Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
Nasehat Felicia


__ADS_3

Senja mulai menampakan dirinya, seorang lelaki paruh baya mendudukan dirinya di kursi dekat kolam renang yang berada di rumahnya. Ia menghela nafasnya kala rasa lelah bercampur sepi mulai menggrogoti dirinya.


Kilas balik kejadian beberapa hari lalu mulai hinggap dalam pikirannya. Saat di mana Mega memutuskan untuk meninggalkannya, sejak hari itu tidak pernah sekalipun ia merasa hidup tenang dan bahagia.


"Tidakkah kau mengingat tentangku Mas Deni, aku juga bukan berasal dari keluarga berada. Aku hanyalah seorang wanita yatim piatu, aku datang kepadamu tidak membawa sejumput pun harta dan tahta , aku hanya datang padamu dengan sejuta rasa cinta yang tulus untukmu. Bahkan sekalipun kau telah mengkhianatiku, hatiku tetap memilihmu, aku tetap berlapang dada menerimamu kembali, sekalipun putraku menentang semua."


"Tapi sekarang saat kau menentang kebahagiaan putraku, aku tidak mungkin tinggal diam. Tidak bisakah saat ini kau menempatkan posisi David di posisimu saat itu. Jika ayah dan ibumu mampu menerima aku sebagai istrimu, mengapa kau tidak bisa menerima Aira sebagai menantumu."


Deni meraup mukanya dengan kasar saat ia mengingat kata-keta Mega kemarin saat ia hendak menemui Mega di Villa milik keluarga, namun Mega tetap bersikekeh tidak mau pulang sampai Deni bersedia menerima Aira.


"Papa.."


Deni melirik ke sumber suara yang memanggil dirinya.


"Feli.."serunya sambil tersenyum tipis.


Felicia berjalan menghampiri Papanya dengan masih membawa tas yang berada dalam bahunya. Nampaknya gadis itu baru bebergian.


"Apa yang kau pikirkan pa..."tanyaFelicia


Deni mengedikkan bahunya, "Tidak ada.."


"Apa kau merindukan Mama.."tanya Felicia


Ia mendudukan dirinya di sebelah sang Papa, Felicia memandang jelas raut wajah sang Papa, terlihat jelas kerutan di wajahnya, menggambarkan betapa lelah dan sedih dirinya.


"Entahlah.."jawab Deni


Felicia membuka tas nya ia mengambil sebuah kartu undangan lalu ia menyodorkan pada sang Papa.


"Pernikahan Kak David dan Kak Aira akan di langsungkan besok,"ucap Felicia


Deni masih terdiam tidak sekalipun ia berniat menjawab ucapan sang putri ataupun menerima undangan itu.


Felicia menghela nafasnya, "Datanglah ke pernikahan mereka Pa, restuilah mereka. Aku tau meski kau terlihat kejam dan jahat, dari balik hatimu yang terdalam kau sangat menyayangi Kak David bukan sama seperti kau menyayangi diriku."


"Aku tau Kak David tidak pernah meminta apapun darimu, tidak pernah sekalipun ia menentang keinginanmu sekalipun kau menyuruhnya datang saat kau menjodohkan dengan putri dari para rekan bisnismu, sejak kecil kau telah menerapkan bisnis aturan ketat untuknya, hingga dia beranjak dewasa kau tetap mengendalikan hidupnya tidak sekalipun ia menolak bukan, bukankah ia terlalu sempurna untukmu Pa. Dan kini hanya karena ia mencintai wanita yang tidak sesuai keinginanmu, kau menentangnya kau menganggap ia telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Percayalah Pa, Aira wanita yang baik, kebahagiaan baik ada padanya."seru Felicia dengan mata berkaca-kaca.


"Bisakah mulai hari ini Papa melihat seseorang dari hatinya bukan dari harta dan tahta. Jika Papa sudah mengenalnya lebih dekat pad Kak Aira, Papa akan merasa beruntung mempunyai menantu seperti dirinya. Apalagi dengan kehadiran Axel, apakah Papa tidak ingin memeluk cucu kandung Papa sendiri."Tutur Felicia ia kembali membuka tasnya, mengambil selembar foto keponakannya. Nampaknya wanita yang berstatus mahasiswi psikolog itu sedang menerapkan teorinya pada sang Papa.


Felicia menaronya di atas undangan tadi. "Aku istirahat dulu ya Pa.."ucapnya sebelum beranjak meninggalkan Papa.

__ADS_1


Sepeninggal Felicia, Deni masih terdiam mencerna segala ucapan putrinya yang tampak lebih dewasa. Terkadang orang tua pun perlu mendapat nasehat seorang anak. Deni mengambil apa yang Felicia letakkan tadi di meja.


Deni membelai foto Axel yang tampak tersenyum, "Kau mirip sekali dengan putraku.."ucapnya.


Deni kembali melihat undangan itu, ia tidak berniat untuk membukanya, ia kembali memandangi foto Axel, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat hingga menggambar senyum tipis di bibirnya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Ku dengar putramu akan menikah dengan wanita itu, apa kau tidak berniat untuk menggagalkannya.."tanya Dera, saat melihat Deni handak masuk ke kamarnya.


Deni melirik ke arah Dera, "Aku rasa kau lebih baik cukup diam.."ucap Deni ia kembali melangkahkan kakinya.


"Lihatlah kehidupanmu sekarang, wanita itu bahkan bukan hanya sudah mengambil hati putramu, tapi ia juga mengambil istrimu. Lalu apa kau akan membiarkan ia menikah dengan putramu, ia bisa hidup enak sedangkan dirimu hidup dalam kesepian."ucap Dera, wanita sengaja sepertinya memancing kemarahan Deni.


Deni mengepalkan kedua tangannya, namun ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Dera tanpa jawaban apapun.


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada putramu.."Dera tersenyum sinis, ia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Berbeda keadaan di rumah Deni yang tampak sepi, namun di rumah David tampak begitu ramai.


Setelah Axel pulih David memutuskan untuk memboyong Axel dan Aira ke rumahnya, meski sempat terjadi penolakan pada Aira, tapi David tidak peduli. David bahkan sudah mendaftarkan putranya ke salah satu sekolah ternama di situ.


"Oma, kenapa oma masih di sini.. Sepertinya oma sudah ngantuk.."tanya Axel pada Mega.


"bisakah malam ini Oma tidur bersamamu.."seru Mega


"Tentu, sudah lama sekali aku menginginkan tidur bersama oma dan opa"ucapnya dengan sendu.


"Suatu hari kau juga akan bertemu opamu, percayalah.. Semua hanya butuh waktu.."tutur Mega


"Aku tau.."jawab Axel


"Anak pintar, ayo tidurlah.."Mega membawa Axel ke dalam pelukannya.


πŸŽ‹πŸŽ‹


Aira memandangi bintang yang bertaburan di langit, nampak bulan bersinar begitu terang. Tiba-tiba Aira terlonjak kaget saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya.


"Apa yang kau pikirkan.."tanya David sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, hingga menimbulkan rasa geli pada Aira.

__ADS_1


"David ini sungguh geli, hentikan.."seru Aira dengan kesal.


David pun terkekeh dan menghentikan aktivitasnya itu.


"David apa kau yakin dengan semua ini..."sambung Aira


"Maksudmu.."David melepaskan kedua tangannya dari pinggang Aira, ia berdiri di samping Aira.


"Pernikahan kita,"jawab Aira singkat


"Sangat yakin Aira.."sahut David


"Bagaimana dengan papamu.."tanya Aira dengan sendu.


David tersenyum tipis, "Hidup adalah pilihan, dan Papa berhak menentukan pilihannya sendiri.. Aku tidak bisa memaksa Papa untuk merestui pernikahan kita, namun aku tetap berharap banyak restu darinya. Selama ini aku sudah cukup menurut padanya, tapi untuk soal pendamping aku tidak bisa, semua karena masalah hati yang tidak dapat di paksa"tutur David


"Maaf.."satu kata yang meluncur dari bibir David.


David mengangkat alisnya akan jawaban Aira, "jangan katakan hal itu lagi.."ucap David


"Tapi.."


David mengangkat telunjuknya pada bibir Aira, ia menyuruh Aira untuk diam. Hingga pandangan kedua bertemu, mereka saling bertatap mendamba, David melepaskan jarinya dari bibir Aira, mata David kini menatap jelas bibir Aira, ia merasa tergoda ada sesuatu hal yang membuat ia mengingingkan lebih.


David memajukan wajahnya, hingga jarak keduanya kini begitu terlihat intim.


cup..


Berawal dari sebuah kecupan, nampaknya David belum puas, apalagi melihat mata Aira yang terpejam, David kembali ******* bibir Aira. Keduanya saling berciumana mesra saling bertukara saliva. Hingga merasa nafas Aira yang begitu sesak, Aira memukul dada David.


"Maaf..."ucap David setelah melepaskan ciumannya.


Semburat rona merah muncul di pipi Aira, lidahnya kelua ia tidak mampu menjawab.


"Angin malam tidak cukup baik untukmu, masuklah kamarmu Aira. Aku takut kembali melakukan hal lebih padamu.."tutur David, membuat Aira tersadar, Aira segera berlari ke kamarnya.


David hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Aira lari terbirit-birit,


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


πŸŽ‹πŸŽ‹Kemarin gak up kepala pusing banget, sorry..πŸŽ‹πŸŽ‹

__ADS_1


πŸŽ‹πŸŽ‹Jangan lupa like, Komen,lempar bunga apa kopinyaπŸŽ‹πŸŽ‹


bersambung..


__ADS_2