
Wira menatap nanar pada gedung yang menjulang tinggi di depannya. Adinata Group hampir tujuh belas tahun dirinya menjajakan kaki di perusahan itu, dengan setia ia selalu berdiri di belakang David. David bukan hanya seorang atasan bagi dirinya, ia sudah menganggap pria itu layaknya saudara sendiri.
Tersenyum kecut ketika ia membayangkan reaksi apa yang akan David tunjukan kala ia berani mengambil keputusan sepihak.
Wira kembali melangkahkan kakinya masuk ke perusahaan, di dalam banyak karyawan yang menyapa dirinya, namun Wira sama sekali tidak menjawabnya. Pria itu sedikit berlari kecil menuju lift yang akan membawanya ke ruangan David.
Ting.. pintu lift terbuka.
Dengan menguatkan dirinya, Wira mengetuk pintu ruangan David.
"Masuk.."jawab David dari dalam.
Ceklek...
"Kau datang Wira. Aku sempat berfikir kau tidak datang ,pekerjaan hari ini begitu menguras tenaga, kemarilah Wira bantu aku.."titah David
Wira melangkahkan kakinya masuk. "Tuan.."
"Ada apa ? kau ingin mengatakan sesuatu."tanya David, pria itu meletakkan pulpen yang ia pegang, kemudian beralih menatap Wira.
"Katakanlah, tapi setelah itu bantu aku. Hari ini aku ingin sekali pulang cepat. Aira memintaku untuk pulang lebih cepat, setelah hamil dia begitu cerewet dan emosional.."sambung David.
Wira menghela nafasnya, lalu mengambil sebuah kertas yang sudah ia masukan ke dalam amplop berwarna coklat. Ia keluarkan lalu ia memberikannya pada David.
David mengerutkan keningnya, lalu tangannya menggapai amplop itu dan membukanya. David membaca kata demi kata, kemudian pria itu menatap Wira dengan sinis. David meremas kertas itu dengan kuat, tangannya mengepal, namun sekuat tenaga ia tetap mengontrol emosinya, David tau ada sesuatu yang membuat Wira mengambil keputusan sebesar ini.
"Tu...an.."
"Kau fikir kau siapa? berani mengambil keputusan seperti ini.."cecar David, ia bangkit dari tempat duduknya.
Deg... saat Wira hendak membuka mulutnya..
"Aku atasanmu di sini. Tidak ada yang bisa mengeluarkanmu begitu saja. Hanya aku yang berhak, kau hanya akan pergi dari perusahaan ini jika aku yang memintanya.."ujar David seraya memejamkan matanya sejenak, sebelumnya ia tidak pernah sekalipun berbicara seperti ini pada Wira, sekalipun Wira membuat kesalahan. David akan selalu mengerti, namun kali ini David tidak akan menerima keputusan Wira keluar dari perusahaan miliknya.
"Tuan, saya rasa ini keputusan yang tepat, biarkan saya pergi."pinta Wira.
David memalingkan mukanya terdiam acuh, "Kalau begitu pergilah dan tidak usah kembali.."usir David.
Deg..
π·π·π·
Tring... tring...
telpon rumah kediaman Adinata berbunyi, Mega yang mendengarnya segera mangangkatnya.
"Ya hallo.."
__ADS_1
"Di mana Felicia.."
"ada, di kamarnya.."
"Bilang padanya Wira mengundurkan diri dari perusahaan. Hari ini dia akan meninggalkan kota ini.."
"Kau serius.."
"......"
Setelah menutup telponnya Mega segera naik tangga menuju kamar Felicia.
Ceklek.. Mega membuka pintu kamar Felicia yang tak terkunci, Felicia sedang mengeringkan rambutnya tampaknya wanita itu baru selesai membersihkan diri.
"Kau mau ke mana Feli..?"tanya Mega
"Kampus.."jawab Feli
Mega menghela nafasnya, "Feli apa kau tidak mencintai suamimu.."
Felicia tetap diam acuh tak menjawab pertanyaan Mega.
"Barusan kakakmu menelpon, jika Wira telah mengundurkan diri dari perusahaan, hari ini dia akan meninggalkan kota ini.."tutur Mega
Deg.. Felicia terkejut, ingatan kembali melayang akan ucapan Wira itu.
"Aku pergi.."
"Jaga dirimu dengan baik.."
Felicia menggelengkan kepalanya, ia langsung mematikan hari drayer miliknya, lalu beralih mengambil tas miliknya, dan mencari kunci mobilnya.
"Kau mencari apa sayang.."
"Kunci mobil Ma.."seru Feli dengan gemetar menahan takut.
"Memangnya kau mau kemana,.."
"Kak Wira tidak boleh meninggalkanku.."ucapnya mulai terisak.
"Pakailah mobil Mama, ini kuncinya. Ayo kejarlah dia.."ujar Mega ia menyerahkn kunci mobil miliknya.
Felicia segera menerima kunci mobil itu, dan berlari keluar kamarnya, tanpa menyisir rambutnya lebih dulu.
"Hati-hati Feli.."teriak Mega.
π·π·
__ADS_1
Felicia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali dia mengklakson mobil yang berada di depannya.
Mengurangi kecepatan mobilnya, Felicia meraih ponselnya dan mencoba menelpon Wira, terhubung namun tidak di angkat.
"Kenapa tidak di angkat.."
Felicia menggelengkan kepalanya, "Dia pasti masih di apartemen miliknya, aku harus segera sampai di sana.."
Felicia kembali menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di apartemen Wira sebelum pria itu pergi.
ββ
Wira sedang membereskan pakaiannya ke dalam koper yang akan ia bawa. Tangannya beralih pada foto pernikahannya dengan Felicia, tampak wanita itu tersenyum manis.
"Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum manis seperti ini,.."ucapnya ia membelai bingkai foto itu, lalu memasukannya ke dalam koper.
π·π·
Felicia memarkirkan mobil miliknya dengan asal, keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Felicia berlari menuju lift. Berkali-kali ia memencet tombol lift namun tak juga terbuka, di lihatnya samping lift satunya sedang dalam perbaikan.
"Sial.."umpatnya.
Wanita itu segera berlalu menuju tangga darurat, menuju lantai lima di mana apartemen Wira berada. Dengan nafas tersengal-sengal wanita itu terus menapakkan kakinya pada anak tangga tersebut.
π·π·
Sret.. Setelah di rasa sudah masuk semua, Wira menarik resleting koper miliknya, lalu mulai menyeret koper miliknya dan melangkah keluar kamar.
Sampai depan pintu Wira kembali menengok kamar miliknya, setelah di rasa cukup Wira kembali melangkahkan kakinya keluar.
Melewati ruang tamu, Wira segera membuka pintu apartemen miliknya.
Tring.. pintu terbuka dengan otomatis.
Wira terkejut mendapati Felicia sudah berdiri di hadapannya, dengan penampilan kacau rambutnya begitu berantakan, nafasnya tampak ngos-ngosan, air matanya terus mengalir.
"Feli, kamu..."ucap Wira terkejut.
Hiks.. hiks.. Felicia kembali terisak, dengan rasa gemetar Felicia melangkah masuk dan langsung menabrak tubuh Wira dan memeluknya erat.
"Jahat.. kau mau pergi meninggalkanku.."ucapnya, wanita itu terus memukul dada Wira dengan kencang.
π·π·
niat mau up semalam udah ngetik dapat setengah eh ketiduran, maaf kan Ara ya..π kayaknya Ara kelelahan..
jangan lupa like, komen, hadiahnya..
__ADS_1
Mau liat berapa banyak komentar hari ini, kalau banyak aku usahakan up lagiππ
bersambung..