
Felicia mematut dirinya di cermin lalu Wira datang melingkarkan kedua tangan kekarnya di perut istrinya.
"Udah cantik, ngapaian ngaca mulu.."celetuk Wira
"Tau kok kak. Ini tangannya minggir dulu lah kak. Geli tau kak ngapain kepalanya pake nyusup-nyusup di leher. Aku gak mau ya kakak buat tanda di sana..."sahutnya
Wira terkekeh, "Gak ikhlas banget aku Fel. Ngapain harus cantik-cantik, kan jadi males berangkat.."
"Lalu.."
"Jadi pengen membawamu bergelung dalam selimut aja.."
Felicia langsung mencubit pinggang suaminya, "Dasar mesum, urusan begitu aja nomor satu. Ingat aku lagi hamil kak.."
"iya tau, mangkanya itu aku sekarang sering puasa.."
Felicia terkekeh, "Gak ada yang kurang kan kak penampilan aku.."
Wira melepaskan kedua tangannya, "Enggak. Terlalu cantik malah, dih kalau bukan karena kakakmu berhalangan gak mau lah kakak bawa kau ke pesta.."cebik kesal, David berhalangan untuk hadir karena sore tadi tiba-tiba baby Aileen demam, untuk itu David menyuruh Wira untuk mewakilinya. Toh dulu sebelum ada Aira, David selalu bersama Wira ke pesta manapun, jadi para rekan bisnisnya sudah tau siapa Wira. Apalagi kini pria itu juga menantu dari keluarga Adinata.
"Kenapa..?"
"Gak ikhlas liat wajahmu di liat banyak orang.."ucapnya dengan kesal.
"Cemburu ceritanya.."
"Enggak.. Emang ada sejarahnya seorang Wira cemburu.."
"Adalah, kemarin siapa yang bilang takut mati lalu aku nikah lagi.."sahut Felicia
Wira menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Aku suka geli sendiri liat tingkahku kemarin itu Fel. Kerasukan setan apa kemarin ya.."
"Setan Wira lah.."Celetuk Felicia
"Apalagi di kantor Fel, kadang-kadang tiba suka minta makanan yang aneh-aneh, office boy yang aku perintahkan suka bingung. Kalau gak di turutin aku bakal mual dan gak bisa kerja. Putri kita luar biasa ya...."ujar Wira menyentuh perut Felicia yang masih rata.
"Putri.."seru Felicia
"Heem, gak tau kenapa aku merasa dia perempuan.."
"Tapi aku ingin anak laki-laki, yang pintar kaya Axel.."celetuk Felicia
"Ya udah nanti kalau dia udah lahir kita buat lagi sampai mendapatkan anak laki-laki.."ujar Wira
"Ish itu maunya kamu lah kak. Belum juga lahir udah buat rencana aja. Dasar pria..."decak Felicia kesal.
"Dasar wanita, bilang gak mau juga menikmati.."sindir Wira, Felicia mengerucutkan bibirnya kesal, suaminya itu paling bisa mengembalikan fakta.
"Ayo berangkat,"ucap Wira
🌹🌹
Mobil mercy tiba di loby utama hotel bintang lima. Wira keluar mengitari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Felicia.
"Ayo.."Ucapnya,
Keduanya berjalan berdampingan, Wira memberikan kunci mobilnya pada penjaga untuk memarkirkan mobilnya.
Masuk ke dalam menuju pesta, keduanya berjalan menuju lift menuju lantai lima di mana pesta pernikahan itu berada.
"Hati-hati lho langkahnya gak boleh cepat-cepat.."ucap Wira, nah kan mulut crewetnya mulai lagi, Felicia memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
Ting.. pintu lift terbuka.
Melangkahkan kakinya keluar, Felicia terpengarah akan pesta pernikahan mewah itu.
"Pengantinnya sangat serasi, cantik dan tampan.."ucap Felicia dengam berbinar.
"Bisanya muji pria lain di depan suami, emangnya aku kurang tampan apa Fel.."decak Wira kesal, nah mulai lagi kan sifat ngeselinnya. Sejak Felicia hamil Wira justru sering uring-urungan, jika Felicia salah bicara sedikit saja Wira ngambek. Mirip wanita yang lagi PMS.
"Tentu saja, suamiku jauh lebih tampan.."ralat Felicia.
"Begitu lebih baik, aku sudah memujimu cantik, tapi sejak tadi kau bahkan tidak memujiku tampan.."serunya, membuat Felicia tergelak tak percaya, sejak kapan suaminya itu haus akan pujian, padahal dulu jika Felicia memuji Wira akan bersikap cuek.
Felicia mengelus perutnya, 'Nak jangan buat Daddymu aneh begitu, Mommy jadi geli kan. Salah bicara tamat riwayat Mommy nak..'
Terlihat di sana tamu begitu menikmati pesta itu, dua mempelai pengantin tampak duduk di pelaminan sembari menerima ucapan selamat.
Salah satu rekan bisnis Darren pun juga ada Nanda datang bersama Yuna, yang Wira ketahui wanita itu merupakan sekretarisnya. Juga Tristan yang datang bersama Nada istrinya. Merupakan begitu kompak dan terlihat bahagia. Tidak lupa pula Davis dan Nadilla.
Felicia tiba-tiba terkikik geli.
"Ada apa..?"tanya Wira ia kembali meletakan minumannya.
"Lihat saja pria itu yang terus menempel pada wanitanya namun berkali-kali wanitanya menepis tangan sang pria.."tunjuk Felicia
Keningnya mengkerut, "Oh Nanda dan Yuna.."
"Kau mengenalnya.."
"Tentu saja dia putra dari Tuan Alan, rekan bisnis kakakmu juga.."
"Lalu apa yang di bawa itu kekasihnya.."
"Setahuku bukan, dia sekretarisnya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga jika mereka me jalin hubungan.."jelas Wira
"Bolehkah aku mengelus pipinya, kak.."ucap Felicia membuat Wira tergelak, ia tidak salah mendengar kan.
"Gak..."jawab Wira cepat dan singkat.
"Demi baby lah kak, ntar ileran lho anakmu.."jawab Felicia sambil mengelus perutnya.
"Gak ikhlas aku Fel. Tega bener sih.."cetus Wira, mulai mode cemburu dan kesal.
"Dokter bilang kan aku yang ngidam, kau pasti bohong kan pura-pura pengen mengelus pipi pria lain dengan alasan baby.."sambungnya
"Memangnya kau saja yang bisa ngidam aku kan juga bisa.."ucap Felicia tak mau kalah,
"Minta yang lain aja lah Fel.."seru Wira
"Gak mau, enak aja pake nawar.."
Wira menggaruk tengkuknya, "Baiklah ayo hanya sebentar.."
Wira menggandeng Felicia menghampiri Nanda.
"Permisi Tuan Nanda.."sapa Wira
"Iya Tuan, anda mengenal saya.."seru Nanda yang juga tengah mengobrol dengan rekan bisnis yang lain.
Wira mengangguk, "Tentu, saya Wira dan istri saya Felicia.."
"Salam kenal, Tuan Nanda dan Nona.."
__ADS_1
"Yuna.."seru Yuna
Mereka saling berjabat tangan, "Tuan maaf sebelumnya istri saya sedang hamil, dan dia ingin mengelus pipi anda. Bolehkah Tuan.."
Nanda menatap keduanya bingung, "Memangnya anda cemburu ? saya mah boleh saja keinginan orang hamil memang terkadang aneh.."
"Tentu saja tidak, suami saya mah royal.."bukan Wira yang menjawab namun Felicia. Wira merenggut kesal, sementara Yuna terkikik geli.
"Ya udah silahkan.."
Felicia mendekat dan mulai mengelus pipi Nanda, "Sudah cukup ayo.."ucap Wira
"Terimakasih Tuan.."ucap Wira pada Nanda.
Wira berlalu membawa Felicia, "Perhitungan banget sih kak baru juga sebentar.."cebik Felicia kesal.
"Sudah dua puluh detik.."
Felicia tergelak tak menyangka suaminya itu memperhitungkan waktunya tadi.
"Ayo kita beri ucapan selamat pada pengantinnya setelah itu kita pulang.."ucap Wira.
Felicia menurut mengikuti langkah Wira menunu pelaminan.
"Selamat Tuan Darren dan Nona Calista. Mohon maaf Tuan David berhalangan jadi tidak bisa hadir.."ucap Wira
"Tidak apa-apa. Dia pasti sangat repot sekarang, aku sendiri belum sempat menjenguk babynya. Terimakasih kau sudah hadir."seru Darren
"Selamat Tuan dan Nona.."ucap Felicia. Felicia memandang raut muka keduanya. Darren terlihat begitu bahagia, sementara Calista terlihat sendu. Felicia merasakan sesuatu dari aura pengantin wanitanya.
Usai memberi ucapan pada mempelai, Wira membawa Felicia pulang.
🌹🌹
"Kak.."
"Hem.."sahut Wira cuek, tentu saja ia masih kesal dengan permintaan Felicia tadi.
"Pengantin prianya terlihat bahagia, tapi pengantin wanitanya kenapa terlihat sendu. Aku merasa dia terlihat begitu tertekan.."tutur Felicia kembali mengingat wajah Calista, wajah yang sendu tak memancarkan kebahagiaan.
"Jangan suudzon Fel, tidak baik berfikiran buruk pada seseorang.."ujar Wira
"Iya sih.."
🌹🌹🌹
Kisah Nanda dan Yuna , Nada dan Tristan bisa kalian baca di novel ini
Kisah Darren dan Calista di sini
Mampir ya guys, keduanya masih on going.
Jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
Hadiahnya