Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 :Kanker otak


__ADS_3

CAFE AND RESTO DINO


Dino sedang mengecek data beberapa karyawan miliknya. Hingga ia menemukan data seseorang yang tak terduga.


Dino mengangkat gagang telponnya, ia mulai menghubungi seseorang.


"Lena, tolong ke ruanganku.."titahnya, setelah itu ia menutup telponnya.


Tidak lama seorang gadis yang bernama Lena itu datang, ia merupakan asisten Dino.


"ada apa Tuan.."tanya Lena setelah ia mengetuk pintu dan di perbolehkan masuk oleh Dino.


"Kau yang menerima data penerimaan karyawan baru, aku hanya ingin bertanya pada karyawan yang bernama Nina. Kau tempatkan di mana..?"tanya Dino


"Waiters Tuan, dia memang baru masuk Tuan. Tapi saja jamin dia rajin kok Tuan.."tutur Lena


Dino mengangguk, "kau boleh pergi.."


"Lena.."panggilnya lagi


"Ya Tuan.."seru Lena


"Tolong panggilkan karyawan yang bernama Nina suruh keruanganku.."perintahnya


"Baik Tuan.."


⚘⚘


Nina memegang gagang pintu ruangan Dino dengan gemetar, pikirannya berkecemuk ke mana-mana. Ia takut dirinya di pecat, apakah ia telah melakukan kesalahan, seingatnya ia selalu berusaha bekerja dengan sebaik mungkin.


Menghela nafasnya Nina memberanikan diri mengetuk pintu.


"Masuk.."ucapnya dari dalam.


Nina segera menarik gagang pintu lalu melangkahkan kakinya masuk.


"Tu.. tuan memanggil saya.."ucapnya dengan sedikit gemetar.


Dino yang semula menunduk mendengar suara Nina pun mendongakkan kepalanya, membuat Nina terkejut, namun Nina berusaha menguasai diri untuk berpura-pura biasa.


"duduklah.."perintah Dino


Nina mendudukan dirinya di sebrang Dino.


"Tuan, apa saya melakukan kesalahan.."tanya Nina memberanikan diri.


Dino tersenyum tipis, "Tidak, karena Lena mengatakan kau mempunyai kinerja yang bagus.."


Lena menghela nafasnya lega, "Lalu.."


"Kau pasti mengingatku kan Lena, apa yang membawamu bekerja di sini?. "tanya Dino to teh point.


Mata Nina bekerja berkaca-kaca, "Tuan.."

__ADS_1


"Semenjak kematian Papa. Mama menjadi sakit-sakitan, dokter mengatakan Mama menyidap penyakit kanker otak. Mama selalu menolak melakukan kemoterapi ia bilang ia memang menginginkan segera mati untuk menyusul papa, Mama begitu menyesali perlakuannya pada Papa selama Papa masih hidup. Aku harus bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami,"tutur Nina dengan mata berkaca-kaca, Nina meremas kedua tangannya.


Dino terkejut mendengarnya, "kanker otak.."lirihnya


"Apa kau tidak berniat menemui Aira dan mengatakannya tentang kondisi mamamu.."tanya Dino


Nina menggeleng dan tersenyum, "Mama tidak memperbolehkannya.."


"Kenapa..?"tanya Dino


"Kami menyadari perlakukan buruknya pada Kak Aira. Kami sudah cukup senang mendengar Kak Aira sudah menikah dan mempunyai suami. Mama menganggap penyakit yang ia derita merupakan sebuah hukum karma. Aku dan Mama sepakat untuk tidak akan mengusik kehidupan kak Aira.."tutur Nina


"Tapi dia saudaramu.."


"Kami tidak ada ikatan darah Tuan, sudah cukup penderitaan yang kak Aira alami. Aku tidak ingin menambahnya lagi.."ujar Nina


"Tuan, apa ada lagi saya harus.."


"Kau boleh pergi, lanjutkan pekerjaanmu.."ucap Dino


Nina mengangguk, dan berlalu pergi. Setelah menutup pintu Nina berlari ke dalam kamar mandi. Tangisnya pecah, mamanya selalu berbicara kematian, hal itu membuat Nina takut lantaran jika mamanya pergi Nina hanya akan hidup sebatang kara.


"Apakah aku akan sekuat kak Aira.."gumamnya. Nina menyalakan kran air lalu membasuh mukanya.


⚘⚘


Dera terdiam mematung menatap foto Dino yang terbingkai di meja kamarnya, tangannya tergerak membelai permukaan foto itu.


Ingatannya tertuju pada kejadian beberapa hari yang lalu di mana Dino mengungkapkan segala keluh kedah isi hatiny itu.


Deni memang tidak tau perihal tentang Dera lah otak di balik kejadian pesta David. Putranya itu hanya mengatakan Jelita lah tersangkanya. Namun Deni menyadari ada yang aneh dengan adiknya itu, kini ia tidak suka keluar rumah menghabiskan uang untuk berbelanja yang tak berguna.


"Dera apa ada sesuatu..?"tanya Deni saat makan malam berlangsung.


Dera menggelengkan kepalanyan, ia menatap sang kakak benar keluarga Deni terlalu baik untuk ia sakiti. Namun rasa gengsi mengalahkan segalanya. Ia juga takut jika Deni mengetahui segalanya kakaknya itu akan murka padanya.


"Kau sudah jarang pergi berbelanja, apa kau sudah bosan.."sambung Deni


"Tidak ada yang ingin aku beli Mas.."tutur Dera


Deni mengangguk. Mega hanya terdiam mendengarkan obrolan keduanya.


⚘⚘⚘


David, Aira, Axel, dan Tia sedang melakukan makan malam.


"Apakah lagi.."tanya Aira pada David saat ia mengambilkan nasi untuk sang suami.


"Cukup sayang, aku tidak mau makan terlalu banyak nanti jadi ngantuk.."ujar David


"Tinggal tidur. ."seru Aira ia mengambilkan lauk beserta sayudnya


"Ada tugas yang harus ku selesaikan, sepertinya malam ini aku harus lembur.."ucap David

__ADS_1


"Lembur.. "Aira mengerutkan keningnya


David menyuruh Aira mendekatkan telinganya, kemudian ia membisikan sesuatu, membuat rona merah di wajah Aira muncul.


"Mommy aku juga ingin udangnya.."pinta Axel dengan manjanya.


"Mommy ambilkan.."Aira mengambil udang goreng untuk Axel.


Pandangan Aira beralih ke arah Tia yang tampak mengaduk-aduk makanannya.


"Ada apa Tia, apa makanannya tidak enak.."tanya Aira


Tia terlonjak kaget, "enak kok Kak.."serunya


Aira menyuruh Tia memanggilnya Kakak baginya Tia sudah seperti adiknya sendiri.


"Jika kurang suka, kau bisa menyuruh koki memasak makanan yang kau inginkan Tia.."tutur David


Tia menggeleng, "Ini cukup kok kak.."


Kembali hening mereka makan-makanannya sendiri.


"Wah kebetulan aku lapar sekali,"Dino datang mengejutkan semuanya,


"Uncle Dino, kenapa tidak pernah datang.."seru Axel dengan girang


"Uncle terlalu sibuk sayang.."ucapnya ia menguspa kepala Axel, lalu matanya beralih melirik Tia, namun gadis itu hanya bersikap acuh.


'Sepertinya ia marah beberapa hari ini aku tidak pernay menemuinya', gumam Dino


Dino mendudukan dirinya di sebrang Tia, matanya menyapu orang-orang yang ada di dekatnya. Hingga pandanganya berhenti pada Aira, ingatannya tertuju pada pertemuaannya dengan Nina tadi pagi. Ia dilema haruskah ia mengatakannya pada Aira, namun Nina sudah melarangnya keras.


"Ehem.."David berdehem keras membuyarkan lamunan Dino.


"Dino, kenapa memandang istriku seperti itu.."ucap David


Dino tersenyum canggung, "Hanya melihat pelit sekali, cemburu gitu.."ucapnya


David menghela nafasnya, bukannya ia cemburu David percaya Dino tidak mungkin punya perasaan lebih, hanya saja sikap Dino barusan membuat Tia cemberut. David menyadari Tia tengah cemburu, David menggeleng.


"Dasar tidak peka.."gumamnya


"Kakak aku sudah selesai makannya, aku permisi dulu.."pamit Tia mendadak selera makannya hilang. Tia bangkit dari tempat duduknya tanpa menghiraukan Aira yang memanggil dirinya.


Dino menatap Aira, Aira hanya mengedikkan bahunya. Dino kembali menatap David,


"Apalagi, kejar sana. Dasar tidak peka.."ucap David memberi kode untuk mengejar Tia. Dino pun bangkit mengejar Tia,


⚘⚘⚘


Sambil nunggu up eps berikutnya kalian boleh mampir di karya ketigaku, di sana sudah ada 10 bab. Mampir ya ramein..😊


__ADS_1


⚘⚘Hari senin tiba, jangan lupa like, komen, hadiahnya. Yan punya tiket vote boleh di bagi, kebetulan hari senin ⚘⚘


bersambung..


__ADS_2