
Malam itu merupakan malam yang kacau untuk Wira, menyesal ia tidak dapat mencegah Felicia pergi. Karena ketidak keterbukaan dirinya pada sang istri, kini justru ia harus di tinggal pergi.
Pukulan di perut yang Felicia berikan berhasil membuat ia merintih kesakitan, entah karena memang seharian ini nafsu makannya tidak baik, ia melupakan waktu makannya, pada akhirnya kini perutanya sangat sakit. Wira mengutuk dirinya yang begitu tak berdaya, harusnya ia mampu mengejar Felicia dan mencegahnya pergi. Dalam diam Wira menitikkan air matanya.
Ingataannya melayang akan ucapan Felicia, Wira menangis. Benar harusnya ia tidak mengikatnya dalam pernikahan jika pada akhirnya ia membuatnya terluka, meski ia mencintainya namun ia tidak dapat membuatnya bahagia, masa lalu yang begitu suram telah menghancurkan masa depannya.
🌷🌷🌷
Pagi ini Wira datang ke kantor dengan keadaan yang begitu kacau, pikirannya kalut, penampilannya berantakan. Banyak karyawan kantor yang berbisik-bisik membicarakan dirinya namun Wira bersikap acuh.
Baru semalam Felicia meninggalkan dirinya, Wira benar-benar merasa kehilangan, bayang-bayang tubuh Felicia saat berada di apartemen selalu terlintas di kepalanya.
"Kak Wira bangun bukankah kakak harus ke kantor, aku berangkat kampus duluan ya.."
"Kak Wira aku sudah siapkan air hangat, bangun mandilah.."
"Sarapannya ada di meja ya kak.."
"Bajunya sudah aku siapkan di atas ranjang ya."
"Sudah ku katakan jangan berantakan, kenapa kau membuat kamar kita berantakan begini.."
Begitulah ocehan Felicia setiap harinya, tidak bisa di pungkiri ocehan Felicia setiap harinya sudah bisa menjadi nyanyian sendiri untuk Wira. Wira meremas rambutnya, kenyataamn ia memang sama sekali tidak bisa kehilangan Felicia.
Tok.. tok..
"masuk.."
"Tuan Wira anda di tunggu Tuan David di ruang rapat ,anda di minta membawa laporan kerja sama dengan Daniel Company.."ujar Novi
"Baiklah.."
🌷🌷🌷
Rapat pagi ini di mulai dengan di pimpin pleh David. Wira berusaha fokus namun tetap saja gagal.
"Dimana berkas yang ku minta Wira..."tanya David
"ini Tuan.."seru Wira memberikan berkas yang berada dalam map.
David pun menerimanya, lalu ia membukanya keningnya mengkerut, kemudian ia beralih menatap penampilan Wira.
"Ada apa denganmu Wira, saya meminta apa kau mengambilnya apa.."tegur David
"Saya akan mengambilnya lagi Tuan.."Wira bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak perlu, kau duduklah kembali.."perintah David.
"Rapat pagi ini kita tunda, Novi tolong kau atur jadwalnya kembali.."perintahnya pada sekrstaris.
"Baik Tuan.."
__ADS_1
"Kalian boleh pergi, dan kau Wira tetaplah di sini.."
Sepeninggal para staff kantor, David kembali menundukan dirinya di kursi.
"Apa ada yang kau ceritakan padaku Wira.."tanya David
Wira menggeleng, "Tidak ada Tuan,,"
David menghela nafasnya, "Kita bicara layaknya seorang kakak dan adik, jangan anggap aku atasanmu kali ini. Ada apa? penampilanmu dan pikiranmu sedang tidak singkron hari ini, kau tidak pernah seperti ini Wira.."
"Feli..."lirih Wira
"Aku sudah menduga kau ternyata punya masalah pribadi, pagi ini Mama menelponku dia bilang Felicia semalam pulang sambil menangis, yang lebih parahnya dia membawa koper miliknya,"tutur David, Wira tergelak.
"Aku tidak akan bertanya apa masalah kalian, saat aku sudah memberikan restu padamu dan Felicia, saat itu juga aku sudah sepenuhnya percaya padamu Wira. Salah paham dalam rumah tangga itu biasa terjadi, tapi jika kau biarkan larut begitu saja itu juga tidak baik Wira, kau bisa kehilangan dirinya.."David berbicara seolah tau isi permasalah rumah tangga Wira dan Felicia.
"Lalu aku harus bagaimana, Felicia membenciku.."
"Ikuti kata hatimu Wira, jika kau cukup cinta padanya maka pergilah dan jelaskan apa yang terjadi, jika memang kau tidak mencintainya maka bersiaplah untuk kehilangan.."
Deg.. Wira menatap David sejenak, ia menggelengkan kepalanya.. Tidak, ia tidak siap jika harus kehilangan Felicia.
"Kejujuran dan keterbukaan dalam rumah tangga itu perlu Wira. Entah bagaimana hasilnya , kau tetap harus berkata jujur padanya,..."
Wira bangkit dari tempat duduknya, "Aku pergi, terimakasih sarannya.."
David tersenyum tipis melihat Wira melenggang pergi.
🌷🌷
"Kau datang Wira.."tanya Deni yang sedang bersantai membaca koran.
Wira menghampiri Deni dan menjabat tangan Deni menciumnya, "Iya Pa, aku..."
"Papa tau, Felicia ada di kamarnya, pergi dan temui dia. Sejak semalam ia belum makan apapun. Papa tidak akan ikut campur masalah rumah tangga kalian, Papa yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik.."tutur Deni dengan bijak.
"Baik Pa.."
Wira melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga, ia sudah bersiap dengan segala resiko apa yang akan ia tanggung nantinya.
🌷🌷
"Nila sudah ku katakan aku tidak ingin makan apapun, pergilah dan bawa kembali makanan itu.."ucap Felicia, wanita itu terlihat kesal ia sedang duduk di ranjangnya membelakangi pintu.
"Tapi Nona.."
"Ku bilang pergi, kenapa kau banyak membantah, ..."teriak Felicia.
"Baik Nona.."
Nila berlalu pergi dari kamar Felicia,
__ADS_1
"Nila ada apa..?"tanya Wira
"Sejak semalam Nona menolak semua makanan yang kami bawa Tuan.."
"Berikan padaku, biarkan aku yang memberikannya.."seru Wira
Nila pun memberikannya pada Wira. Wira kembali melangkahkan kakinya.
Tok.. tok..
"Sudah ku katakan aku tidak ingin makan apapun Nila, pergilah jangan ganggu aku.."cetus Felicia
"Boleh aku masuk.."ucap Wira
Felicia terkejut ia seperti mengenali suara itu, ia pun memutar tubuhnya,
"Kau..."tunjuknya, Wira tersenyum tipis.
"Untuk apa kesini, pergilah.."sambungnya
Wira melangkahkan kakinya hendak mendekati Felicia, "Jangan mendekat,.."ucap Felicia
Wira menghela nafasnya, ia meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja di kamar Felicia itu.
"Feli dengarkan kakak. Ayo kita pulang.."ajak Wira
"Tidak akan, aku ini bukan istrimu.. Kau bahkan tidak mencintaiku sama sekali. Ceraikan saja aku kak.."teriak Felicia
Deg.. Wira terkejut mendengar ucapan Felicia. Tapi ia tau saat ini Felicia sedang marah.
"Pergi kak, aku bilang pergi.. kenapa masih di sini.."Felicia mengambil bantal dan melemparkanya pada Wira.
Wira tidak menghindar, "Hiks.. hiks.. kau begitu jahat padaku kak.."Felicia kembali menangis terisak, Wira yang melihatnya pun merasa terluka, ingin sekali ia mendekat dan merengkuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Tapi ia tidak dapat melakukan hal itu, atau Felicia akan kembali marah padanya.
"Jangan menangis Feli, ku mohon.."pinta Wira
"Aku menangis karena dirimu bodoh. Sudah ku katakan pergi kenapa masih di sini."ucap Felicia, Wira membiarkan Felicia menangis meluapkan segala kekesalannya.
"Aku akan pergi setelah aku menjelaskan sesuatu padamu Feli, dan kau boleh mengambil keputusan apapun setelah ini. Aku akan mengabulkan apapun keinginanmu.."tutur Wira ia berjalan mendekat.
"Jangan mendekat.."
Wira menghela nafasnya, "Baiklah aku bicara dari sini saja.."
Wira menjatuhkan dirinya di lantai, badannya ia sandarkan di pinggir ranjang Felicia.
🌷🌷
Ternyata masih bab selanjutnya tentang masa lalu Wira.. Sabar ya readers nanti aku ketik lagi..ckckck
jangan lupa like, komen, hadiahnya
__ADS_1
Bersambung..