
Wira keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang lengkap. Berdiri menghadap cermin meja riasnya, Felicia terlihat begitu kesusahan menggapai resleting gaun pengantin bagian belakangnya.
"Perlu di bantu.."tanya Wira yang kini sudah berdiri di belakang Felicia, hembusan nafas yang kuat membuat jantung Felicia berdetak kencang. Jarak keduanya begitu intim, ingin sekali Feli mengulang adegan yang tadi sesi pergantian gaun pengantin.
Sret.. Wira sudah berhasil menarik resleting gaun pengantin Felicia, membuat Felicia terpengarah.
"Apa yang kau pikirkan, mandilah.."tutur Wira ia berbalik menuju ranjang dan menyandarkan tubuhnya.
Felicia berjalan menuju kamar mandi, sembari mengambil paper bag yang di berikan oleh Aira.
Dua puluh menit kemudian pintu kamar terbuka, Feli keluar dengan memakai lingerie berwarna warna merah menyala pemberian Aira. Ia sudah sudah bertekad mengesampingkan rasa malunya, tidak mengapa bukan toh sekarang Wira adalah suaminya. Apalagi mengingat sikap Wira yang begitu datar dan kaku, jika Felicia tidak mengambil langkah lebih dulu akan seperti apa rumah tangga keduanya.
Ekor mata Wira bergerak melihat ke arah Felicia ia terkejut, jantungnya berdetang kencang, mendadak mukanya berubah pucat.
"Feli kamu..."
"Tidak apa-apakan kak, aku merasa hawanya begitu panas. Lagian kita kan juga sudah menikah.."tutur Felicia ia berjalan merangkak naik ke tempat tidur.
Wira berusaha untuk menetralkan perasaannya, dan setenang mungkin "Iya tidak apa, sebagaimana kamu nyaman saja.."tuturnya.
Feli melihat perubahan wajah Wira, "Kakak apa kau sakit.."
"Tidak.."Wira menjawab dengan cepat.
Felicia beringsut mendekati Wira ia bermaksud mengecek suduh badan Wira. Namun Wira semakin beringsut menjauh dari jangkauan Feli, hingga kini ia berada di tepi ranjang.
"Kak Wira kemarilah aku..."
Bruk.. Wira terjatuh dari tempat tidur, ia meringis kesakitan.
"Kakak, maafkan aku. Kenapa kau bisa jatuh..."seru Felicia ia turun dari tempat tidurnya.
Wira hanya terdiam sambil meringis kesakitan, Felicia berhasil membantu Wira kembali ke ranjang. Felicia menempelkan telapak tangan di kening Wira, tidak panas. Jarak keduanya yang begitu intim membuat Wira bisa melihat lekuk tubuh Felicia, ia bisa mencium aroma tubuh Felicia. Entah apa yang terjadi kepalanya kembali berdenyut nyeri, Wira memejamkan matanya.
"Apa yang kau rasakan kak.."Felicia bertanya begitu khawatir.
"Sedikit pusing, mungkin karena kelelahan. Bisakah aku istirahat.."ucap Wira meminta ijin pada Felicia.
Satu jam berlalu Felicia tidak dapat memejamkan matanya, ingatannya masih tertuju kejadian tadi. Sebagai seorang pria normal jika melihat wanita yang berpakaian seperti dirinya kini pasti akan tergoda, apalagi kini status keduanya sudah halal. Tapi mellihat wajah suaminya tadi justru berubah pucat pasi layaknya seorang wanita yang takut hendak di perkosa. Felicia memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Semula ia membayangkan jika malam ini akan menjadi malam indah yang takkan ia lupakan, kenyataannya ia harus menelan pil pahit. Sadar atau tidak tindakan Wira telah melukai hatinya.
Felicia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran negatif tentang suaminya, apalagi pernikahan keduanya baru resmi dalam hitungan jam. Felicia meyakinkan dirinya jika memang benar mungkin suaminya itu kelelahan. Menghela nafasnya ia melirik ke arah suaminya yang terlelap, tangannya terulur untuk membelai wajah pria yang beberapa jam yang lalu resmi menjadi suaminya.
"Aku harap semua baik-baik saja.."gumamnya
⚘⚘⚘
Warning 21++
Cek usia anda,
__ADS_1
"Gak nyangka jika akhirnya Felicia menikah dengan Kak Wira, ternyata dia pria normal.."ucap Tia
Dino melirik ke arah Tia yang sedang bersandar di ranjang, sedangkan ia baru selesai membersihkan diri.
Dino tergelak, "Jadi kau berfikir dia tidak normal begitu,"
"Habisnya dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, aku fikir ada yang salah dengan dirinya.."tutur Tia
Dino tersenyum tipis, melangkahkan kakinya menuju ranjang di mana istrinya berada. "Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan kini.." bertanya sembari memberi kode maksudnya.
"Mana ku tau,.."
"Sudahlah aku mau tidur.."seru Tia ia beringsut membaringkan dirinya,
Dino segera mencegah Tia untuk tidur, "Ayo kita lakukan seperti apa yang mereka lakukan.. Kita juga pengantin baru kan.."
"Mas.. a.. aku.."
Dino menghela nafasnya, "kau belum siap.."tanyanya dengan kecewa.
"Aku malu.."lirih Tia ia menundukan wajahnya.
Dino mengangkat wajah Tia, "Tatap mataku sayang."
Kini keduanya saling menatap penuh damba, "Kau cukup peracaya padaku,.."
"Tia, aku mencintaimu.."ucap Dino,
"Aku juga mencintaimu mas.."
cup.. Tia memberanikan diri mengecup bibir Dino. Dino tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia memegang tengkuk Tia dan semakin memperdalam ciumannya kedua saling bertukar saliva, saling mencecap dan *******. Semula Tia terlihat kaku, namun ia mampu mengimbangi ciuman Dino.
Melepaskan ciumannya, Dino menyibak rambut Tia di area leher jenjang sang istri. Dino mengecup dan membuat tanda kepemilikan di sana.
Hingga membuat Tia mendesah dan menggelijang hebat, Dino semakin bersemangat untuk mengeksplor seluruh tubuh sang istri. Tangannya bergelya di balik pakaian Tia, dengan satu tarikan ia berhasil melepas pakaian Tia.
Dino membaringkan tubuh Tia, kedua tangannya bertumpu ia kembali menerjang Tia dengan ciumannya, perlahan ciuman Dino kembali turun ke leher hingga beralih ke dada Tia yang terlihat membusung, Dino mengecup dan menjilatnya, sementara tangan satunya ia gunakan untuk meremas yang lainnya.
"Masss..."desah Tia membuat gairah Dino semakin menyala. Dino mengecup setiap jengkal tubuh Tia.
Dino membuka seluruh pakaiannya, Tia menutup kedua matanya dengan telapak tangannya,
"Jangan malu hemm, kau harus terbiasa.."ucap Dino menyingkarkan tangannya dari wajah Dino, ia menggoda sembari mengedipkan matanya.
Dino kembali menindih tubuh Tia, ia memposisikan miliknya pada milik Tia.
"Mass.. sa..kit.."lirihnya, Tia mengeluarkan air matanya saat Dino berhasil memasuki dirinya.
"Rileks sayang, percayalah ini hanya sesaat.."tutur Dino memberi ketenangan untuk Tia.
__ADS_1
Perlahan Dino kembali mengangkat pinggulnya, dan memaju mundurkan pinggulnya. Ia kembali mencium bibir manis sang istri, sementara di bawah sana ia tetap bekerja.
Rasa sakit yang semula Tia rasakan kini menjadi kenikmatan yang tiada tara. Hampir satu jam keduanya memadu kasih dengan hasrat dan gairah yang membara.
"Masss.. a..ku.. mau pi..pis.."desah Tia
"Kaluarkan saja sayang,,.."
Dino semakin memperdalam pergerakannya, hingga pada akhirnya ia mencapai puncaknya. Tia merasakan sesuatu yang hangat memasuki rahimnya. Dino mencabut miliknya..
Dino berguling di samping Tia, "Terimakasih.."ucap Dino
"Aku cape.."jawab Tia
"Istirahatlah Honey,.."tutur Dino, ia menarik selimut, untuk menutupi tubuh polos keduanya.
⚘⚘⚘
Kediaman David
"Mau kemana..?"David memegang pergelangan tangan Aira, saat wanita itu justru keluar dari kamarnya, bertepatan dirinya yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Kamar Axel, aku ingin tidur di sana saja.."sahut Aira.
"Kenapa..?"tanya David
"Aku sedang benci melihat wajahmu.."ucapnya,
David tergelak, biasanya Aira bahkan akan selalu memuji David begitu tampan dan menawan.
"Aira.. Ada...."
Terlambat Aira sudah pergi dari hadapannya, David menghela nafasnya, "Dia begitu aneh, dia marah seolah aku melakukan kesalahan.."
David mengedikkan bahunya, "Biarkan saja, mungkin ia sedang rindu dengan Axel.."
Sampainya di kamar Axel, Aira mendumel ia berkali-kali menengok ke belakang.
"Kenapa dia tidak menyusul atau mencegahku, dasar tidak peka.."dumel Aira
Melirik ke arah ranjang di mana Axel sudah terlelap, Aira mendekat dan membaringkan dirinya di samping Axel.
"Aku sumpahin dia tidak bisa tidur nyenyak.."ucp Aira sebelum tidur.
⚘⚘⚘
Niat up siang jadi molor, karena putriku sedang rewel, jadi ya begitulah..
Note : Aku tidak akan memberi konflik pada rumah tangga Dino dan Tia, kasihan mereka udah menderita sejak kecil. Sedangkan untuk Feli dan Wira ada deh..😂😂
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, hadiahnya ya, biar aku semangat..😊😊
bersambung..