Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Kekhawatirkan Wira


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu usia pernikahan Felicia dan Wira, namun hubungan keduanya tetap sama. Keduanya memutuskan untuk tinggal di apartemen Wira. Felicia merasakan pernikahannya hambar bagai sayur tanpa garam.


Tidak ada kata cinta, belaian lembut ataupun perlakuan romantis dari Wira untuknya. Wira menjalankan perannya dengan baik ia menafkahi dan membiayai kuliah Felicia, memenuhi segala kebutuhannya. Felicia hanya merasa di perlakukan layaknya David memerlakukan dirinya.


Tak jarang Wira kerap menyibukan dirinya dengan pekerjaannya hingga terkadang ia terlelap begitu saja di ruang kerjanya. Felicia bukan gadis yang munafik, sebagai seorang istri ia juga membutuhkan nafkah batin dari suaminya.


"Kak Wira sudah malam ayo kita istirahat.."


"Kakak masih banyak kerjaan Feli, kau tidurlah duluan nanti aku menyusul.."


Selalu begitu jawaban Wira ketika Feli mengajaknya istirahat, dan selalu berakhir sama Felicia mendapati suaminya tidur di ruang kerjanya.


Melihat pantulan dirinya di cermin dalam kamar mandi, Felicia tersenyum miris. Ia membelai wajahnya sendiri, mencoba melihat kekurangan dirinya.


Apakah aku tidak cantik..?


Apa aku tidak menarik..?


Manik mata Felicia sudah nampak mulai berkaca, dadanya terasa begitu sesak.


"Aww.."Felicia meringis kesakitan memegangi perutnya yang terasa sakit, ia merasa sesuatu mengalir di bawah sana. Ternyata sakit perut efek tamu bulanan. Ia meremas perutnya yang terasa semakin melilit, sambil menitikan air matanya. Menangis efek datang bulan, ataukah karena merasa hatinya terluka, entahlah ia masih kurang memahami akan hal itu.


Menghapus sisa air matanya, Felicia memutuskan untuk keluar mencari pembalut untuk dirinya. Saat Felicia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Wira masuk ke dalam kamar.


Keduanya saling besitatap, jika Felicia menatap Wira dengan sendu penuh dengan tanda tanya, Wira justru menatapnya penuh dengan rasa khawatir kala melihat wajah pucat di sertai mata sembab sang istri.


"Aww..."ringis Felicia memegangi perutnya.


Wira melangkahkan kakinya mendekati Felicia wajahnya memancarkan aura ke khawatiran, "Apa yang terjadi? wajahmu terlihat begitu pucat. Katakan mana yang sakit.."beberapa kali Wira menempelkan tangannya di kening Felicia.


Hatiku.. ingin sekali Felicia mengatakan hal itu.


"Feli, kenapa diam saja. Ayo katakan mana yang sakit. Kakak akan menelpon dokter.."Ucap Wira dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja kak.."Sahut Felicia ia melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih mencari pembalut.


"Aku tidak percaya kau tidak pernah seperti ini.." Wira terus mendesak Felicia, sesekali ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara Felicia tidak peduli, ia terus mencari pembalutnya namun sama sekali tidak menemukannya.


"Kau mencari apa..?"tanya Wira


Felicia menatap Wira, "Bisakah aku minta tolong, belikan aku pembalut.."


"pembalut.."ulang Wira


Felicia mengangguk, "Tapi kalau keberatan tidak usah, aku akan membelinya sendiri.."


Wira menggelengkan kepalanya, "Tidak.Tunggulah di sini, kakak akan membelikannya.."


⚘⚘


Sembari menunggu Felicia di kamar mandi, Wira beranjak ke dapur membuatkan sesuatu untuk Felicia.


Wira menyajikan bubur yang baru ia masak ke dalam mangkok, lalu ia meletakkannya di atas nampan beserta secangkir teh hangat. Wira beranjak ke dalam kamar, saat pintu terbuka terlihat di sana Felicia sedang meringkuk kesakitan.


"Feli, ayo makanlah.."ucap Wira, ia meletakkan nampannya.


"Aku tidak lapar kak, aku ingin tidur saja.."sahut Felicia.


"Tidak bisa begitu. Kau harus makan, bangunlah kakak akan menyuapimu.."desak Wira


Dengan terpaksa Felicia menuruti perintah Wira, ia menyandarkan tubuhnya di ranjang. Wira duduk di depan Felicia, ia mengambil mangkok dan mulai menyuapi Felicia dengan telaten.


Felicia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil hampir tak terlihat, Ingin sekali aku menghentikan waktu saat ini. Haruskah aku sakit lebih dulu agar ia lebih peduli dan perhatian padaku.


"Sudah habis, kenapa makanmu begitu belepotan.."ujar Wira, ia membersih noda di bibir Felicia.


"Terimakasih.."ucap Felicia

__ADS_1


"Minumlah tehnya Feli, mungkin akan sedikit meredakan sakit perutmu.."


Felicia pun kembali menuruti perintah Wira.


"Istirahatlah, kakak akan kembali ke dapur.."ujar Wira ia beranjak dari tempatnya.


"Kak.."


Wira menghentikan langkahnya berbalik menghadap Felicia, "Apa kau pernah mempunyai kekasih.."tanya Felicia


"Tidak.."jawab Wira


Felicia menghela nafasnya, "Kakak apa aku tidak cantik?.."


Wira terkejut entah mengapa ia merasa pertanyaan Felicia begitu menohok hatinya, Wira mengerti ada maksud dari pertanyaan Felicia itu, "tentu saja kau sangat cantik, istirahatlah kakak akan ke dapur lebih dulu.." tersenyum tipis sambil mengelus pucuk kepala Felicia.


Wira membaringkan dirinya di samping Felicia yang terlelap sambil meringkukan badannya. Tangannya menyapu beberapa helai rambut yang menutupi wajah sang istri.


'Kau bahkan sangat cantik Feli. Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan. Beri aku waktu Feli...'gumam Wira


Cup.. Wira memberanikan diri mengecup kening Felicia.


"Selamat tidur,.."


Setelahnya ia mencoba untuk memejamkan matanya.


⚘⚘⚘


Novi sedang menjelaskan beberapa hasil meeting tadi yang di pimpin Wira.


"Daddy.."Axel muncul dari pintu.


David melirik ke arah Axel dan tersenyum tipis.


"Pergilah, kau bisa jelaskan lagi nanti.."


"Baik Tuan.."


"Hai Son, dengan siapa kau kesini.."tanya David sambil mencium pipi Axel.


"Mommy, tapi dia begitu lambat jalan seperti siput makanya Axel tinggal.."cebiknya, membuat David terkekeh.


"Siapa yang kau maksud siput hem..."seru Aira yang sudah tiba di ruangan David.


"Aku hanya bercanda Mommy.."tutur Axel ia turun dari pangkuan David.


David bangkit dari tempat duduknya menghampiri Aira.


Cup David mengecup bibir Aira sekilas "Dia hanya bercanda.."


"Daddy, aku ingin sekali makan pizza. Ayo Daddy kita pergi.."ajak Axel.


David terdiam ia melirik ke arah meja kerjaannya begitu banyak. Aira pun memahami kemana arah mata David.


"Axel kan sudah Mommy katakan makanlah dengan Mommy, Daddy sibuk banyak kerjaan."tutur Aira


Axel terdiam menundukkan wajahnya dengan rasa kecewa.


David berjongkok di hadapan Axel, "Kenapa sedih hem. Ayo kita pergi."


"Tapi Daddy, kata Mommy.."


"Untukmu apa yang tidak akan Daddy lakukan, ayo kita pergi.."


"Let's go Daddy.."


Ketiganya memutuskan untuk pergi,

__ADS_1


⚘⚘


Seorang pelayan datang mmebawa pesanan mereka.


"Son, mari kita makan.."ucap David


"Oke Daddy.."


"Bisa minta tolong Nona, tolong bawakan aku kecap.."pinta Aira


Pelayan itu terlihat bingung namun tidak berani membantah, "Baik Nyonya, tunggu sebentar.."


David mengerutkan keningnya, "kecap untuk apa sayang.."


"Tentu saja untuk makan masa untuk ku pakai bedakan.."cebik Aira


David tergelak, "Sangat aneh, aku baru tau orang makan pizza pakai kecap.."


"Apa Daddy baru tau jika Mommy itu memang aneh.."sahut Axel, yang sepertinya sangat mendukung Daddnya.


Pelayan tadi menghampiri Aira dengan membawa kecap yang sudah di masukan ke dalam cup kecil. "Ini Nyonya.."


"Terimakasih.."


Aira mulai makan pizzanya di tambah kecap dengan lahap, David meneguk ludahnya kasar, membayangkan pizza itu masuk ke mulut pasti rasanya aneh.


"David, aku pergi ke toilet sebentar ya.."pamit Aira


"Perlu ku antar.."


Aira menggelengkan kepalanya, ia bangkit dari tempat duduknya. Aira memijat kepalanya entah kenapa ia merasa pusing.


David tidak menyadari hal itu, ia sibuk menyuapi Axel. Setelah di rasa tenang Aira mulai melangkahkan kakinya.


Bugh.. Aira terjatuh pingsan..


"Aira.."


"Mommy.."


⚘⚘⚘


David membawa Aira ke rumah sakit.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Tuan. Nyonya hanya perlu istirahat, hal ini biasa terjadi saat usia kandungan masih muda.."jelas Dokter


"Jadi istri saya sedang hamil.."tanya David


"Iya Tuan, untuk lebih jelasnnya anda bisa membawanya ke Dokter kandungan.."jelas Dokter.


⚘⚘


Setelah Aira sadar David membawanya ke Dokter kandungan.


"Selamat Tuan, istri anda sedang mengandung baby twins. Usia kandungannya sudah berusia enam minggu."tutur Dokter sambil menggerak-gerakan mous yang di monitor tampak memperlihatkan dua janin belum terbentuk sempurna.


"Benarkah.."David tersenyum matanya tampak berkaca, ia mengelus kepala Aira lalu mencium keningnya.


"Terimakasih sayang.."


"Daddy aku bakal punya adik.."


"Iya son.."


"wah aku bakal punya teman.."


⚘⚘

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, hadiahnya..


bersambung..


__ADS_2