Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Mari kita menikah


__ADS_3

Kening Tia mengkerut bingung. Kini semua keluarga Dino telah berkumpul ada Papa Surya, Annisa, David, Aira, Mega, beserta Deni, Felicia.


"Ada apa kau mengumpulkan kami semua nak.."tanya Papa Surya, ia juga bahagia melihat Tia sudah sadar.


"Aku akan menikahi Tia saat ini juga pa.."tutur Dino.


Membuat semua tergelak tak percaya, menikah di rumah sakit.


"Kau serius Dino.."tanya David


"tentu kak, aku sudah berjanji jika Tia sadar aku akan langsung menikahinya.."


"Mas Dino.."panggil Tia


"Aku tidak mau kau menolak Tia, setelah menikah kita akan tinggal bersama aku akan menjagamu.."


"Baiklah kakak akan memanggil penghulu.."


Belom sempat David menelpon, Wira tiba membawa penghulu yang akan menikahkan Tia dan David.


"Maaf menunggu lama.."ucap Wira


Wira memberanikan diri menatap satu persatu-satu penghuni ruangan itu, hingga terakhir pandangan Wira bertemu dengan Felicia, namun secepat mungkin Wira mengalihkan pandangannya. Semua itu tidak luput dari pengamatan David, ia tersenyum tipis.


Hingga sebuah kata sah mengejutkan Wira juga Felicia, keduanya terlalu larut dalam pemikiran masing-masing, hingga tidak dapat konsentrasi mendengarkan akad nikah Dino dan Tia. Ucapan selamat keluar dari semua orang yang hadir di sana.


"Setelah Tia di perbolehkan pulang, tinggalah sementara di rumah papa nak.."pinta Surya


"tapi pa.."


"Setidaknya sampai kondisi Tia pulih, biarkan Annisa merawatnya.. Mau kan Bun..."


"Tentu, aku justru senang jika kalian mau tinggal bersama."seru Annisa


"Baiklah.."


⚘⚘⚘


Entah kenapa Wira yang telah selesai mewakili David, menjalankan mobilnya menuju kampus Felicia. Ingatannya tertuju pada keadaan wanita itu yang tampak sendu saat menghadiri pernikahan Dino dan Tia di rumah sakit. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya.


Sampai depan kampus Wira menjalankan mobilnya dengan pelan, berharap setidaknya ia dapat melihat wajah Felicia meski hanya sedikit. Tuhan maha baik, Felicia keluar dari gerbang tanpa membawa mobilnya, namun yang membuat Wira terkejut akan penampilan wanita itu yang tampak kacau, matanya memerah seperti habis menangis. Tanpa sadar kedua tangan Wira mengepal, ia menghentikan mobilnya dari jarak beberapa meter dari keberadaan Felicia.

__ADS_1


Felicia berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan nanar. Wira kembali menjalankan mobilnya, tanpa sadar ia menghentikan mobilnya tepat di sebelah Felicia.


"Nona, masuklah.."ucap Wira


Felicia pun mengikuti perintah ia Wira.


"Ada sesuatu yang terjadikah, di mana mobil anda Nona.."tanya Wira setelah Felicia sudah duduk di sebelahnya, dan Wira kembali menjalankan mobilnya.


Felicia menghela nafasnya, "Ban mobilku kempes keempatnya, entah siapa yang sengaja membocorkannya. Kepalaku benar-benar pusing, banyak kejadian di kampus hari ini.."


Wira masih setia mendengarkan keluhan Felicia, "Aku merasa sudah tidak kuat untuk melanjutkan kuliahku kak, aku ingin berhenti saja.."


Cit.. Wira menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Kenapa..?"tanya Wira terkejut ia melirik ke arah Felicia sejenak.


"Setelah kejadian di kampus semua temanku mengejekku, mereka bilang wajahku polos tapi kelakuanku liar. Semua orang memandangku dengan hina Kak."tutur Felicia, mata gadis itu tempak berkaca-kaca terlihat ia begitu tertekan.


Wira meremas stir kemudinya, "Kalau begitu mari kita menikah Nona.."


Felicia tergelak menatap Wira, "Menikah.."lirihnya


"Ya, jika kita menikah tidak akan ada lagi orang yang mengejek dan memandang hina anda kan Nona. Anda tidak perlu berhenti kuliah, kejarlah cita-cita anda Nona.."tutur Wira


Wira mengangguk sambil tersenyum tipis, "Nona mau kan.."


"Mana mungkin aku menolak.."sahut Felicia ia langsung menghambur memeluk Wira, membuat Wira terkejut, terdiam kaku keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


"Nona.."Wira berusaha melepaskan pelukan Felicia.


"Feli, aku calon istrimu masa kau panggil aku Nona."


"Baiklah, Feli lepaskan. Aku akan kembali menjalankan mobilnya.."ucapnya dengan gugup.


Setelah Felicia melepaskan tangannya dari Wira. Wira menghela nafas lega.


⚘⚘


"Aku senang mendengarnya Wira, akhirnya kau menuruti permintaanku."ucap David


Setelah pulang dari mengantar Felicia, Wira kembali ke kantor memberi jawaban akan permintaan David.

__ADS_1


"Aku harap kau dan Feli akan bahagia.."


"Terimakasih Tuan.."


"Setelah menikah jika kau masih memanggilku Tuan, ku penggal kepalamu.."ancam David


Wira tergelak, David terkekeh. "Hanya bercanda mana mungkin aku membiarkan adikku menjadi janda.."


⚘⚘⚘


Felicia menatap dirinya di cermin dengan senyum mengambang, membayangkan menikah dengan Wira.


"Kau terlihat bahagia sekali Nona.."seru Air mengejutkan Felicia.


Felicia membalikkan tubuhnya, "Kakak.."


"Ayo duduklah, senang sekali kau datang.."Felicia mengajak Aira untuk duduk di ranjangnya.


"Ya, keponakanmu itu rindu dengan opanya dan omanya. Jadi aku membawanya kesini.."


Felicia mengangguk, "Calon pengantin senang amat.."sambung Aira


"Tentu saja. Aku merasa sangat deg-degan apa kakak dulu juga.."


Aira mengangguk, "Feli, kau terlihat sudah jatuh cinta padanya.."


"Tentu saja, siapa wanita yang tidak jatuh cinta pada pria tampan seperti dirinya. Apalagi melihat senyumnya, hatiku langsung meleleh kak."serunya,


ops.. Felicia menutup mulutnya saat menyadari ia telah keceplosan.


Aira terkekeh mendengar ucapan Felicia yang begitu blak-blakan.


"Kak apa malam pertama itu sakit.."tanya Felicia, kini Feli dan Aira tengah tiduran di kamat Felicia.


"Mana ku tau, aku menikah dengan kakakmu kan sudah ada Axel.."sahut Aira


Felicia mencebik kesal, "Maksudnya saat pertama kali melakukannya.."


Aira tampak berfikir, "menyenangkan rasanya kaya terbang ke awan.."dustanya, ia tidak ingin membuat Felicia takut.


⚘⚘

__ADS_1


jangan lupa like, komen, hadiahnya


bersambung..


__ADS_2