
Beberapa hari setelah konsultasi itu dan Wira benar-benar menjalan saran Dokter , kini Wira mulai merasa tenang tidak lagi mimpi buruk. Ketika Felicia memeluk dirinya pun ia tidak lagi merasa terkejut dan kaku seperti dulu. Felicia juga mengajarkan Wira perlahan-lahan untuk sekedar berciuman meski belum sampai tahap hubungan suami istri yang sebenarnya, tidak mengapa bukan? semuanya akan ada waktunya.
Ada semacam perasaan lega dalam hatinya, mungkin saja karena ia sudah kembali mendatangi makam Metta, lalu bertemu Paman dan Bibinya yang sudah memaafkan dan merestuinya. Tidak lupa pula ia bertemu Gilang dan Desi, meski keduanya bersalah tapi benar apa kata Feli mereka sudah mendapatkan karmanya sendiri. Entah kenapa ia merasa beban yang selama ini ia pikul begitu berat sekarang tidak lagi.
Melirik ke arah samping di mana Felicia sudah tertidur lelap, Wira tersenyum tipis ia mengingat ucapan Bibinya, ya benar Wira memang beruntung memiliki istri cantik, pintar, baik, bijaksana seperti Feli. Perbedaan usia yang terpaut sangat jauh tidak membuat Felicia minder mengakui ia sebagai suami. Ia sangat bersyukur tentunya, lebih bersyukurnya lagi ketika Felicia menerima segala kekurangan dan keburukannya di masa lalu.
๐น๐น๐น
Pukul sebelas malam Aira terbangun dari tidurnya ia merasa gelisah dan menginginkan sesuatu.
Mendudukan dirinya, Aira mulai mengguncang tubuh David.
"Daddy.." panggilnya, David menyuruh Aira memanggil dirinya Daddy .
"Ayo buruan bangun.."
David merasa sangat terusik ia pun membuka matanya secara perlahan, "Ada apa hem..?"jawabnya ia kembali menutup matanya lagi.
Aira merasa sangat geram, "David Adinata cepat banngun. Anakmu menginginkan sesuatu.."
David langsung membuka kedua matanya lebar-lebar jika Aira sudah memanggil namanya tandanya wanita itu sebentar lagi akan mengerluarkan tanduknya, udah kaya banteng aja..ckckck
David langsung mendudukan dirinya, lalu mengelus perut Aira.
"Anak Daddy ingin apa hem..?"tanyanya
"Aku rindu Felicia, malam ini ingin sekali aku tidur dengannya.."seru Aira
"Ya sudah besok aku suruh Feli dan Wira menginap di sini ya, biar nanti Feli bisa tidur denganmu.."
Aira menggeleng, "Aku inginnya sekarang, dan aku ingin menginap di tempat mereka."
"Tapi ini sudah sangat larut sayang.."ucapnya
"Tidak peduli aku benar-benar ingin, jika kau tidak bisa mengantarku aku bisa pergi kesana sendiri.."jawabnya
Aira bangkit menyingkap selimutnya lalu mengambil kunci mobilnya. David mengusap wajahnya kasar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya.
๐น๐น
Wira memeluk Felicia dengan erat lalu mencium kening dan pipinya.
"Aku mencintaimu Feli.."ucap Wira
"Aku juga mencintaimu kak.."jawab Felicia, membuat Wira terkejut.
"Kau tidak tidur.."
"Bagaimana aku bisa tidur aku merasa sesak nafas karena kakak memelukku dengan begitu kencang, dan sedari tadi kakak terus menciumku.."sahut Felicia
Wira terkekeh tanpa rasa bersalah, "Fel.."
__ADS_1
"Hem.."
"Bagaimana jika kita mencobanya.."
"Mencoba apa kakak..?"
"Melawan traumaku lah,..."
"Kakak yakin sudah siap.."
Wira mengangguk, "Bukankah memang harus siap.."
Felicia tersenyum, "Ya sudah ayo.."
Wira menyingkirkan beberap helai rambut yang menutupi wajah istrinya, lalu ia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi dan, dahi dan bibirnya.
Felicia mengalungkan kedua tangannya di pundak sang suami. Wira mulai menindih tubuh Felicia, Wira mulai mencium bibir Felicia dan **********, lidah Wira mulai menyapu dan mengabsen segala isi bibir Felicia. Bunyi decapan dan leguhan mulai terdengar panas di kamar itu.
ting.. tong.. Bunyi bell pintu apartemen terdengar.
Felicia melepas pangutan bibirnya.
"Kak ada yang datang.."ucap Felicia
"Paling hanya orang yang iseng.."jawab Wira asal,. Wira kembali melanjutkan ciumannya di leher jenjang Felicia.
Ting tong.. bunyi apartemen kembali berbunyi..
Wira tak menghiraukan panggilan Felicia, pria itu sudah asik dengan dunianya sendiri, kini ia mulai membuka satu persatu kancing baju atasan Felicia. Wira kembali membenamkan wajahnya di dada Felicia pada dua gundukan lembut miliknya dan mengeluarkan isinya, lalu ia mulia mencium dan sedikit memberikan gigitan kecil di sana, sementara tangan satunya mulai meremas dan memelintir yang lainnya. Membuat Felicia mulai hanyut dalam permainan sang suami.
Tring.. tring.. bunyi ponsel Wira.
"Kak ponselmu.."ucap Felicia
"Biarkan saja.."jawabnya acuh
"Siapa tau penting.."
Wira tak menghiraukan ucapan Felicia, pri itu justru kembali membungkam bibir Felicia dengan bibirnya.
Tring.. tring.. ponsel Wira kembali berdering.
"Kak.."
"Shit.."decak Wira kesal ia bangkit dari atas tubuh Felicia dan mengambil ponselnya.
"Tuan David.."gumamnya, Wira memencet tombol hijau menjawab panggilan kakak iparnya.
"Ya hallo.."jawab Wira dengan rasa kesal.
"Kau sedang apa? cepat buka pintunya. Aku sudah jamuran menunggumu membuka pintu.."perintahnya setelah itu ia menutup panggilannya.
__ADS_1
Mata Wira membulat mendengar ucapan David.
"Ck mengganggu saja.."decak Wira
"Siapa kak.."tanya Felicia
"Rapikan pakaianmu kembali Felicia, ada pengganggu.."jawab Wira. Felicia terkekeh melihat wajah kesal suaminya.
๐น๐น
Wira membukakan pintu David dengan kesal, gagal membuka segel sang istri karena ulah kakak iparnya.
"Kenapa wajahmu begitu kusut Wira.."tanya David tanpa dosa.
"Kenapa harus malam-malam datangnya. Ini kan bukan jam kantor."jawab Wira tanpa menutupi rasa kesalnya.
David terkekeh ia dapat membaca guratan kekesalan di wajah Wira, masuk ke dalam David menepuk pundak Wira.
"Sorry mengganggu. Aku kesini mengantar istriku dia mengidam tidur bersama Felicia, kau tidak ingin bukan keponakanmu itu nanti lahir ileran. Aku menyuruhnya besok saja, ia tidak mau. Maafkan kami, jika mengganggu kegiatanmu.."seru David
"Maaf ya Wira, aku menganggu aku benar tidak dapat menahan keinginanku.."ucap Aira dengan tatapan semelas mungkin, sambil mengelus perutnya. Membuat Wira jadi tidak tega.
"Kak David, Kak Aira kalian datang. Tumben.. ayo masuk. Kak Wira kenapa mereka tidak di suruh masuk sih.."seru Felicia yang baru muncul dari kamarnya, tentunya dengan pakain yang sudah rapi kembali.
Wira menggaruk tengkuknya, moodnya langsung ambyar seketika. Sementara mata Aira berbinar bahagia.
Akhirnya malam ini Aira menginap apartemen Wira, berhubung hanya ada satu kamar. Aira dan Felicia tidur di kamar. Sementara Wira dan David tidur di sofa ruang televisi.
Dengan muka di tekuk Wira membaringkan dirinya di sofa.
"Mirip sekali suami yang di usir istrinya.."gumamnya
David terkekeh, "Kelak kau juga akan merasakan menuruti hal yang tak lazim saat istrimu menyidam, lihat saja nanti.."
"Ish, setidaknya aku tidak akan membiarkan istriku mengganggu istirahat orang lain.."sahut Wira. Sebenarnya Wira hanya kesal karena David dan Aira datang di saat yang tepat.
"Ayolah kau bisa lanjutkan kegiatanmu besok, saat ini aku sungguh sangat mengantuk. Mau tidur.." David mulai memejamkan matanya.
Mau tidak mau ya Wira pun memejamkan matanya.
๐น๐น
Ngetik bab ini Ara jadi pengen ketawa sendiri ๐ ๐
Setelah kemarin-kemarin Ara suguhkan kalian drama yang sedih-sedih, hari ini Ara membawa kalian untuk sedikit tertawa lah. Semoga dapat menghibur ya.
Ayo komen di bawah ya๐, Ara tunggu lho. Jujur aku suka baca komentar-komentar kalian meski kadang tidak sempat balas pasti aku like.
Jangan lupa juga like, dan hadiahnya biar aku semangat. Sebenarnya di kasih hadiah dan like pun novelku tidak akan masuk rangking, tapi setidaknya itu mampu membuat aku semangat nulis kok, karena aku berfikir masih banyak yang minat dengan karyaku๐.
bersambung..
__ADS_1