
Pagi hari di kantor David di kejutkan dengan kedatangan Wira yang seperti merasa sedang gelisah.
"Ada apa?" tanya David langsung sambil meletakkan pulpen yang ia pegang. Kemudian matanya menatap datar pada Wira.
"Tuan, ada kabar buruk mengenai Nona Aira," jawab Wira.
"Apa? Maksudmu dia sakit atau apa? Jelaskan segala rinci, jangan terpotong-potong agar aku mengerti," perintah David dengan tegas.
Wira nampak menarik nafasnya. "Nona Aira saat ini berada dalam kantor polisi tuan, karena-"
"Bagaimana bisa?" David memotong penjelasan Wira.
"Nona Aira terlibat perkelahian dengan Baron yang notabennya adalah saudara tirinya. Mereka dibawa oleh warga ke kantor polisi, lantaran mereka mengira jika Nona Aira dan Baron akan melakukan tindakan senonoh di kosannya. Saat itu memang posisinya Baron sedang dalam keadaan polos setengah dada tuan," jelas Wira, sambil melihat wajah atasannya yang tampak biasa saja.
Mendengar penjelasan Wira sejujurnya ada rasa tidak terima ia merasa geram. Namun, ia tipe pria yang dapat mengendalikan emosi. "Lakukan sesuatu untuknya agar ia bebas dari sana, bagaimanapun aku masih membutuhkannya," perintah David yang di sanggupi Wira.
****
"Tuan terimakasih sudah membebaskan saya, sekali lagi maaf merepotkan anda," ucap Aira yang kini dalam mobil David. Setelah Wira berhasil menjaminnya, Aira dibebaskan, sementara Baron tetap dipenjara dengan tuduhan kasus pelecehan seksual.
David menanggapi ucapan Aira dengan hal lain. "Aku melakukan semua itu karena aku masih membutuhkanmu, kau masih ingat bukan dengan kontrak kita."
Lagi dan lagi Aira diingatkan mengenai kontrak pernjanjian, rasanya ia seperti di ingatkan agar tidak melampaui batas lalu jatuh hati pada atasannya itu.
"Tuan kita mau membawa Nona Aira kemana?" tanya Wira membuat lamunan Aira buyar.
"Aku.... Aku tidak mungkin kembali ke kosanku, aku pasti sudah tidak di terima di sana, " ucap Aira.
David tampak mengerti kebingungan Aira "Lanjutkan ke rumahku. Kau bisa tinggal di rumahku."
"Tapi tuan, saya-"
"Aku tidak terima penolakan, kau bisa tinggal di sana sampai batas kontrak perjanjian kita habis. Bukankah akan lebih enak juga jika aku membutuhkanmu kau berada dalam dekatku juga," tegas David
"Baiklah," sahut Aira
Sampailah mereka di rumah mewah, Aira di suguhkan dengan pemandangan yang indah, ada sebuah air terjun di depan rumah David menambah kesan cantik dalam rumah ini.
"Kau tenang saja, aku hanya tinggal bersama Wira saja, juga ada beberapa pelayan di sini," ucap David.
__ADS_1
"Anggaplah rumah sendiri, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa meminta pada pelayan yang ada di sini," sambung David setelah membawa Aira masuk ke dalam rumahnya.
"Terimakasih tuan," sahut Aira.
"Pelayan, tolong antarkan Nona Aira ini ke kamarnya," perintah David pada pelayan yang berada dalam rumahnya.
"Tuan bagaimana dengan kerja saya hari ini, lalu dengan barang-barang saya di kosan saya dulu?" tanya Aira.
"Kau istirahatlah aku memberi ijin untukmu hari ini, mengenai barang-barangmu Wira akan mengurusnya. Saya harus balik ke kantor, kita akan bertemu nanti saat makan malam," ucap David.
****
Malam pun tiba saat ini Aira sedang ngobrol dengan Wira asisten David, ternyata meski terlihat serius ada sisi humorisnya dari pria bernama Wira itu.
"Panggil aku Wira saja, bukankah kita sama aku bukan bosmu di sini," perintah Wira ketika Aira memanggilnya tuan ia menolak.
"Baiklah Wira. Sudah berapa lama kau bekerja dengan Tuan David?" tanya Aira sambil mengambil bantal sofa untuk ia peluk, dan duduk di sebelah Wira.
"Berapa ya? Aku lupa sudah lama soalnya," jawab Wira sambil terlihat berfikir.
"Berapa umurmu?" tanya Aira lagi, mengapa ia sangat penasaran dengan asisten tuannya itu.
"Ohh.. mengapa wajahmu begitu cantik," ucap Aira, membuat Wira tercengang.
"Kau waras bukan, aku pria mana mungkin aku cantik," decak Wira tidak terima.
"Aku tau kau pria, tapi kau itu cantik terlihat seperti perempuan. Kau cocok jadi model, hanya di poles sedikit lalu pake wig yang panjang kau pasti akan terlihat seperti perempuan," sahut Aira dengan tawanya membayangkan lelaki itu berdandan seperti apa yang ia bayangkan.
"Cih! menyebalkan aku tidak mau dibilang pria cantik," gumamnya.
Mereka terus bersenda gurau, sampai tidak menyadari kehadiran David.
"Ehem!" David berdehem mengejutkan keduanya.
"Eh tuan?" ucap keduanya spontan berdiri.
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan," ajak David.
Aira dan Wira pun mengikuti David ke meja makan, di mana di situ terlihat berbagai jenis menu makanan yang enak, membuat liur Aira hampir menetes.
__ADS_1
"Lap air liurmu ra, seperti tidak pernah melihat makanan enak saja," ucap Wira sambil menduduki kursi di depan Aira sementara David duduk di kursi sebelah Aira.
"Aku memang jarang makan enak," ujar Aira polos.
"Jika begitu makanlah apa yang ingin kau makan dengan puas, ayo nikmatilah," ucap David dengan datar.
Aira makan dengan lahap, sekali-kali David melirik ke arah Aira melihat bagaimana cara makan Aira yang begitu lahap, ia terlihat apa adanya di depan semuanya.
"Kau seperti tidak pernah makan setahun saja Aira" ucap Wira.
"Wira, diamlah saat sedang makan," perintah David.
Aira yang semula mau menjawab omongan wira pun mengurungkan niatnya.
****
Setelah makan malam selesai David pun mengetuk pintu kamar Aira.
Tok! tok! tok!
Ceklek! Pintu terbuka
"Tuan? Ada apa tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aira sambil mengernyit bingung.
Sementara David menatap Aira dengan datar, lalu pandangannya mulai melihat penampilan Aira yang saat ini menggunakan piyama berwarna kuning, entah apa yang ia rasa ia hanya terdiam saja.
"Tuan?" panggil Aira membuyarkan lamunan David
"Oh ya, ini." David memberikan paper bag pada Aira.
"Apa ini tuan?" tanya Aira setelah menerima pemberian David
"Gaun, besok malam temani aku datang ke pesta rekan bisnisku, dan pakailah itu," ucap David.
"Tapi tuan gaun kemarin saja masih banyak yang belum terpakai, mengapa tuan harus membelinya lagi," seru Aira.
"Anggap saja buat nambah bahan koleksimu, aku permisi," sahut David dengan datar.
Aira menutup pintu kamarnya, lalu membuka paper bag itu melihat isinya, gaunnya sangat bagus memang, lalu ia melihat bandrol harga gaun itu membuat ia tercengang.
__ADS_1
Sayang sekali uang segini banyak hanya untuk membeli satu buah gaun. Buang-buang uang saja.