
πΉπΉPart terakhir ya ππΉπΉ
Hari terus berlalu tanpa terasa kini kandungan Felicia sudah memasuki bulan kelahiran. Kini Felicia dan Wira tingga di kediaman rumah utama. Deni menolak keras untuk Wira membeli rumah, ia menyuruh Wira dan Felicia menempati rumah utama bersama dengannya.
Felicia terlihat duduk di atas ayunan yang ada di taman rumahnya sambil menyulam baju bayi dan bersenandung kecil dengan senyuman bahagia. Wajahnya terlihat semakin cantik dan bahagia, memiliki suami yang tampan, pintar, dan juga sangat menyayangi dirinya, dan anak yang akan lahir kedunia sebentar lagi akan semakin melengkapi kebahagiaannya.
"Darling, jangan terlalu lama berjemur nanti masuk angin.."ujar Wira mencium bibir Felicia sekilas.
"Bukankah dokter menyarankan agar aku banyak berjemur, hubby..."sahut Felicia terkekeh geli menanggapi ke over protektivan suaminya.
Wira menatap Felicia dengan tatapan penuh cinta, hal yang ingin ia lakukan setiap harinya. "Berjemur memang baik sayang, tapi jika terlalu banyak dokter bilang juga tidak baik.."ujar Wira
"Iya Hubby, ayo kita masuk dan sarapan aku lapar.."ujar Felicia berdiri yang langsung di bantu oleh Wira. Kandungan Felicia yang semakin membesar hingga ia sering merasakan sakit di seluruh tubuhnya, namun untungnya suaminya selalu siaga tanpa merepotkan yang lain. Felicia sangat bersyukur hal itu.
Usai sarapan Wira memberikan memberikan segelas susu khusus ibu hamil pada Felicia.
"Minumlah sayang, aku akan ke kamar sebentar untuk mengambil laptop milikku.."ucap Wira, Felicia mengangguk lalu menerima segela susu itu. Wira berlalu meninggalkan Felicia, di meja makan.
Prang...
Suara pecahan gelas yang jatuh membuat Wira kaget, dan segera kembali ke sisi istrinya dengan berlarian seperti orang gila, panik ya dia sungguh sangat panik.
Saat Felicia sedang meminum susunya, ia merasakan perutnya sangat sakit luar biasa, hingga ia menjatuhkan gelasnya ke lantai, membuat pelayan yang melihatnya segera menghampirinya dengan wajah khawatir. Dan segera membersihkan pecahan gelas di bawah kaki Felicia dengan cepat agar tak terinjak.
Felicia terlihat memegang perutnya dengan wajah pucat dan erangan kesakitan keluar dadi mulutnya. Keringat terlihat mulai membasahi keningnya, dan Wira malah terlihat terpaku di tempatnya. Semua praktek yang ia pelajari saat harus menjadi suami siaga lenyap seketika dan malah terlihat hampir menangis, ia bingung harus melakukan apa. Melihat Felicia merintih kesakitan hatinya terasa lebih sakit.
"Bodoh, kenapa kau malah terdiam kak. Aku mau melahirkan"teriak Felicia kesal melihat suaminya sama sekali tak kunjung mengambil tindakan.
Wira gemeteran menghampiri istrinya, "Apakah sakit banget, tahan ya.."
"Tentu saja sakit, pakai nanya lagi.."
Mega dan Deni baru memasuki rumah, kemarin keduanya baru menginap di rumah David. Keduanya di kejutkan dengan teriakan dari arah meja makan.
"Kenapa diam, ayo bawa aku ke rumah sakit.."teriak Felicia kesal.
"Feli.."ucap Mega dan Deni bebarengan.
Mega melihat ke arah wajah putrinya yang sudah merintih kesakitan, lalu melihat ke bawah kakinya.
"Air ketubannya sudah pecah, ayo Wira bawa Feli ke rumah sakit.."Ucap Mega
"Pergilah ke rumah sakit dengan papa, mama akan menyusul membawa perlengkapan lainnya.."
Wira mengangguk, lalu menggendong Felicia menuju mobil.
"Biar Papa yang menyetir.."ucap Deni.
Wira menyandarkan kepala Felicia di pahanya, sambil sesekali mengusap keringat yang membasahi dahi istrinya.
"Sabar ya,.."
"Kuat ya sayang...."Ucapnya dengan gemetar.
Felicia tersenyum saat melihat kekhawatiran di wajah suaminya, "Kakak tenang saja, aku dan putri kita pasti akan baik-baik saja.."
Wira mengangguk, "Tentu sayang, kau adalah wanita yang kuat, aku tau itu.."ia membelai lembut lalu mengecup kening istrinya.
πΉπΉπΉ
Ruang Persalinan.
"Aaaa..."teriakan itu bukan berasal dari bibir Felicia melainkan dari bibir Wira, membuat dokter dan perawat di sekitar menggelengkan kepalanya, melihat pasangan yang kocak.
__ADS_1
"Aku yang kesakitan kenapa kau yang teriak sih kak, malu-maluin.."cetus Felicia
"Kau mencubit tanganku dengan erat Fel, lihat saja kulitnya bahkan sampai lepas.."
"Tahan sedikit lah, sakitmu bahkan tak sebanding denganku. Jangan mau enak buatnya aja aja,"ucap Felicia, membuat Wira tergelak, Dokter dan perawat yang di sana melongo tapi mereka tak mau ikut berkomentar.
"Ayo nyonya tarik nafas....."
"Lalu keluarkan, kepala bayinya sudah terlihat.."
Felicia kembali mengikuti aba-aba dokter..
"Aaa.."
oek.. oek... suara tangisan bayi terdengar menggema di ruang persalinan.
"Bayinya perempuan sangat cantik.."Dokter mengangkat bayi itu,
Felicia tersenyum senang sementara Wira terkejut, "Da.....darah..."pekiknya
Bruk.. Wira jatuh pingsan..
"Kak Wira.."teriak Felicia.
πΉπΉπΉ
Felicia sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Deni dan Mega tampak senang menggendong cucu ke empat mereka.
"Gak nyangka ya Pa, kita sudah punya banyak cucu..."tutur Mega sembari mencium cucunya.
"Iya sayang, udah tua. Kayaknya baru kemarin aku ngejar-ngejar cinta kamu ma.."sahut Deni mengecup pipi Mega.
Sementara Felicia menggelengkan kepalanya, namun ia juga bahagia melihat kemesraan kedua orang tuanya yang tak pernah pudar.
"Entahlah... Dokter sudah menanganinya mungkin dia kelelahan.."jawab Deni,
"Ayo sini sama opa sayang..."mengambil cucunya.
Pintu ruang perawatan terbuka Wira masuk dengan tergesa-gesa.
"Darling kau baik-baik saja kan.."tanya Wira begitu berada di dekat Felicia.
Felicia mencebik kesal, "Tau ah, kakak benar-benar payah pakai pingsan segala.."
Wira menggaruk kepalanya, "maaf sayang, aku lihat darah banyak banget..."
"Kalian memberi nama siapa putri kalian.."tanya Deni
"Valerie.."
"Bagus papa suka artinya wanita yang kuat dna tabah.."
πΉπΉπΉ
Kediaman Utama
Tiga hari usai menjalani perawatan Felicia sudah di perbolehkan pulang. Hari ini Deni sengaja mengumpulkan semua keluarga besarnya ke kediamannya.
Keluarga kecil David tentu saja datang, terlihat Aiden dan Ailen sedang mencoba untuk berdiri namun selalu gagal, saat mereka mendengar ada yang menertawakannya keduanya akan menangis.
"Cup sayang, Daddy hanya bercanda. Kalian terlihat lucu makanya Daddy tertawa.."ucap Aira pada kedua anaknya.
Sedangkan Axel, anak itu terus menempel pada Opanya. Anak itu memang sangat dekat dengan opanya.
__ADS_1
Dino dan Tia juga tiba di sana, tentunya dengan Baby Seena yang sedang aktif mencoba merangkak. Dera sangat antusias dengan perkembangan cucunya, ia sangat beruntung memilik cucu yang cantik dan imut.
"Sabar sayang kau pasti bisa tapi perlahan.."tutur Dera pada cucunya. Dino dan Tia terkekeh mendengarnya. Dera memang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama cucunya, hampir tiap hari Dera mengambil penuh putri Dino itu. Alasan yang klise, "karena Mama bosan jika tidak apa-apa, kalian segeralah membuat adik untuk Seena. Mama dengan senang hati merawatnya."
Wira sejak tadi membujuk istrinya untuk makan, Felicia berkali-kali menolak.
"Ayo sayang cepat makan.. aa..."bujuk Wira
"Aku masih kenyang, baru dua jam yang lalu aku makan.."Felicia menggelengkan kepalanya.
"Ibu menyusui itu haru makan yang banyak agar Valerie sehat.."
"Tidak mau, aku mau gabung dengan mereka di depan.."
"Baiklah.."
Wira membawa Felicia keluar kamar bergabung dengan yang lain.
"Ya ampun Axel makin ganteng, makin kepengen kan aku punya anak laki-laki.."ucap Felicia, tentunya membuat semua orang melirik ke arahnya.
"Tunggulah empat puluh hari..."ujar Wira
"Untuk apa..."
"Nanti kita buat anak laki-laki.."ucap Wira, membuat Felicia tergelak, sementar semua yang mendengar melongo.
"Kau saja yang hamil kalau begitu.. Dasar pria.."
"Dasar wanita, malu-malu juga mau..."
"Kakak..."teriak Felicia kesal.
"Maaf sayang, bercanda.."Wira mengecup pipi Felicia.
"Makasih ya udah jadi istri yang baik, udah menghadirkan malaikat kecil untuk kita.."
"Aku bahagia sangat..."tuturnya
"Aku juga, I love u..."ucap Felicia ia mendongak menatap wajah suaminya.
"I love u too.."Sahutnya ia mengecup bibir istrinya.
ehem.. ehem...
"Ingat lagi puasa, awas keterusen.."celetuk Dino
"serasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak gitu.."lanjutnya.
Yang lain cuma terkekeh, sedangkan Wira dan Felicia langsung merona malu.
END
πΉπΉ
Note : Terimakasih untuk para readers tercinta atas dukungan karyaku yang receh ini. Untuk segala komentar, like, hadiahnya, jujur tanpa kalian Ara bukan apa-apa.
Bye.. bye.. sampai jumpa di karya Ara yang lain ya, bagi kalian yang penasaran dan masih mau baca karya Ara boleh klik profil Ara masih ada karya Ara yang On Going..
Ada Bang Tristan, Bang Nanda, dan Bang Darren ya..ππ
Tapi kalau gak mau juga gak papa, gak maksa kok, apalah dayaku yang hanya Author receh, hihi masih sangat jauh dengan karya para author hebat yang lain.ππ
^^^ Salam Manis ^^^
__ADS_1
^^^Arsyazahra (Ara)^^^