
Sinar matahari masuk melalui celah jendela yang sebagian tertutup gorden, Felicia membuka matanya, ia tersenyum tipis jika kini ia tengah berada dalam pelukan suami tercinta. Felicia mengamati setiap inci wajah Wira, mengulurkan tangannya wanita itu mulai membelai wajah suaminya. Terakhir, ia menghentikan gerakannya di hidung mancung suaminya, tak lupa Felicia memainkannya ia memencet hidung suaminya berkali-kali, hingga ia terkikik geli sendiri.
Tring.. tring.. bunyi ponsel Wira membuat Felicia kembali berpura-pura memejamkan matanya. Wira membuka matanya secara perlahan, menyadari Felicia masih tidur di dalam pelukannya ia tersenyum tipis, tangannya terulur untuk menjangkau ponsel miliknya yang di atas nakas.
"...."
"Ya.." sahut Wira
"Masih di hotel. oke nanti.."
"Istriku membuatku kelelahan hingga aku terbangun siang.."
Felicia sontak membuka matanya dan merebut ponsel Wira.
"Kenapa di ambil.."tanya Wira
"Apa yang kakak katakan, membuatku malu.."sungut Felicia kesal, ia memeriksa ponsel Wira, tidak ada panggilan apapun. Wira terkekeh.
"Kenapa mati,.."tanya Felicia
"Panggilan sudah berakhir sejak aku hanya menjawabnya Ya, itu sudah cukup. Sisanya aku sengaja mengerjaimu.."tutur Wira
Felicia mengerucutkan bibirnya kesal, mengembelikan ponsel suaminya lalu ia membalikkan badannya memunggungi Wira.
"Menyebalkan.."gumam Felicia,
Wira yang menyadari istrinya kesalpun mendekat dan memeluknya dari belakang. "Jangan marah, aku hanya bercanda.."serunya, ia kembali mencium ceruk leher jenjang Felicia, membuat tubuh Felicia kembali meremang.
"Geli ih.."ucap Felicia berusaha menyingkirkan kepala suaminya. Tidak berhasil, tangan Wira kembali liar menyusuri setiap inci tubuh Felicia.
"Kakak, kau mau apa..?"tanya Felicia ia menghadap kembali ke Wira.
"Apalagi, melakukan seperti yang semalam kita lakukan.."celetuknya
"Tapi.."
"Tenang saja tidak akan sakit lagi.."ucapnya, pada akhirnya Wira kembali membungkam bibir Felicia, keduanya kembali melakukan pergumulan panjang.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Usai dengan aktivitasnya dengan Felicia, Wira langsung membersihkan dirinya. Sementara ia juga membiarkan Felicia kembali terlelap.
Wira keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri-seri, dengan handuk yang melilit tubuhnya. Mengambil paper bag yang berisi pakaian miliknya. Setelah di rasa rapi, Wira mulai membersihkan pakaian yang masih berserakan di lantai, akibat ulah dirinya dan Felicia. Ia melipatnya dengan rapi, dan memasukannya ke dalam paper bag.
Wira mengambil ponselnya dan menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan menu sarapan. Setelahnya Wira mendudukan dirinya di sofa, dan mulai mengambil tab miliknya. Wira mulai memeriksa sebuah dokumen yang di kirimkan David melalui emailnya. Matanya mulai menelisik satu persatu kata demi kata.
"ugh..."Felicia meleguh dalam tidurnya. Perlahan ia mulai membuka kedua matanya, saat ingin menggerakan badannya, Felicia merasakan sekujur tubuhnya remuk tak bertenaga.
Felicia menggerakan tangannya ke samping, menyadari tidak ada siapapun Felicia mendudukan dirinya dengan selimut yang masih menempel di tubuhnya. Ia bernafas lega kala melihat suaminya masih berada di sana, duduk di sofa dengan tab yang melekat di tangannya, tadinya ia berfikir Wira akan meninggalkannya begitu saja.
Merasa badannya lengket Felicia bergerak turun dari tempat tidur, "Aww.."rintihnya kala kakinya berhasil menapakkan ke lantai, ia merasakan pangkal pahanya masih terasa perih.
Wira sontak terkejut ia kembali meletakkan tab nya dan menghampiri istrinya, "Apa masih begitu sakit.."
Felicia menganggukan kepalanya, "Sorry, kau mau kemana.."sambung Wira
"Mandi.."seru Felicia
"Biar kakak bantu.."ucapnya, tanpa menunggu jawaban Felicia, ia langsung menggendong Felicia ke kamar mandi.
"Mau di bantu..."Wira menawarkan diri.
Keluar dari kamar mandi Felicia menggunakan handuk yang melilit pada tubuhnya, ia berjalan melewat Wira.
"Cari apa..?"tanya Wira
"Baju ganti,.."
Wira menunjuk dress yang sudah tertata rapi di atas ranjang, "Itu, kemarin aku sudah menyiapkannya..."
Felicia mengambil bajunya dan ingin beranjak ke kamar mandi.
"Mau kemana..?"tanya Wira
"Ganti baju di kamar mandi.."sahutnya
"Untuk apa, membuang waktu di sini saja, makanannya sudah datang setelah itu ayo sarapan lalu kakak akan mengantarmu pulang.."
"Memangnya kakak mau kemana..?"tanya Felicia dengan kesal.
__ADS_1
"Kakak harus menemani kakakmu meninjau kantor cabang.."Tuturnya
Felicia berdecak kesal, padahal ia pikir hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama suaminya itu. Dengan bergumam tidak jelas Felicia mulai mengganti pakaiannya di depan Wira, tanpa memperdulikan tatapan suaminya. Felicia berlalu ke meja rias untuk menyisir rambutnya yang basah, Wira menghela nafasya lalu mendekati istrinya.
"Duduklah, kakak akan mengeringkan rambutmu. Kau bisa pusing jika membiarkan rambutmu basah begini.."ujar Wira, ia mulai menyalakan hair drayer dan mengeringkan rambut Felicia.
Setelah selesai Wira menyisir rambut Felicia, "Biarkan saja terurai untuk menutupi tanda yang ku buat di lehermu.."serunya.
Felicia berdecak kesal, "Makanya jangan membuat tanda yang kelihatan orang, jika begini aku pasti akan malu keluar apartemen.."
"Lain kali akan ku buat di tempat yang tersembunyi.."seru Wira.
"Ayo makan.."sambung Wira
🌹🌹🌹
Sepanjang jalan menuju apartemen Felicia terdiam, Wira tau apa penyebabnya.
"Maafin kakak, nanti di usahakan pulang cepat deh.."tutur Wira
"iya.."sahut Felicia
"Kak, apa di kamar hotel semalam ada rekaman cctv, aku ingin minta.."
"Yang benar saja lah Fel, masa pihak hotel memasang cctv di kamar, kau mau adegan kita yang lagi iya-iya menjadi tontonan yang viral.."decak Wira.
Wajah Felicia merona, "Maksudku aku ingin rekaman cctv yang di balkon kamar semalam kak.. Kakak pikirannya kesitu mulu.."sahutnya kesal.
Wira mengusap wajahnya kasar, lah yang salah siapa. Kan dia yang salah bertanya, kok jadi dia nyang nyalahin sih. Wanita memang selalu ingim benar..
🌹🌹
berhubung banyak yang komen dan kasih aku hadiah, aku jadi up doble. Makasig ya readers..😚😚
Jangan bosan dulu ya untuk membaca karya recehku.
jangan lupa komen, like, hadiahnya lagi
bersambung..
__ADS_1