
"Selamat malam Wira?"
"Selamat malam juga Aira?"
Wira dan Aira bertegur sapa saat Wira membantunya membuka mobil yang akan ia naikin. Kali ini David memakai jenis mobil yang berbeda, Aira tidak habis pikir berapa banyak mobil David.
Aira masuk ke dalam mobil dengan sopan, duduk di samping David yang hari ini memakai jas berwarna hitam. Tidak ada yang berubah dari pria itu ia tetap tampan, berwibawa dan angkuh.
"Tuan, apa kabar?" sapa Aira dengan ramah
David hanya terdiam, menoleh dan mengangguk kecil, lalu kembali fokus pada tabletnya. Sepertinya ia tengah sibuk dengan pekerjaannya dan tidak ingin diganggu, padahal Aira ingin tau mengenai pesta yang akan mereka datangi kali ini.
"Malam ini kita ke pesta Freya, kau tentu ingat wanita itu," ucap David seraya mematikan tabletnya.
Ingatan Aira tertuju pada wanita yang suka berdandan menor, serta memakai pakaian yang bagian depannya terbuka.
"Ulang tahunnya, entah untuk yang ke berapa?" sambung David.
"Kalau tidak salah yang ke 32 tahun Tuan," timpal Wira yang berada di depan.
"Oh baiklah!"
David mengamati penampilan wanita yang berada di sampingnya. "Seperti pesta sebelum-sebelumnya lakukanlah segala upaya agar wanita itu menjauh dariku, sampai kedepannya." Aira menghela nafasnya kemudian mengangguk.
Mobil memasuki area gedung hotel bintang lima, Aira turun dari mobilnya. Aira gugup ketika David memberikan lengannya.
"Ayo masuk!"
Aira mengikuti langkah David, diikuti Wira yang berada di belakangnya, membawa sebuah kado. Entah mengapa selama dalam perjalanan ia merasa gelisah seperti akan terjadi sesuatu.
Mereka naik lift menuju lantai lima di mana pesta itu berada. Sepertinya keluarga Freya tidak tanggung-tanggung menyiapkan pesta untuknya. Musik jazz mengiringi setiap langkah mereka, terdengar bising memang. Tatanan kursi yang di susun dengan rapi.
Ini seperti bukan sebuah pesta melainkan sebuah club malam. Di atas panggung berdiri seorang wanita dengan baju berwarna merah menyala, wanita itu memekik saat David datang.
"Aih, Tuan David, kau datang ke pestaku." Tanpa sungkan ia hendak memeluk David, namun ia mengurungkan niatnya tatkala melihat Aira tengah bergelayut manja di lengan pria itu.
"Selamat ulang tahun," ucap David dengan sopan, sambil memberi tanda pada Wira untuk memberikan hadiahnya. "Semoga suka dengan hadiahnya," sambungnya setelah Wira berhasil memberikan kadonya.
Freya mencebik kesal, namun tetap mengulurkan tangannya untuk menerima hadiah dari David.
"Oh selamat menikmati pestanya."
David membawa Aira untuk bergabung dengan yang lainnya. Aira mengamati setiap pesta ini.
"Wahhh ini pesta jenis apa?" ucapnya tanpa sadar
"Kau tidak suka?" tanya David.
"Bukan! Hanya saja ini seperti bukan diri anda," sahutnya seraya terkekeh kecil.
David mengernyit. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Anda itu biasanya identik dengan pesta yang elegan. Dan ini... ah entahlah." Aira tak melanjutkan ucapannya.
"Sejujurnya aku juga terpaksa menghadiri pesta ini," ucapnya.
Lima belas menit kemudian Aira merasa jenuh menemani David yang mengobrol dengan rekan bisnisnya, ia memutuskan untuk duduk di kursi tidak jauh di mana tempat David berada.
Seorang pelayan datang menawarkan minumnya, karena ia merasa haus tanpa berfikir panjang ia langsung meminum hingga habis.
Beberapa menit kemudian ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Tidak lama David menghampiri Aira.
"Kau kenapa? kau baik-baik saja?" tanya David
pada Aira yang terdiam
"Tidak, Tuan. Saya merasa ada yang aneh pada diri saya," sahutnya dengan seraknya.
"Kenapa? ada apa?" Aira menggeleng. "Saya merasa gerah dan tidak nyaman."
David menatap Aira dengan khawatir, lalu ia mencari sosok asistennya. Tidak jauh dari pandangannya Wira melihat tuannya, ia pun bergerak menghampiri.
"Wira siapkan mobil, kita pulang."
Tanpa banyak bertanya Wira pun langsung berlari menyiapkan mobilnya. David menatap wajah Aira yang kini tampak memerah.
"Aira ayo kita pulang," ajak David sambil mengulurkan tangannya pada Aira.
"Jangan menyentuh saya tuan." Aira menolak menepis tangan lelaki itu.
"Gerah! Saya bisa jalan sendiri."
David mengamati Aira yang berjalan sempoyongan, wanita itu terlihat berdesakan dengan pengunjung yang lainnya. Tidak tahan apa yang di lihatnya, David dengan sigap langsung membopong Aira.
"Tuan, lepaskan saya," rengek Aira.
"Tunggu sampai di mobil," jawab David
"Tapi saya gerah, panas."
David tidak mengerti apa yang terjadi pada Aira. Wanita itu terus menyebut kata gerah dan panas, serta tidak mau disentuh olehnya.
Setelah sampai di loby hotel, David langsung membawa Aira masuk ke dalam mobilnya. Mobil langsung berjalan membelah jalanan.
"Aira kau kenapa?" tanya David setelah Aira mendesah, wanita itu terlihat gelisah.
"Tuan, saya merasa aneh," sahutnya.
"Kenapa?"
"Ingin aahh," Aira menggeliat di kursinya. "Saya malu tapi saya ingin di cium," ucapnya.
David terkesiap namun saat itu juga ia sadar apa yang terjadi pada Aira. "Wira tolong perintahkan pelayan untuk menyiapkan air dingin di bathub."
__ADS_1
"Baik tuan!" sahut Wira, ia langsung mengambil handset lalu menghubungi pelayan di rumah tuannya, sambil tangannya tetap menyetir.
"Wira cepat sedikit jalannya," perintahnya pada sang asisten.
"Aira bertahanlah!" ucap David
Aira terkikik. " Tuan, saya ingin buka baju tuan." Tangannya berusaha menggapai bagian atas gaunnya.
"Jangan!" David berteriak sekaligus tangannya bergerak mencegah Aira.
Namun, terlambat karena Aira sudah dulu menciumnya, dengan nafas yang tersengal-sengal David berusaha menyadarkan Aira.
Wira yang berada di depan berusaha untuk tidak melihat apapun yang terjadi di belakang. Mobil berhenti tepat di depan rumah David.
"Aira ayo kita turun," ucap David.
"Tidak mau aku ingin cium," sahut Aira.
David bersusah payah menghindari ciuman Aira.
"Iya nanti kita ciuman tapi di dalam," bujuknya.
Setelah di bujuk dengan susah payah, Aira pun mau. David membimbing Aira masuk, dengan Aira terus merengek minta di cium.
Dengan sabar David menggandengnya. Seorang pelayan berdiri tidak jauh dari jangkauan David.
"Kau sudah siapkan air yang ku minta, serta baju tidur wanita?" tanya David.
"Sudah tuan."
Pelayan itu lalu bergegas pergi. Sementara Wira berdiri dengan perasaan was-was, dengan menghilangnya David bersama Aira masuk ke dalam kamar.
"Ayo kita mandi," ucap David.
"Buat apa mandi, enakan kita bermesraan saja."
Aira mengalungkan kedua tangannya di leher David lalu menyergap pria itu dengan ciuman. Saat ini ia tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya, yang ia inginkan hanya mencium dan bercumbu mesra dengan David.
"Aira ku mohon kendalikan dirimu," ucap David sambil menyeret Aira ke kamar mandi.
Namun sesuatu terjadi, Aira justru membuka bajunya hingga memperlihatkan dadanya yang terlihat membusung, membuat David terperangah. David berusaha untuk tetap menjaga kewarasannya.
"Ayo sayang kita ciuman"
Kali ini David membiarkan dirinya dicium oleh Aira dengan tubuh Aira yang sudah setengah telan jang. Ada gelenyar yang tak dapat ia jelaskan saat ia menyentuh tubuh Aira. David membawa Aira mendekati bathub lalu dengan sekuat tenaga ia menggendong wanita itu dan menceburkannya.
"Tuan ini dingin!"
"Bagus biar kamu tidak kepanasan, ayo berbaring dan ciuman."
David membiarkan Aira mencium bibirnya dengan kasar, hingga untuk beberapa lamanya, sampai pada akhirnya Aira sudah terkulai lemas di bathubnya, lalu ia meninggalkan Aira.
__ADS_1
"Berendamlah sampai kamu tenang," ucap David.