
Sudah satu jam lebih Felicia membongkar seluruh lemari pakainnya namun sampai detik ini ia belum menemukan gaun yang cocok untuknya.
Ceklek.. pintu kamar terbuka Mega terkejut melihat betapa berantakannya kamar putrinya.
"Feli apa yang kau lakukan. Kenapa kamarmu begitu berantakan.."cecar Mega
Feli duduk di ranjang sambil cemberut, "Mama aku sedang mencari gaun tapi tidak ada yang cocok menurutku.."
Mega berjalan ke arah Feli, "Gaun segitu banyak masa tidak ada yang cocok untukmu.."
"Mama aku harus tampil cantik dalam pesta malam ini, pokoknya aku ingin terlihat sempurna.."
Mega melipat melipat kedua tangannya ke dada menatap Felicia dengan tatapan menyelidik, "Memangnya kau mau pergi dengan siapa..?"
"Kak Wira.."
"Eh.." Felicia menutup mulutnya menyadari ia keceplosan.
Kening Mega mengernyit ia ingin bertanya lebih, Felicia yang menyadari Mamanya mencurigai sesuatu segera mengalihkan pembicaraan.
"Mama ayo bantu aku pilih gaun.."ucapnya ia bangkit dari tempatnya.
Mega mengurungkan niatnya untuk bertanya *Biarlah toh memang putrinya sudah dewasa.
⚘⚘⚘*
Sesuai permintaan Felicia pukul tujuh malam Wira sudah tiba di kediaman Adinata, ia memilih menunggu di depan pintu.
Suara sepatu hells yang bebentur dengan lantai marmer membuat Wira melirik ke sumber suara itu.
"Hai.."sapa Felicia ia mengangkat tangannya, sebelah tangannya tambak ia membawa sebuah bungkusan yang berisikan kado untuk Maya.
"Selamat malam Nona.."ucap Wira
Felicia memutar bola matanya jengah saat lagi-lagi Wira menyapanya dengan sebutan Nona.
"Feli, panggil aku Feli. Kau mau membuatku malu, datang ke pesta denganku memanggilku Nona. Apa kata teman-temanku nanti.."ucapnya ia melipat tangannya di dada sambil berpura-pura marah.
"Tapi Nona.."
"Aku tidak ingin di bantah.."
Wira menghela nafasnya, "Baiklah.."
"Apa..."tanya Felicia
"Ayo masuk Non.. eh Feli.."seru Wira
⚘⚘⚘
Mobil Wira membelah jalanan yang cukup padat mengingat memang ini malam minggu. Felicia sesekali akan melirik ke arah Wira yang tengah menyetir, ia mulai meneliti penampilan Wira malam ini, senyum tipis terbit di wajahnya saat menyadari Wira memakai pakaiannya yang ia belikan saat di Mall waktu itu, Wira terlihat begitu tampan, ingin sekali ia menggoda dan memeluknya lalu mengecup bibirnya rasanya seperti apa ya..
eh.. tidak.. tidak.. Felicia menggelengkan kepalanya sambil memukul kecil kepalanya mengenyahkan segala pikiran mesumnya itu.
"Ada apa Feli..?"tanya Wira saat melihat Felicia menggelengkan kepalanya dan memukulnya.
Felicia menghentikan tingkah konyolnya itu, ia menatap kembali Wira, "Kau terlihat tampan.."
eh.. Felicia membulatkan matanya ia memukul bibirnya saat menyadari ia berkata jujur. 'Tidak bisakah mulut ini bohong sedikit, kenapa terlalu jujur..'rutuknya dalam hati
Wira hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat, jika pria lain yang bersama Felicia dan melihat tingkahnya pasti akan tergelak dan tertawa.
__ADS_1
Wira melirik ke arah Felicia tampak gadis itu tengah mengalihkan pandangannya ke arah jendela, mungkin wanita itu tengah merutuki perkataannya "Kau juga terlihat cantik, Feli.."puji Wira.
Blush.. wajah Felicia merona, jantungnya berdetak cepat. Padahal di kampus juga banyak yang memujinya cantik, namun entah kenapa pujian yang Wira berikan membuat ia begitu senang dan ia merasa berbeda dari yang lainnya. Padahal jika di lihat Wira memujinya dengan wajah datar tanpa expresi.
"Terimakasih.."seru Felicia setelah ia berhasil menetralkan jantungnya.
Wira menganggukan kepalanya, "Sama-sama, Feli.."
Felicia tersenyum mendengar kini Wira mulai membiasakan memanggil namanya tanpa embel-embel Nona.
⚘⚘⚘
Sampai di pesta Wira berjalan dengan biasa, Felicia mendengkus kesal saat ia merasa begitu susah mensejajarkan langkahnya dengan Wira.
"Kak Wira.."panggilnya.
Wira memutar kembali tubuhnya, melihat Felicia yang berdiri dengan nafas terengah-engah, karena jarak dari parkiran mobil sampai ke pesta memang sedikit jauh.."Ada apa..?"
"Kemarilah.."
Wira kembali berjalan menghampiri Felicia, saat sudah sudah sampai.
Grep.. Felicia segera menggandeng lengan Wira, membuat Wira terkejut.
"Nona.."
"Feli.. sudah ku katakan panggil aku Feli.."ujar Felicia dengan kesal.
"Iya maksudnya Feli, tangan anda.."Wira melirik arah tangan Feli yang merangkul di lengannya.
"Kenapa kau keberatan.."tanya Felicia dengan kesal.
"Tapi Feli.."
"Baiklah.."
⚘⚘
Wira dan Felicia masuk ke dalam tempat pesta, pesta ulang tahun yang cukup meriah. Sebuah rumah mewah yang di sulap dengan dekorasi sedemikian rupa, mewah namun tetap terlihat elegan. Wira membiarkan Feli menggandeng tangannya, layaknya seorang pasangan kekasih, meski ada rasa tak nyaman pada diri Wira, ia merasa darahnya mendesir namun ia tetap mencoba biasa saja.
"Kau datang juga Feli, aku kira tidak.."sapa Maya sang pemilik pesta, Feli tersenyum.
"Dia siapa.."sambung Maya
"Oh kenalkan ini kak Wira. Ini untukmu."Felicia memperkenalkan Wira pada Maya, sambil memberikan kado untuk Maya.
"Salam kenal Nona,.."Ucap Wira
"Salam kenal juga,.."
"Kalau begitu nikmatilah pestanya Feli, aku harus menyambut tamu yang lain, oke.."sambung Maya
Felicia mengangguk, ia mengajak Wira untuk bergabung dengan teman yang lain. Ia juga memperkenalkan Wira pada teman-temannya. Canggung, itulah yang Wira rasakan. Meski sebelumnya Wira kerap menghadiri pesta, namun ia hanya datang untuk menemani David, tapi sekarang ia datang dengan seorang wanita.
Wira mengernyit heran mendengar obrolan teman-teman Felicia yang tidak jauh dari seorang pria tampan dan berkharisma. Sungguh ia merasa amat bosan, ingin sekali ia pergi dari sana mencari teman ngobrol mungkin, tapi dengan siapa ia tidak mengenal siapapun di sini.
"Feli, aku pergi ke toilet sebentar.."Pamit Wira,
Felicia mengangguk tanda memberi izin pada Wira.
⚘⚘⚘
__ADS_1
Kini Felicia tengah begabung dengan teman-temannya, tidak lupa ada Maya di situ. Acara telah di mulai mulai dari potong kue, namun Wira tidak kunjung muncul. Membuat Felicia mendengkus kesal.
Teman-teman yang lain menikmati pesta sambil berdansa.
"Di mana pasanganmu Feli.."tanya Bima membuat Felicia bertambah kesal, saat-saat lagi ia harus bertemu laki-laki itu.
"Bukan urusanmu.."sahutnya acuh, Felicia bangkit dari tempatnya ia berjalan. Langkahnya terhenti saat ada seorang pelayan menawarkan minuman. Felicia yang merasa sedang haus pun mengambil dan meneguknya hingga habis.
"Fali maaf lama.. Toiletnya sedikit antri.."ucap Wira yang datang di sebelah Felicia.
Felicia tidak menghiraukan Wira, ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, sekujur tubuhnya mendadak panas.
Wira terkejut mendapati muka Felicia yang tempak memerah seperti menahan sesuatu, "Feli, apa yang terjadi.."tanyanya, Wira menduga ada yang tidak beres dengan Felicia.
"Panas.. gerah.."desah Felicia, membuat Wira terkejut, ia seperti pernah melihat reaksi wanita seperti ini.
"Kak Wira aku gerah.. sangat panas.. Aku ingin di cium.."desahnya dengan menggeliat, Wira terkejut. Tanpa menunggu jawaban dari Wira, Felicia sudah mendekat ke arah Wira berjinjit dan mencium bibir Wira. Wira terkejut, tidak hanya itu semua orang di situ pun terkejut akan tingkah Felicia yang tiba-tiba mencium sesorang di depan umum.
Wira membulatkan matanya, lalu ia berusaha melepaskan ciuman Felicia yang sudah di penuhi gairah, menyadari mereka menjadi tontonan.
"Feli, ayo kita pulang.."Ajak Wira
"Tidak mau, aku masih ingin cium.."ucap Felicia ia menepis tangan Wira, sambil memijat keningnya yang tampak pusing.
Tidak mau menanggung resiko, Wira segera menggendong Felicia ala bridal style.
"Lepas, aku gerah. Aku ingin di cium.."ia menghentakan kakinya .
"ya nanti Feli. Kita harus cepet pergi dari sini.."seru Wira
Dengan langkah cepat Wira membawa Felicia ke mobil.
"Croboh, bagaimana bisa di meminum sembarangan. Menyesal aku meninggalkannya tadi.."umpat Wira
"Panas,.. gerah.."Felicia menggeliat layaknya cacing kepanasan.
"Kau mau apa Feli.."tanya Wira
"Aku ingin buka baju.."
"jangan...."
cittt Wira menghentikan mobilnya, ia mencegah tangan Felicia yang hendak menarik bajunya.
"Bertahanlah Feli sebentar saja.."ucapnya dengah wajah memerah, tidak sengaja Wira dapat mellihat belahan dada Felicia, ia memalingkan mukanya.
Felicia kembali menarik Wira hingga Wira jatuh menimpa tubuhnya, lalu mencium dan ******* bibirnya.
Wira berusah keras menolak ciuman Felicia. ,"Feli, sadarlah.." kepala Felicia kembali berdenyut nyeri. Menyadari hal itu, Wira segera bangkit dari tubuh Feli, dan kembali memyerti mobilnya.
Wira membelokkan mobilnya ke apartemen miliknya, tidak mungkin ia mengantar Felicia ke rumahnya dengan keadaan seperti ini.
"Ayo Feli, .."Wira membukakan pintu mobil untuk Felicia,
Felicia mengulurkan tangannya, "Gendong. sambil cium ya.."ucapnya
Wira menggendong Felicia membawanya masuk, membiarkan Felicia mencium pipinya tekadang wanita itu akan meraba-raba dadanya, membuat darah Wira mendesir.
⚘⚘
Tahan nafas dulu ya...😊kira-kira bambang Wira tahan iman gak ya..😂😂
__ADS_1
jangan lupa like, komen, hadiahnya.
bersambung..