
Waktu terus berlalu hingga kini kontrak perjanjian Aira dan David sudah berjalan hanpir mendekati empat bulan artinya .Aira mendesah resah entah apa yang akan ia lakukan nanti, yang jelas ia masih sedikit memiliki gambaran dengan menjemput ayahnya itu.
"Ayah tunggulah sebentar lagi, aku akan membawamu pergi dari rumah itu"ucapnya sambil memandang senja, seolah ia sedang menyampaikan pesan kerinduan pada ayahnya.
🎋🎋🎋
Malam ini Aira dan David datang ke pesta dalam keluarga mantan kekasihnya. Meski Laura telah tiada, kedua orang tuanya tetap menganggap David sebagai anaknya, hubungan mereka tetap seperti sebelumnya.
"Hallo David.."sapa Jelita dengan senyum ramahnya.
David yang sedang menggandeng tangan Aira kemudian melepasnya "Hallo juga Jelita..."
Aira menengok ke arah David saat David melepas genggaman tangannya, entah kenapa ia merasa tidak rela. Tapi Aira tetap berusaha baik-baik saja.
"Aku tau kau pasti datang David,.."seru Jelita mendekati David.
Sedang David hanya tersenyum mengangguk, "Tuan bolehkah saya pergi saja, saya merasa haus dan ingin minum"ucap Aira
"Pergilah, tapi jangan asal minum Aira. Aku tidak mau kau sampai mabuk"sahut David
Aira mengangguk lalu pergi, setelah hilangnya Aira dari pandangannya. Kini hanya tinggal Jelita dan David yang sedang berdiri secara bersampingan.
Pandangan keduanya tertuju pada beberapa pasangan yang terlihat sedang berdansa, Jelita tersenyum senang "David, bolehkah berdansa denganmu.."tanya Jelita
David terlihat ragu sebelum menjawab, namun ia melihat Jelita yang memohon penuh harap "Baiklah, tapi hanya sebentar"seru David
"Tidak masalah.."seru Jelita
Kemudian Jelita mengalungkan tangannya di leher David, dan David memegang pinggang Jelita, lalu keduanya mulai berdansa.
Pandangan orang-orang tertuju pada Jelita dan David, tidak terkecuali Aira yang tengah duduk di kursi sambil memegang gelas yang berisi minuman. Melihat David berdansa dengan Jelita, tiba-tiba Aira merasa tenggorokannya kering lalu ia kembali meneguk minumannya, kemudian ia mencengkram gelasnya dengan erat. Ada sesuatu perasaan yang tidak mampu ia jelaskan.
Cemburu...?
__ADS_1
iri...?
Aira tidak mampu mendiskripsikan apa yang ia rasakan kini.
Cinta...?
Aira sama sekali tidak mengerti soal cinta ataupun jatuh cinta. Dalam kamus hidupnya ia tidak pernah mengenal soal jatuh cinta. Sekuat tenaga Aira menahan nafasnya saat melihat keduanya terlihat mesra, dan mereka saling dekat saat saling bertukar obrolan. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas keduanya terlihat saling dekat.
Pandangan Aira masih tertuju pada mereka, entah mengapa dalam sekejap Aira kini merasa menjadi orang asing.
Ini salah, aku tidak mungkin mencintainya.seru Aira dalam hati.
"Kenapa kau memandang mereka seperti itu? apa kau baru menyadari jika mereka terlihat serasi, lihat saja nanti kau pasti akan tersingkir dari kehidupan David."ucap Dera dengan sinis pada Aira.
Aira tetap diam tidak mau menjawab, membuat Dera merasa panas ia ingin memancing emosi wanita itu "Kau perlu tau, jika Jelita itu sangat dekat dengan David. Jelita juga sangat miripi dengan Laura, dan aku yakin David pasti akan mencintai Jelita. Saat itu terjadi akulah orang yang paling bahagia, dan kau bersiaplah kau pasti akan kalah. Kau harusnya juga sadar diri siapa dirimu, jangan bermimpi untuk mendapatkan David"sambungnya dengan rasa kesal yang menggebu-gebu.
"Aku menunggu saat itu Nyonya.."jawab Aira lalu meninggalkan Dera.
Aira berlalu pergi dari pesta itu, ia keluar dari gedung hotell itu, lalu ia mendudukan dirinya di taman yang berada dalam hotel itu.
Aira menoleh dan tersenyum "Aku merasa jenuh di dalam, jadi aku keluar mencari udara yang segar"
"Aira, jangan pedulikan omongan mamaku yang tadi ya.."seru Dino
Aira mengerutkan keningnya "kau mendengarnya"
"Iya, aku mendengar semuanya"
Aira menghela nafasnya "lupakanlah itu Dino, aku sudah melupakannya"
🎋🎋🎋
Setelah selesai Dansa dengan Jelita, David menghampiri kedua orang tua Laura, lalu ia mengobrol sebentar. Sampai akhirnya ia menyadari jika ia tadi datang bersama Aira. Lalu ia mengederakan pendanganya di setiap sudut tempat, namun ia tidak menemukan Aira.
__ADS_1
Kemudian David pamit pergi pada kedua orang tua Laura, lalu David berjalan mencari Aira, namun ia tidak juga menemukannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Wira.
"Wira.. apa kau melihat Aira..."tanya David
Wira mengerutkan keningnya "Tadi ku lihat Nona Aira keluar tuan"seru Wira.
Kemudian David pun keluar dari pesta itu, lagi-lagi ia di perlihatkan dengan Aira yang tengah bersenda gurau dengan Dino, adik supupunya.
"Aira, aku mencarimu. Kau ternyata di sini"ucap David
Aira segera menoleh dan bangkit, di ikuti oleh Dino "Oh maaf tuan, aku merasa jenuh di dalam jadi aku keluar, kebetulan sekali bertemu Dino"
"Aira ayo pulang.."ucapnya.
Aira pun mengikuti langkah David ke dalam mobilnya, kemudian David menelpon Wira untuk mengajaknya pulang.
Aira masih bersikap seperti biasa, sungguh ia wanita yang sangat pandai menutupi segala apa yang ia rasa.
"Aira maafkan aku membuatmu merasa jenuh di pesta tadi, dan aku malah meninggalkanmu"Kata David.
Aira tersenyum manis pada David "lupakanlah tuan, aku tidak masalah dengan semua itu"
"Terimakasih.."seru David
"Sebagai gantinya minggu depan bagaiman kalau aku mengajakmu dinner berdua.."ucap David
"Aku ikuti saja katamu Tuan.."sahut Aira.
.
.
.
__ADS_1
.bersambung..