira membantu David ke mobil, "Kenapa kau tidak menempatkanku di kursi kemudi.."


"Kau fikir aku akan membiarkan kau menyetir dalam keadaan seperti ini, aku tidak ingin cepat."cetus Aira


"Memangnya kau bisa menyetir.."Tanya David


Aira mengangguk, "Pusing sekali kepalaku, ini lebih pusing di bandingkan aku harus menghadapi sepuluh klien perusahaanku.."seru David


Aira terkekeh, "ternyata kau norak juga.." sedetik kemudian ia menutup mulutnya.


"Ya karena memang ini baru pertama aku menaiki wahana seperti ini, sebelumnya mana pernah ada waktu bermain."jelas David dengan lemah


"sudah tidurlah, jangan terus bicara aku sedang menyetir.."ucap Aira


"Daddy maafkan Axel, coba tadi Axel tidak memaksa Daddy pasti tidak akan seperti ini"ucao Axel dengan sendu.


"No sayang, ini Daddy saja yang lemah. Jangan merasa bersalah oke. Daddy baik-baik saja.."ucap David.


Axel mengangguk mengerti.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


Sebuah mobil Mercy tiba di depan rumah Aira. Dino mengetuk pintu rumah Aira. Tidak lama pintu terbuka Tia membukakan pintu dengan membawa sapu. Kebulan Tia memang sedang menyapu lantai.


Dino tersenyum membuat Tia canggung.


"Tu.. tuan Dino ada apa..?"tanya Tia, ia terlihat salah tingkah karena Dino terus melihat ke arahnya.


"Axel dan Nona Aira tidak ada di rumah, mereka sedang pergi.."sambung Tia


"Aku tau.."jawab Dino cepat


"Lalu.. Tuan kesini mau apa..?"tanya Tia


Dino berdecak kesal saat Tia tidak mengerti juga, Haruskah aku menciumnya dulu baru ia mengerti, gumamnya.


"Gantilah pakaianmu aku akan mengajakmu pergi..."perintah Dino


"Kemana Tuan, aku tidak..."ucapan Tia terhenti kala Dino mendorong Tia masuk, lalu berbisik


"Ganti, atau mau ku cium dulu baru ganti.."bisiknya membuat rona merah muncul di wajah Tia.


Tia langsung berlalu ke kamar dan ganti, "Kenapa harus di ancam baru menurut."seru Dino


"Tuan kita mau kemana.."tanya Tia saat dalam perjalanan


"nonton, kau belum pernah menonton kan.."ucap Dino


"Sudah.."sahut Tia, Dino langsung menginjak rem mobilnya.


"Dengan siapa? katakan.."tanya Dino


Tia mengernyit heran, "Axel lah.." jawabnya membuat Dino menghela nafas lega dan kembali menjalankan mobilnya.


"Nonton dimana..?"


"Di rumah, memang di mana lagi.."sahutnya,


"Maksudku nonton di bioskop Tia, bukan nonton Tv.."seru Dino


"Tuan hanya bilang nonton kan, tidak menjelaskan nonton bioskop jadi salahku di mana.."tanyanya dengan polos


Dino menghela nafasnya, iya juga ya, pikirnya


"Bisakah kau ganti panggilanmu, aku geli mendengarnya. Apa kata orang saat kita nonton kau malah memanggilku Tuan.."ucap Dino


"Tuan mau di panggil apa.."tanya Tia


"Apa saja, asal jangan Tuan.."


"Bos Dino.."ceplosnya


Dino berdecak, "itu sama saja, tidak mau.."


Tia kembali berfikir, "kalau Mas Dino bagaimana..?"tanyanya sedikit ragu


Dino melirik ke arah Tia, lalu mengangguk, "Ya itu lebih baik.."


"Baiklah aku akan memanggilmu mas Dino.."


Dino tersenyum tipis,


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Part ini manis-manis lah..πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa like, komen, hadiahnya. dan votenya hari senin tiba, boleh bagi yang punya tiket vote bagiin😊. Makasih..πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2