
Aira mendesah lega setelah ia menerima telpon jika kini Papanya sudah kembali pulang.
"Kau menghubungi siapa Aira..?"tanya Wira saat ia melihat Aira sudah tiba di kursi.
"Seseorang.."jawab Aira, wanita itu memang selalu pandai menutupi segala sesuatu. Tidak ada satupun seseorang yang bisa menebak segala pemikirannya.
David yang tengah duduk di kursi melirik ke arah Aira yang tengah duduk di sebelah Wira. Ia merasa tertarik akan obrolan dengan keduanya, padahal jika biasanya ada yang berbicara saat makan malam berlangsung David akan menegurnya.
"Apa dia begitu spesial, sampai kau begitu bahagia mendengarnya.."tanya Wira sambil memicingkan matanya.
"tentu saja, kenapa kau begitu kepo Tuan Wira. Diamlah ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar"seru Aira. Ia mulai mengambil nasi beserta lauk sayur ke dalam piringnya.
"Kalau tidak kepo tidak tau, dan pasti akan merasa penasaran"sahut Wira, entah kebetulan atau bagaimana David merasa tersindir.
"Terserahmu."
"Ya Tuhan makanannya terlihat begitu menggoda, rasanya aku ingin makan semuanya"ucap Aira
"Kalau begitu nikmatilah apa yang ingin kau makan Aira.."ucap David,
Wira melototkan matanya, "Aku bingung makanmu begitu banyak, lalu kemana perginya. Badannya juga tetap kurus"
"Hei ralat ucapanmu itu, aku tidak kurus hanya terlihat langsing bukan"seru Aira.
David masih terdiam ia justru menikmati perdebatan Aira dan asistennya itu.
"Aku merasa benar"seru Wira.
"Terserahlah"sahut Aira.
__ADS_1
πππ
Aira terdiam duduk sendiri di gazebo yang berada di depan rumah David, entahlah ia sangat menyukai tempat ini.
"Aira.."
Aira menengok ke sumber suara yang memanggil, "Tuan David.."jawab Aira.
David berjalan ia terlihat membawa sesuatu lalu duduk di sebelah Aira, "Apa yang kau lihat"
"Bintang, bukankah mereka terlihat indah"seru Aira.
David mengangguk mengerti, kemudian ia mengeluarkan kotak hadiah berwarna merash "Aira ini untukmu.."seru David menyerahkan hadiah itu pada Aira.
"Untukku, tuan.."tanya Aira
David mengangguk, "Tapi dalam rangka apa, aku tidak ulang tahun"seru Aira
"aku tau, kalau begitu terimakasih"seru Aira mengambil hadiah itu.
"Apa yang kau lakukan nanti, saat kontrak perjanjian denganku sudah berakhir?"tanya David
Aira melirik ke arah David, kata-kata David seolah mengingatkan dirinya akan sebuah kesepakatan yang mereka buat, Aira mendesah kasar, "Aku tidak tau Tuan,"sahut Aira
"Apa kau akan tetap kembali bekerja menjadi wanita pendamping bayaran"tanya David lagi
"mungkin, itu bisa jadi.."sahut Aira apa adanya.
David terdiam, sementara Aira terus memandangi wajah David dari samping, apapun penampilan laki-laki itu, entah mengapa menurut Aira ia tetap berwibawa dan tampan.
__ADS_1
David bangkit lalu ia mengambil paperbag itu ia menyerahkan pada Aira, "Lusa, temani aku untuk datang ke pesta pernikahan rekan bisnisku Aira"ucap David.
"Baik tuan, tapi ini apa..?"sahut Aira sambil bangkit lalu menunjuk paper bag yang masih di tangan David.
"Gaun.. untukmu. Pakailah saat akan datang ke pesta nanti"kata David
"Tapi Tuan gaun yang kau belikan masih banyak yang belom saya pakai"seru Aira
"untuk menambah koleksimu, dan jangan membantahku"ucap David
Aira mengangguk dan menerima pemberian David,"baiklah, terimakasih tuan"
"Ya sudah aku permisi.."pamit David meninggalkan Aira.
Aira masih terdiam menatap punggung David yang perlahan menghilang meninggalkan dirinya. "Hanya tinggal menghitung hari aku berada di sini, entah harus senang atau sedih aku tidak mengerti", ucapnya
πππ
Aira membuka kotak hadiah yang di berikan David tadi, "Wahh ini sangat indah, pasti sangat mahal", serunya.
Hadiah itu berisi gelang yang terbuat dari berlian, dengan penampilannya saja semua orang bisa menebak jika harga gelang itu pasti sangat mahal.
"Akan ku jadikan kenangan dari mu Tuan. Aku berharap semoga kau selalu bahagia"seru Aira
Kemudian Aira melepas gelang itu lalu menyimpannya kembali. Ia pun lalu merangkak naik ke ranjang untuk tidur.
πππ
ππjangan lupa like, komen, votenyaππ
__ADS_1
bersambung...