
⚘⚘Sebelum membaca tekan like, dan hadiahnya ya.. setelah baca jangan lupa komentarnya..⚘⚘
Warning 21++
Sedikit panas, namun belum sampai mendidih..😂😂
Beberapa hari setelah itu baik Wira maupun Felicia mencoba memperbaiki hubungan mereka. Felicia mencoba menjadi istri yang baik barangkali dengan hal itu bisa merubah sifat Wira, belajar memasak, menyiapkan pakain Wira itu ia lakukan sehari-harinya. Wira pun sama terkadang ia akan menyempatkan diri mengantar Felicia ke kampus atau terkadang memjemputnya.
"Kau masak sesuatu.."tanya Wira yang baru tiba ia datang dari kamar dengan rambut yang sudah basah.
Felicia terkejut ia melihat Wira, "i..iya..:
"Nasi goreng, ayo makanlah..."sambungnya
Wira menganggukan kepalanya, "terimakasih.."
Wira pun mulai menyantap nasi goreng buatan Felicia, Felicia menopang dagunya dengan tangan kirinya matanya terus menatap Wira yang sedang makan.
"Kenapa..?"tanya Wira
"Bagaimana rasanya..."tanya Felicia
Wira tersenyum tipis sembari berfikir, "Tidak buruk, enak kok.."
Felicia menganggukan kepalanya, "Aku ke kamar duluan ya kak, ngantuk.."
"Pergilah.."
⚘⚘
Wira membuka pintu kamarnya terlihat Felicia sedang tiduran bermain ponselnya, kedatangan Wira sama sekali tidak membuat Felicia terusik.
Merangkak naik ke tempat tidur Wira ikut membaringkan dirinya di sebelah Felicia, keduanya saling memunggungi. Felicia mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas nakas.
Mencoba memejamkan matanya ternyata tidak bisa, mungkin belum menemukan posisi yang nyaman, pikirnya. Felicia membalikkan tubuhnya bersamaan dengan Wira pun melakukan hal yang sama, keduanya sama-sama terkejut, tatapan keduanya terkunci.
Wira menatap wajah Felicia setiap inci, pusatnya ia terus menatap bibir ranum milik Felicia. Mengikuti naluri hatinya, Wira merapatkan dirinya mendekat ke arah Felicia, menundukan wajahnya ia mulai mencoba mengecup bibir Felicia.
Cup.. Felicia terkejut, namun dalam hati ia merasa senang.
"Kau keberatan.."bisik Wira, hanya kata biasa namun entah kenapa bagi Felicia terdengar sensasional dan menggoda. Hanya sebuah kecupan namun entah kenapa Feli merasakan ada api yang berkorbar dalam tubuhnya.
__ADS_1
Feli menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak. "
"Apa kakak pernah berciuman sebelumnya, selain denganku saat itu maksudnya.."sambung Felicia dengan semburat rona merah muncul di pipinya.
"Pernah.."Jawab Wira, membuat Felicia kecewa ternyata ia bukan yang pertama.
"Dengan kekasihmu.."tanya Felicia
Wira melingkarkan tangannya di pinggang Felicia ia menatap wajah Felicia, "Kau banyak bicara, akan ku tunjukkan bagaimana ciuman yang sebenarnya.."
Wira kembali membungkam bibir Felicia dengan bibirnya, bukan hanya mengecup kali ini Wira bahkan ******* dan mencecapnya, lidahnya memaksa masuk menyapu langit-langit mulut Felicia.
Felicia yang awalnya terkejut, lambat laun pun mulai mengikuti permainan Wira. Felicia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, darahnya mendesir.
Merasa mendapatkan balasan Wira bersorak senang, ia kembali menahan tengkuk Felicia dan semakin memperdalam ciumannya. Keduanya saling bertukar saliva, mencecap dan *******. Terkadang pula ia menggigit bibir ranum sang istri.
Mengikuti naluri hatinya Wira menurunkan ciumannya pada leher jenjang milik Felicia, mengecup dan memberikan tanda kepemilikan di sana, hingga membuat Feli mendesahkan namanya.
Wira kembali membungkam bibir Felicia, sementara tangannya menyusup masuk dari balik gaun milik sang istri. Klik.. Wira membuka kain pembungkus dua pabrik Asi untuk anak-anaknya kelak, menariknya lalu membuangnya asal. Tangannya kembali masuk ke dalam baju tidur sang istri meremas dan menggelintir apa yang ada di dalam. Sementara bibirnya terus sibuk mengeksplor bibir ranum sag istri.
Tangannya kembali sibuk membuka kancing kimono baju tidur sang istri, setelah berhasil Wira menariknya hingga kini Felicia sudah berhasil telanjang setengah dada.
Wira menatap setiap inci tubuh sang istri, Felicia yang merasa malu ia menutup dadanya, Wira menyingkirkan tangannya.
Wira mulai menindih tubuh sang istri, ia membenamkam bibirnya pada kedua bukit kembar Felicia, satu tangannya ia gunakan untuk meremas dan memelintir yang lain.
"K..kak.."desahnya
Wira kembali menyusuri tubuh Felicia dengan ciumannya, matanya beralih pada celana sang istri. Tangannya terangkat ingin membuka, namun Wira kembali merasakan pusing yang luar biasa.
"Kau brengsek.."
"Pembunuh.."
Kilatan kejadian masa lalu kembali terlintas dalam otaknya. Mendadak muka Wira berubah pucat pasi, ia meremas rambutnya, kepalanya terasa begitu pusing, keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Felicia yang menyadari jika sang suami menghentikan aktivitasnya pun bertanya, "Kak Wira ada apa..."
Wira berusaha mengendalikan kesadarannya, menatap Feli dengan sendu.
"Feli,.. maafkan aku.."Wira langsung bangkit dari atas tubuh Felicia, dan berlari keluar kamar.
__ADS_1
Deg... Hati Felicia mencelos, merasa sangat terluka. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya,.
Felicia menatap tubuhnya yang sudah setengah telanjang, ia bangkit mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
Hiks.. hiks.. hiks... Felicia mulai menelungkupkan badannya ia menangis terisak.
Dalam sekejab ia merasa bahagia suaminya mulai menyentuhnya, namun dalam sekejab pula ia merasakan di jatuhkan dari atas awan. Hatinya merasakan sangat sakit, ia merasa tiba-tiba di campakkan begitu saja.
Apa yang terjadi..?
Apa tubuhku begitu menjijikan..?
Aku merasa sangat hina..?
Kenapa tiba-tiba ia mencampakkanku begitu saja..?
Berbagai pertanyaan mulai muncul dalam benak hatinya, terkadang ia juga memukul dadanya yang terasa sesak.
Sementara Wira, ia berlari masuk ke dalam ruang kerjanya dengan badan yang gemetar, ia tergesa-gesa menarik laci mejanya, setelah itu mengambil sebutir obat dan mulai meminumnya.
Wira menjatuhkan dirinya di lantai, badannya ia sandarkan pada meja. Lalu ia menelungkupkan badannya, sambil memijat pelipisnya. Wira menitikkan air matanya, karena dirinya Felicia pasti sangat terluka saat ini.
"Ya Tuhan, suami macam apa aku. Aku tidak dapat memberikan nafkah batin untuk istriku, kenapa kau menghukumku dengan cara seperti ini. Kenapa tidak kau biarkan aku mati saja saat itu, hingga aku tidak perlu melukai siapapun,,"ucap Wira ia menyugar rambutnya dengan kasar. Perlahan mata Wira mulai terpejam.
Tengah malam Wira kembali membuka matanya.
"Feli.."
Wira beranjak dari tempatnya, ia kembali ke kamar terlihat di sana Felicia sudah tidur lelap. Wira berjalan ke arah ranjang ia menatap wajah Felicia yang terlihat sembab, hatinya mencelos merasakan sakit.
"Maafkan aku Feli. Maafkan suamimu yang pengecut ini..."
"Ya Tuhan, aku tidak rela melihat siapapun melukainya. Namun ternyata aku selalu memberi luka padanya, beri aku waktu untuk aku bicara jujur padamu. Jujur hatiku belum siap saat ini, aku takut saat kau tau semuanya kau akan meninggalkanku..".. gumamnya.
Wira kembali melangkah keluar dari kamar, lalu kembali ke ruang kerjanya. Wira memutuskan untuk tidur di sana saja.
⚘⚘⚘
⚘⚘Sebagai penulis aku kok merasa sakit jadi Felicia, tanpa sadar aku juga menangis.. cengeng ya😭😭, silahkan hujat Wira aja ya jangan authornya😂😂⚘⚘
⚘⚘Part ini khusus Felicia dan Wira ya, untuk Dino dan Tia, Aira dan David udah bahagia kok jadi pending dulu lah⚘⚘
__ADS_1
⚘⚘Jangan lupa like, komen, hadiahnya⚘⚘
bersambung..