
π·π· Boleh skip jika menurut kalian ceritanya bertele-tele, aku gak maksa baca kokπ Ku ucapkan terimakasih bagi yang masih setia membaca karyakuπ.π·π·
Wira menarik nafasnya dalam-dalam, badannya tampak gemetar, keringat dingin sudah bercucuran di dahinya. Menceritakan kisah masa lalunya sama saja ia kembali membuka luka lama, namun ia sadar apapun resikonya ia tetap harus berkata jujur pada Felicia. Memijat kepalanya yang terasa pusing, Wira mencoba mengendalikan kegelisahan dan rasa takut yang kini ia rasa.
Felicia tetap terdiam acuh air matanya jatuh mengalir, entah apa yang wanita itu rasakan kini. Rasa benci, atau prihatin atas masa lalu sang suami.
Wira menghapus sudut matanya yang basah, kemudian ia menghembuskan nafasnya.
"Kau benar Feli, aku memang jahat. Aku bukan pria yang baik, aku bahkan telah merusak dan menyebabkan adikku meninggal dunia. Adik yang selalu aku jaga dalam segenap jiwaku, namun aku yang menodainya. Aku ini pria yang hina, kotor, pecundang semua ada padaku.."tutur Wira
"Hari itu menjadi mimpi buruk untukku Feli. Entah sebuah karma atau apa, setiap aku ingin menyentuhmu bayangan wajah adik dan bibiku selalu muncul. Sebelumnya aku juga tidak ingin menikah, tapi kau ingat kejadian tentang pesta itu seseorang mengirimkan videomu pada kakakmu, kakakmu menyuruhmu untuk menikahimu, dengan sekuat tenaga aku menolaknya Feli. Hingga pada akhirnya aku melihatmu keluar dari kampus dengan keadaan kacau, entah kenapa hatiku merasa tersentuh dan sakit, aku tidak rela siapapun menyakitimu. Tanpa berfikir panjang aku menawarkan diri untuk menikah denganmu. Namun bukan rasa bahagia yang kau dapatkan, aku justru memberimu banyak luka. Aku juga tau Feli, kau selalu diam-diam menangis, hatiku sakit tapi aku tidak berdaya melawan apa yang ada pada diriku. Meski aku tidak tidur denganmu, setiap malam aku selalu menyelinap masuk ke dalam kamar, hanya sekedar untuk melihat wajahmu. Setiap aku menatap wajahmu, aku merasa sangat berdosa dan bersalah padamu", Wira menarik nafasnya dalam-dalam, ia bangkit dari tempat duduknya lalu memutar tubuhnya menghadap Felicia. Felicia memalingkan mukanya.
"Kau benar, harusnya aku tidak menjeratmu dalam ikatan pernikahan. Harusnya aku menyadari kekuranganku sendiri. Atau sebelumnya harusnya aku jujur dan terbuka padamu, tapi aku merasa takut saat kau mengetahui semuanya kau akan pergi meninggalkanku. Bukankah aku terlalu egois, tapi sekarang kau sudah tau semuanya, aku tidak akan memaksamu untuk terus bersamaku."
Wira berjalan mendekat ke arah Felicia yang terduduk lemah di pinggir ranjang, Wira berjongkok di depannya dengan rasa gemetar Ia mengulurkan tangannya berusaha menggenggam tangan Felicia, meski tidak ada respon sama sekali dari istri, wanita itu hanya memalingkan mukanya sambil meneteskan air matanya.
"Maaf.. maafkan aku Feli.."Wira mengecup tangan Felicia. Felicia dapat merasakan jika Wira menangis air matanya jatuh tepat di tangannya. Tangan Wira terangkat ke atas mengahapus air matanya Felicia.
__ADS_1
"Jangan menangisi pria bejat seperti diriku Feli, sungguh hatiku sangat sakit.."ujar Wira
Ketika tatapan keduanya bertemu Wira menatap dalam-dalam manik mata Felicia dan kedua tangannya menggenggam erat tangan Felicia, "Jika kau bertanya apa aku tidak mencintaimu ? kau salah Feli. Aku sangat mencintaimu. Aku sudah mencintaimu sejak dulu Feli, jauh sebelum aku menikahi dirimu.."
Deg.. Felicia terkejut namun ia tetap tak bergeming.
"Feli, aku tau aku terlalu egois. Bisakah kau memberi aku kesempatan kedua, aku akan mencoba memperbaiki semuanya..."ucap Wira menatap Feli dengan tatapan memohon dan sendu.
Tidak sepatah katapun keluar dari bibir Felicia, wanita itu hanya terdiam dengan pandangan kosong air matanya mengalir. Sesaat kemudian Felicia melepas genggaman tangan Wira dan memalingkan mukanya.
Hati Wira mencelos sakit, ia tau kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Wira bangkit dari tempatnya, ia menghela nafasnya.
Sebelum pergi Wira kembali menatap Felicia, "Jaga dirimu dengan baik. Setelah ini ku harap kau tidak akan menangis karena pria bajingan seperti diriku. Makanlah yang teratur jangan menyiksa dirimu sendiri.. Tetaplah menjadi Felicia gadis ceria yang ku kenal.."
Wira mengelus kepala Felicia, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kepala Felicia. Felicia semakin menangis terisak.
"Aku pergi.."
__ADS_1
Menghapus sisa air matanya, Wira segera berlalri kecil keluar dari kamar Felicia.
"Wira, kau baik-baik saja.."tanya Mega dengan cemas, setelah Wira berhasil menjajakan kakinya di lantai bawah.
Wira tersenyum manis, namun Mega tau dari senyumnya menantunya itu menyimpan luka yang dalam, "Aku baik-baik saja Ma. Aku titip Feli ya Ma. Maaf aku harus pergi.."
Wira berlalu keluar tanpa menghiraukan pertanyaan Mega selanjutnya. Memasuki mobilnya Wira meremas gagang stir kemudinya, pria itu kembali terisak. Dadanya terasa sakit layaknya di tusuk dengan jarum.
Wira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen miliknya.
π·π·π·
Felicia menelungkupkan kepalanya pada kedua lututnya, wanita itu kembali menangis terisak. Sakit kala mendengar penjelasan Wira ia masih tidak percaya, suaminya bisa melakukan hal bejat itu pada adiknya sendiri, namun tak di pungkiri ada ruang hati yang kosong saat ia membiarkan suaminya berlalu pergi meninggalkan dirinya.
π·π·
Segini dulu ya, aku lagi sedikit sibuk. Nanti kalau ada waktu senggang aku usahakan up lagi.ππ
__ADS_1
Beri like, komen, hadiahnya
bersambung..