
Sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar Aira melewati celah-celah jendela kamarnya yang sedikit tersingkap kordennya. Perlahan Aira membuka matanya, lalu ia berusaha mendudukan dirinya. Ekor matanya bergerak mencari seseorang, namun ia tidak menemukan siapa-siapa.
"Aku mengerti memang akan selalu berakhir seperti ini, memangnya aku berharap apa?"serunya pada diri sendiri.
Kemudian Aira bangkit menggulung dirinya dengan selimut berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dua puluh menit kemudian Aira sudah keluar dari kamar mandinya, lalu berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakainnya.
Tidak lama saat ia tengah memperias diri, pintu di ketuk seorang pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.
"Tarohlah di situ Ina, nanti aku memakannya. Terimakasih"ucap Aira menunjuk meja kecil yang berada dalam kamarnya
Ina segera meletakkan nampan itu, "Nona tapi tuan berpesan jika Nona harus..." ucapan Ina terhenti kala Aira memotong ucapannya.
"Aku mengerti, aku akan meminumnya nanti" Serunya, apalagi yang tidak Aira mengerti jika tidak mengenai pill kontrasepsi yang selalu David berikan setelah selesai melakukan ritual panas bersama Aira.
"Baik Nona, saya permisi.."ucap Ina dengan menunduk.
"Ina..."panggil Aira menghentikan langkah Ina.
"iya Nona, ada yang bisa saya bantu.."tanya Ina setelah membalikan badannya.
Aira menatap Ina "Apa tuan David sudah pergi ke kantornya.."tanya Aira
"Sudah pagi-pagi sekali Nona.."jawabnya
Aira mengangguk mengerti setelah itu ia mempersilahkan Ina keluar dari kamarnya.
__ADS_1
πππ
Aira duduk di sofa panjang yang berada di kamarnya, sebelum mengambil makanannya Aira mengambil ponselnya yang sedari tadi berbunyi, Aira membuka ponselnya dan terkejut saat melihat nominal jumlah uang yang di transfer David.
Aira menghela nafasnya "Aku baru menyadari diriku seperti tengah menjajakan tubuhku pada seorang pria, kalau di sebut aku sama seperti seorang jalang".
Aira kemudian mengambil makanannya lalu perlahan mulai menyantap makanan itu.
"Sangat enak, tuan David memang pintar memilih koki yang handal dan pintar memasak"ucap Aira di sela-sela makannya.
Setelah makannya selesai Aira meneguk air putih yang telah tersedia dalam gelas. Lalu pandangan Aira tertuju pada sebutir obat yang tadi di bawa Ina.
"Hemz dia memang tidak akan mungkin punya anak dari seorang wanita seperti diriku"seru Aira yang masih menggengam sebutir obat itu.
Lalu di tangan kirinya ia masih menggenggam ponselnya, saat Aira ingin memasukan obat itu ke dalam mulutnya.
Aira berusaha mencari obat itu namun tidak menemukannya, namun lagi-lagi ponselnya kembali berdering.
Aira berfikir mungkin itu penting, akhirnya Aira memilih untuk mengangkatnya.
"Hallo..."sapa Aira pada sang penelepon.
"....."
"Apa...?"Aira terjekut, "Bagaimana bisa. Apa yang kalian lakukan, hanya menjaga papa saja kalian tidak becus"sambungnya sambil menahan emosi
Aira tiba-tiba merasa panik, "Baiklah tunggu aku akan segera kesana"
__ADS_1
Aira menutup telponnya, kemudian menyambar kunci motor bersama tasnya, lalu keluar dari kamar itu dengan terburu-buru.
"Aku hanya memilikimu pa. Jadi, ku mohon bertahanlah.."seru Aira yang masih berusaha menahan tangisnya.
"Aku tidak boleh lemah, papa pasti akan baik-baik saja.."sambungnya.
Aira terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
πππ
"Apa yang kalian lakukan, bagaimana akhirnya papa bisa masuk rumah sakit"teriak Aira pada mama tiri dan sudara tirinya.
"Hei dasar anak tidak tau diri, sudah syukur aku mau menjaga papamu itu."sahut Nesya sang mama tiri.
Aira mendekat dan mencengkram tangan mama tirinya dengan erat "aku sudah menuruti semua yang kalian mau bukan, gajiku habis untuk memberi kalian tapi kalian tidak becus menjaga papaku"
"Hei itu salah papa sendiri, sudah tau lumpuh kenapa memaksa jalan akhirnya ia jatuh. Aku tidak melakukan apapun ya, tau-tau dia sudah jatuh. Kau fikir aku sekejam itu bakaln mencelakai suamiku sendiri"dengus Nesya
Aira ingin sekali memakinya, namun pintu ruangan dokter terbuka. "Bagaimana keadaan papa saya dokter"
"Tuan baik-baik saja nona, dia hanya syok sedikit nanti kalau keadaannya sudah tenang ia juga akan membaik. Hanya terdapat beberap luka di lututnya kami sudah mengobatinya"jelas Dokter
"Terimakasih Dokter"jawab Aira yang di angguki oleh dokter itu.
πππ
ππJangan lupa like koment dan vote hadiahnyaπππ
__ADS_1
bersambung..