
Beberapa hari ini Wira di sibukkan dengan pekerjaan kantornya, sedangkan Felicia pun di sibukkan dengan tugas kampusnya. Felicia yang sedang menyusun skripsi. Keduanya jarang menghabiskan waktu bersama.
Tak jarang Wira kerap pulang larut lalu mendapati Felicia sudah terlelap dengan laptop yang masih menyala. Pernah juga Felicia marah karena meminta Wira menjemputnya di kampus tapi Wira tidak bisa pertemuan klien yang sudah di depan mata, gimana lagi kehamilan Aira sekarang banyak maunya, tak jarang David yang baru sampai kantor lima menit harus pulang lagi. Tampaknya baby twins nya itu sedang membalaskan dendam sang kakak dulu.
Wira mencari ide untuk merayu Felicia di internet, layaknya pria yang romantis ia pulang dengan membawa sekuntum bunga mawar merah. Dengan percaya diri ia memberikan bunga itu pada istrinya berharap Felicia tidak marah lagi padanya.
Tapi mau meleleh gimana, dasar Wira si manusia robot yang tak pandai merayu wanita. Dia datang dengan wajah kakunya.
"Feli ini untukmu.."ucap Wira, ia menyerahkan bunga itu dengan percaya diri.
Bukannya berbinar bahagia Felicia justru menatap bingung sang suami, "Apa ini.."tanyanya.
"Bunga lah, memangnya kau tidak tau jika itu bunga.."sahut Wira, dasar manusia yang tidak peka.
"Aku tau, maksudnya untuk apa kakak memberikan ini..? Apa kakak waras, kau terlihat aneh.."seru Felicia kesal, sejujurnya ia tau maksud sang suami memberikan bunga itu, tapi melihat wajah suaminya yang kaku dan tak merayunya membuat ia kesal sendiri.
"Jadi kau mau bilang aku tidak waras.."seru Wira
"Pelit..."celetuk Felicia, membuat mata Wira membulat sempurna.
"Kok bilang aku pelit.." Wira tertunduk lesu.
"Bagaimana bisa kau hanya memberikan istrimu ini setangkai bunga mawar merah ini, aku tidak suka bunga ini.."ucap Felicia
"Lalu kau ingin apa? ayo katakan.."sahut Wira
"Kau baru mendapat gaji dan bonus dari kantor tapi kau hanya memberikan istrimu ini setangkai bunga mawar merah, aku tidak mau. Aku maunya bunga deposito."celetuk Felicia.
Mata Wira mendelik, "Sejak kapan kau jadi matre begini.."
"Sejak jadi istrimu lah.."
Wira tersenyum tipis lalu berdiri memeluk Felicia dari belakang, "Bukankah gajiku hampir semua masuk ke rekening ATM yang ku berikan padamu. Ayolah sayang, kau bisa membeli apapun yang kau mau."
🌷🌷
__ADS_1
Dentingan sendok dan garpu terdengar di ruang makan. Tia terdiam tampak enggan menyentuh nasi, wajah yang lesu dan terlihat pucat, menjadi pemandangan bagi semua.
"Tia, apa kau sedang tidak enak badan nak.."tanya Annisa dengan lembut.
Tia menggeleng, "Tidak Bun, aku hanya merasa lemas saja."
"Ayo makan, Bunda ambilkan ya. Kau mau lauk apa sayang.."tanya Annisa
"Biar Dino saja Bun.."Seru Dino ia mengambil aih. Dino mengambilkan Tia nasi, sayur berserta lauknya.
Entah kenapa perut Tia serasa di aduk-aduk saat melihat nasi dan lauk telor di piringnya. Menutup mulutnya Tia segera beranjak lari ke dapur dan mengeluarkan isinya di wastafel.
Huek.. huek....
"Mual sekali.."ucapnya
Dino datang memijat tengkuk Tia, "Apa yang kau rasakan.."
"Mual.."
Tia menggeleng, "Tidak Mas, aku baik-baik saja.."
Annisa datang ke dapur dengan khawatir, "Kau mual nak.."
"Iya Bun.."
"Apa kau sudah telat datang bulan.."tanya Annisa lagi.
"Aku tidak tau Bun, soalnya jadwal datang bulanku memang tidak teratur.."
Menghela nafasnya Annisa kembali berucap, "Bunda masih ada persediaan test pack, nanti cobalah barangkali dugaan Bunda benar jika kau hamil."
"Baik bun.."
Tiga puluh menit berlalu Annisa, Dino, dan Surya sudah berdiri di kamar menunggu Tia keluar dari kamar.
__ADS_1
Ceklek..
"Bunda, ini.."seru Tia ia memberikan hasil test packnya pada Annisa.
Annisa menerima dan membacanya, senyum mengembang di bibirnya.
"Selamat sayang, ini positif. Kau akan segera menjadi ibu.. Bunda senang sekali.."Seru Annisa memeluk Tia, ia terharu matanya tampak berkaca.
"Aku akan jadi kakek Bun.."ucap Surya
"Iya pa.."jawab Annisa setelah melepas pelukannya dari Tia.
"Dan aku akan jadi Daddy,.."ucap Dino, ia memeluk Tia dan memberikan kecupan-kecupan singkat.
"Terimakasih sayang aku sangat bahagia.."seru Dino
"Aku juga.."
"Karena Tia sedang hamil Papa tidak mengijinkanmu pindah Dino.."seru Surya
"Tapi Pa, rumahku kan sudah selesai di renovasi dan siap di tempatin.."jawab Dino
"Tidak, Papa tidak mau menanggung resiko. Kau boleh menempati rumahmu setelah anakmu lahir. Biarkan di sini Bundamu yang menjaga dan merawat Tia.."tutur Surya tanpa maudi bantah.
"Benar apa katamu Dino, tinggalah di sini lagi.."sahut Annisa
"Baiklah Bun.."
🌹🌹🌹
Segini dulu ya, kalau banyak yang komentar nanti di usahakan up lagi. 😊
jangan lupa like, komentar, dan hadiahnya ya.
bersambung..
__ADS_1