
Felicia memandang sepiring martabak dengan tatapan bergidik ngeri, warnanya hitam lalu terlihat bantat tak mengembang. Ia jadi tak yakin, makanan itu layak di makan.
Ini sudah percobaan yang ketiga hasilnya tetap sama. Felicia menyerah, bodo amat jika nanti suaminya mau merengek layaknya akan kecil. Apa-apaan dia yang hamil, tapi dia pula yang repot. Enak banget jadi Wira, jika tau hamil begini mungkin Felicia akan berfikir ulang nanti saat akan kembali hamil.
Lihat saja penampilan dirinya kini, rambut dan wajah sudah bertaburan tepung di mana-mana. Sementara suaminya itu asyik-asyikan berendam di bathup kamarnya, ingin sekali Felicia guyurkan tepung di wajah suaminya kini.
Felicia mengelus dadanya, "Sabar.. sabar.."gumamnya, untungnya cinta.
"Darling apakah sudah jadi pesenanku.."tanya Wira yang baru saja tiba di depan istrinya.
Glek.. Felicia menelan ludahnya dengan susah melihat penampilan suaminya yang terlihat semakin tampan dan menggugah iman, di tambah dengan rambut basahnya, jadi ingin berlari dan memeluk tubuhnya lalu membawanya ke kamar, eh.
Tidak.. tidak.. Felicia mengenyahkan pikiran mesumnya itu, ia memukul kepalanya menggunakan tangannya, membuat Wira mengernyit bingung. Apa-apaan dia lagi dalam mode ngambek sama suaminya itu.
"Apa kau tidak waras.."tanya Wira, sontak Felicia melototkan matanya.
"Jadi kau mau bilang jika istrimu ini gila.."sewot Felicia tidak terima, ingat hormon ibu hamil emang suka berubah-rubah.
"Aku tidak bilang begitu,.."sangkal Wira ia menarik kursi di meja makan lalu mendudukan dirinya di sana.
Felicia mengerucutkan bibirnya kesal.
"Mana sayang pesananku.. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya.."tanya Wira dengan binar bahagia.
Felicia mengedipkan matanya, tibalah idenya terlintas. "Udah dong, tenang aku bikinnya pake cinta pasti enak. Tapi kau harus berjanji untuk mengahabiskannya.."yang benar aja bikin pake cinta, hihihi emang ada.
"Benarkah, baiklah. Mana martabaknya.."seru Wira
"Sebentar..."Felicia berlalu membuka tudung saji di depannya.
Satu..
Dua..
Tiga..
"Tara... Selamat menikmati martabak spesial ala Felicia.."ucap Felicia dengan girang.
Sementara Wira melototkan matanya melihat penampilan martabak yang begitu kacau, hitam, bantat seperti pantat panci.
"Fel, kenapa tampilannya jadi seperti wajahmu.."ceplos Wira tanpa dosa, membuat Felicia meradang.
__ADS_1
"Kakakk...."teriak Felicia kesal. Ia langsung melempar celemeknya di muka suaminya.
Sadar akan kesalahannya Wira segera menutup mulutnya, "Kenapa bisa salah bicara.."
Felicia menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu menatap tajam Wira, "Habiskan martabak itu kalau tidak kakak tidak boleh masuk kamar.."
"Sayang, maksudku seperti bajumu . Aku tadi salah bicara.."Wira berusaha memegang tangan Felicia.
"Aku tidak peduli, pokoknya kakak harus makan. Kau bilang menginginkannya jadi sekarang nikmatilah.."
"Fel.."
"Hem.."
"Aku hitung sampai tiga.. kalau kakak gak makan aku akan kunci pintu kamar dari dalam.."ancam Felicia
Glek.. Wira menelan salivanya dengan kasar, ia menatap nanar sepiring martabak yang tak jelas warna dam bentuknya.
"Satu..."
"Dua.."
"Oke aku akan memakannya.."sahut Wira cepat. Felicia menyunggingkan senyum manisnya.
"Enak kan.."ucap Felicia, menahan tawanya.
"em iya.."hanya itu yang keluar dari mulut Wira.
Satu suap di biasa saja..
Dua suap merasa aneh..
Tiga suap.. ia sudah tidak kuat untuk menelannya lagi, rasanya bener-benar aneh,.. Secepat kilat ia berlari ke arah wastafel lalu memuntahkannya.. Ini merupakan martabak dengan rasa teraneh yang pernah ia makan..
huek.. huek..
"Aku nyerah Fel, gak kuat. Lebih baik aku tidur di ruang tamu deh, dari pada aku suruh ngabisin martabak sialan itu.."seru Wira
Felicia terkekeh, "Kan sudah ku katakan jika aku tidak bisa membuatnya, kakak tetap memaksa sih.. Makanya jangan suka meminta aneh-aneh padaku. Untuk tidak ku taro racun sianida tadi.."
Wira melototkan matanya, "Teganya, kau mau bunuh aku.."
__ADS_1
"Iya, aku masih muda. Kalau kakak mati kan aku bisa nikah lagi.."sahutnya.
"Tidak akan ku biarkan itu terjadi.."sewotnya.
🌹🌹🌹
Felicia membaringkan dirinya memunggungi Wira. Wira mendekatkan tubuhnya pada tubuh Felicia.
"Fel, sudah tidur.."
"Sudah."sahutnya, Wira terkekeh mana ada orang tidue bisa jawab.
Memiringkan tubuhnya, Wira mendekap erat tubuh Felicia yang semakin berisi, ya iya makin berisi Felicia tidak merasakan mual pada umumnya wanita itu tetap doyan makan apapun.
Tangannya Wira membelai lembut perut Felicia yang terlihat sedikit membuncit, perlahan tangannya bergerak menyusup di balik gaun tidur istrinya membuat Felicia tersentak.
"Kak tangannya ih, geli tau.."decak Felicia kesal.
"Fel, boleh ya..."
"Apaan.."sahut Felicia
"jenguk dede bayi.."
Felicia sontak membuka kembali kedua matanya, "gak boleh sering-sering kak.."tolak Felicia dengan halus.
"Pelan-pelan kok, dedenya juga rindu ama Daddy nya, ya gak dek.."desak Felicia, pria itu terus menyusupkan tangannya di balik gaun tidur istrinya,
"Aku lelah kak.."
"Kau cukup diam, biarkan aku yang bekerja.."pintar saja Wira menjawab jika dalam urusan hal begitu.
Felicia menghela nafasnya, Wira membalikan badan Felicia lalu mulai mencium bibir ranum istrinya. Pertahanan Felicia runtuh saat itu juga, ia yang tadinya tidak mau juga menikmati segala sentuhan-sentuhan lembut suaminya. Kini hanya terdengar suara desahan dan erangan di dalam kamar itu.
🌹🌹🌹
Jangan lupa
Like
Komentar
__ADS_1
Hadiahnya