
Baik Dino maupun David keduanya sama-sama terkejut. Melihat adanya Dino di sini David bisa menebak apa yang terjadi pada mereka.
David tersenyum miris selama bertahun-tahun dia mencari keberadaan Aira. Dan Dino tau benar keadaan David saat itu, namun ternyata Dino lah yang menyembunyikannya selama ini. Terselip rasa kecewa dalam hati David saat mengetahui semua ini, namun David bukanlah orang yang tidak pandai mengendalikan emosinya. Bagaimanapun David tau, Dino bisa melakukan ini karena kecewa padanya saat itu.
Suasana ruangan itu terlihat tegang dan mencekam. David, Dino, Aira duduk saling berdampingan, sedangkan Axel terlihat menikmati duduk di pangkuan Daddynya.
"Uncle Dino, ini Daddyku.."ucap Axel
"Kau benar, dia memang baik, pintar dan tampan seperti diriku. Persis seperti apa yang kau katakan saat itu uncle.."sambung Axel wajah anak itu terlihat berbinar, tanpa melihat suasana yang tegang antara Aira, David, dan Dino.
"Iya sayang.."seru Dino
"Daddy aku akan pergi ke kamar mandi sebentar.."ucap Axel
"Perlu Daddy temani.."tanya David dengan lembut.
"No, aku sudah besar.."
"Baiklah.."
Axel pun berlalu pergi ke kamar mandi. Setelah memastikan Axel sudah tak terlihat. David mengalihkan pandangannya ke arah Dino dan Aira.
Sebisa mungkin David bersikap tenang, "Ada yang ingin kau jelaskan padaku Dino..?"
Dino terlihat gugup dan bingung, "Kakak aku..."ucapan Dino tercekat.
"Jangan salahkan Dino, aku yang memintanya untuk tidak memberitahumu tentang keberadaanku lima tahun belakangan ini. "cetus Aira dengan cepat menjawab ucapan David dengan tatapan tajamnya.
David menghela nafasnya, saat David ingin membuka suaranya, "Daddy aku sudah ngantuk, bisakah kau temani aku tidur. Aku ingin malam ini tidur bersama Daddy.."ucap Axel yang datang tiba-tiba.
David melirik ke arah Aira dan Dino,
"Kakak lebih baik sekarang kau turuti kemauan Axel. Masalah tentang hal yang ingin kau tanyakan tadi, kau bisa datang padaku kapanpun kau mau, aku akan menjelaskan semuanya padamu.."ujar Dino
"Aku permisi.."sambungnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Sampai depan pintu Dino kembali melirik ke arah mereka, terlihat Axel begitu bahagia bisa bertemu dengan Daddynya, Dino tersenyum seraya mengangkat tangannya menghapus sudut matanya yang basah, sebelum kemudian kembali melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Dino terus melangkah mempercepat langkahnya sampai akhirnya ia menabrak seseorang.
Bruk..
"Awww..." keduanya sama-sama terjatuh.
"Sorry.."ucap Dino,
"Tuan Dino..."
"Tia..."
Dino melihat belanjaan Tia yang berserakan,
"Maaf Tia aku tidak sengaja.."Dino bangkit membantu Tia memunguti belanjaan Tia.
"Tidak apa Tuan.." ujar Tia sambil mencoba kembali berdiri.
"punyamu..."Dino memberikan kembali belanjaan Tia. Tia menerimanya, tanpa sadar Tia melihat mata Dino yang sedikit memerah seperti habis menangis.
"Tuan, apa kau baik-baik saja.."tanya Tia
"Habis belanja kebutuhan dapur di supermarket depan.."jawab Dino
Dino mengangguk sambil tersenyum tipis, "Lain kali belanjalah saat pagi atau siang hari. Jangan biasakan keluar pada malam hari."ucap Dino sambil menepuk pundak Tia lalu meninggalkannya.
Tia masih mencerna ucapan Dino, sampai akhirnya ia tidak menyadari bahwa mobil Dino sudah berlalu meninggalkan halaman rumah Aira.
Dino menggelengkan kepalanya, 'Pantas saja gadis itu bertanya keadaanku, nyatanya mataku sedikit bengkak. Ish menyebalkan hanya karena melihat raut wajah bahagia Axel saja aku bisa menangis, sebelumnya aku tidak pernah wajah Axel yang berbinar bahagia itu'gumamnya
πππ
Setelah memastikan Axel tertidur pulas, David mengecup kepala Axel.
"Selamat tidur sayang,"ucapnya sambil menarik salimut untuk menutupi tubuh putranya.
__ADS_1
Kemudian David bangkit keluar dari kamar Axel, ia mencari Aira.
"Apa dia sudah tidur,.."ucap David pada diri sendiri. David melihat pintu depan yang masih terbuka kemudian ia melangkahkan kakinya kesana. Sampai depan pintu ia melihat Aira masih duduk terdiam sendiri di teras rumahnya matanya terus menatap ke atas.
David tersenyum tipis, nyatanya Aira masih belum berubah saat suasana hatinya sedang tidak baik wanita itu pasti akan memandangi langit pada malam hari untuk melihat bintang-bintang.
Aira terkejut saat melihat David tiba-tiba sudah duduk di samping kursinya.
"Kau..."
"Apa yang akan kau lakukan setelah kau mengetahui semuanya..."tanya Aira tanpa melihat ke arah David.
"Mempertanggung jawabkan semuanya,.."seru David
Aira terdiam, "Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal saat mengandung putraku Aira.."tanya David hati-hati.
Aira memandang David tajam, lalu terkekeh sinis, "Kau fikir jika aku datang tiba-tiba berkata 'Tuan David aku mengandung anakmu' apa kau akan percaya.."
"Tentu saja, apa kau fikir aku pria sepicik itu. Aku akan mempertanggung jawabkan apa yang telah aku lakukan Aira."ujar David.
Rahang Aira mengeras menahan segala gejolak emosi, ia bangkit dari tempatnya "Lalu bagaimana dengan keluargamu?"
"Perlukah aku ingatkan kau kejadian lima tahun lalu, di mana saat itu aku merasa malu, hina, rendah di depan semua orang. Di saat aku menggantungkan harapan penuh kau akan melindungiku, nyatanya kau memalingkan mukamu dariku. Berbagai kata-kata hinaan, caci maki aku terima, tanpa siapapun melindungiku. Sejak itu aku tau kau bukan pria yang bertanggung jawab. Sejak itu aku menyadari jika aku telah salah mempercayai dirimu". Teriak Aira dengan emosi, Aira sebisa mungkin menahan air matanya untuk tidak jatuh saat itu juga, ia harus tetap menjadi wanita yang kuat, David terdiam membiarkan Aira meluapkan emosinya.
Aira tersenyum getir, "Kau tidak tau bukan bagaimana rasanya menjadi aku. Kau tidak tau apa yang ku alami setelah itu bukan. Aku tidak punya siapa-siapa saat itu, sampai akhirnya takdir mempertemukan aku dengan Dino, hanya dialah orang yang baik dan tulus dari keluargamu. Orang kaya seperti kalian hanya menilai segala hal dari segi materi."
"Aira.."ucap David
"Cukup, apapun yang akan kau jelaskan tidak bisa merubah apapun bukan.." Aira berlalu meninggalkan David di depan rumahnya.
Sampai di kamarnya Aira menutup dan mengunci pintunya rapat-rapat, bersandar pada pintu dan mulai menangis sejadi-jadinya, ia memegang dadanya yang terasa sakit kala mengingat kejadian lima tahun yang lalu. Luka yang David torehkan masih sangat membekas, dan sekarang pria itu dengan seenaknya datang mengatakan ia ayah dari putranya.
πππ
ππTidak semudah itu David mendapatkan maaf dan hati Aira kembaliππ
__ADS_1
ππJangan lupa like, komen, hadiahnya, syukur-syukur kasih tiket votenya.. makasihπππ
bersambung..