
🌷🌷Jangan lupa like dan hadiahnya, setelah baca jangan lupa komentarnya🌷🌷
Hingga waktu terus berlalu tanpa terasa hari kelulusan pun tiba, Wira berhasil lulus dengan predikat nilai terbaik. Metta meraih juara dua setelah Wira.
Teman-teman Wira dan Metta mengajaknya untuk berpesta merayakan kelulusan mereka, awalnya Wira menolak, namun Metta terus mendesaknya.
"Metta bagaimana jika nanti Paman dan Bibi marah.."tanya Wira dengan cemas
"Tidak akan, sekali-kali ngebantah perintahnya gak papa bukan kak.."sahut Metta
"Tapi..."
shut... Metta meraih jari telunjuknya dan menempelkannya pada bibir Wira, menyuruh Wira untuk diam.
"Hanya untuk yang terakhir kalinya kak.."ucap Metta
"Baiklah.."jawab Wira pasrah
Pesta pun di mulai di sebuah salah satu Cafe, sebelumnya baik Wira maupun Metta dan teman-temannya mengganti pakaian sekolahnya lebih dulu. Wira duduk dengan gelisah entah apa yang ia rasa.
"Duduklah yang tenang kak, kenapa kau terlihat begitu cemas,.."tanya Metta
"Entahlah, perasaanku tidak enak..."seru Wira
"Semua akan baik-baik saja Kak, tenanglah.."ujar Metta
Wira menganggukan kepalanya, seorang pelayan tiba membawakan minum untuk mereka.
"Ayolah Wira minumlah minuman ini, kau harus mencoba.."Salah satu teman mereka menyodorkan minuman dengan kadar alkohol tinggi pada Wira.
"Ini minuman apa, aku tidak mau.."sahut Wira
"Cih cemen.."decak mereka
Merasa tidak terima Wira pun mengambil minuman itu dan meneguknya habis, aneh Wira merasa ada yang aneh setelah meminum minuman itu kepalanya berputar pusing, mungkin karena ia tidak pernah meminum minuman beralkohol.
Seorang pelayan membawakan minuman jus pada mereka. Metta meneguknya hingga habis. Hingga waktu terus berlalu kepala Metta tiba-tiba berdenyut nyeri, badannya terasa terbakar.
"Ada apa?"tanya Wira sambil memijat kepalanya ia pun merasakan pusing.
"Kakak.. aku merasa gerah badanku panas.."sahut Metta ia masih berusaha mengendalikan diri.
Wira menempelkan telapak tangannya di kening Metta, "Tidak panas.."
" Badanku panas kak , aku ingin lepas baju.."
"Jangan.."teriak Wira spontan hingga semua temannya menengok ke arahnya.
"Em, sepertinya Metta sakit perut. Teman-teman kami pulang duluan ya.."ucap Wira
"Tapi Wira, apa kau baik-baik saja. Kau terlihat sedikit mabuk.."
"Tenanglah aku baik-baik saja.."
Wira memapah Metta keluar dari cafe menuju parkiran mobil. Anehnya Metta terus meraba-raba badan Wira.
"Metta diamlah, kakak harus membuka mobilnya.."decak Wira
"Kak aku ingin cium.."Metta manepis tangan Wira yang hendak membuka pintu mobilnya, ia segera bergelayut manja di pundak Wira dan memaksa mencium Wira.
Deg.. Wira terdiam mematung, matanya membulat sempurna. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghindar dari ciuman panas sang adik. Wira melihat rona merah muncul di wajah Metta, kabut gairah mulai hinggap di tubuhnya, Metta menggeliat bak cacing kepanasan.
Menghindari serangan Metta, Wira mencoba membuka pintu mobilnya, meski terasa susah karena Metta terus menempel pada dirinya.
__ADS_1
Setelah berhasil membawa masuk Metta ke dalam mobilnya, Wira mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobil duduk di kursi kemudi, ia memijat kepalanya kepalanya mulai terasa pening. Dalam perjalanan berkali-kali Metta berusaha memaksa Wira untuk berciuman. Tak jarang ia berusaha membuka pakaiannya. Hingga kini pakaian Metta terlihat begitu berantakan, salah satu kancing kemeja meliknya sudah lepas begitu saja, Wira memejamkan matanya berusaha mengendalikan diri, ia tau ada sesuatu yang tidak beres dengan adik sepupunya itu. Wira akan mencari hal itu nanti.
Citt.. mobil Wira berhenti mendadak, karena Metta semakin membrutal kelakuannya. Wira berfikid sejenak, ia tidak mungkin membawa Metta pulang dalam keadaan seperti ini, Wira melirik ke arah sekitar di situ terdapat ssbuah penginapan.
Wira memutuskan untuk membawa Metta menginap, setelah berhasil mendapatkan kuncinya Wira segera menggendong Metta, tetap saja Metta selalu berusaha menciumanya dan bertindak agresif, Wira terus berusaha memalingkan mukanya. Sampainya di kamar Metta kembali bertindak agresif,
aaaaa.. jerit Wira kala Metta berusaha mengigit tangannya dengan spontan ia melepaskan Metta.
Mendadak kepala Wira berdenyut nyeri hebat, matanya berkbur, melihat Wira terdiam Metta segera meraih tubuh Wira dan kembali menciumnya. Wira mulai terbuai dengan ciuman dan tindakan Metta.
"Bantu aku, ku mohon. Aku sangat tersiksa.."ucap Metta dengan tatapan sayu di liputi gairah.
Aneh, Wira pun mengiyakannya. Entah karena dirinya juga terkena pengaruh alkohol atau apa. Metta mencium Wira dan menggiringnya ke ranjang, keduanya saling mencecap dan *******, Wira membaringkan Metta di ranjang.
Wira menggelengkan kepalanya, ia berusaha menyadarkan dirinya tindakannya ini salah. Namun Metta kembali bangkit meraih tubuh Wira, dan menciumnya.
"Bantu aku, ku mohon.."Metta mulai terisak
Wira menatap Metta sejenak, ia merasa terhipnotis dengan tatapan Metta. Akhirnya Wira pun luluh, malam itu menjadi malam awal terciptanya bencana bagi Wira. Keduanya menghabiskan waktu dengan bercinta.
Sinar matahari mulai menampakkan wajahnya, kedua insan yang masih tidur saling berpelukan hanya tertupu dengan selembar selimut. Metta mengerjapkan matanya, ia merasa kepalanya pusing luar biasa.
"Kakak.."ucap Metta lirih, ia terkejut mendapati dirinya bisa tidur dalam keadaan memeluk Wira dengan erat.
Metta berusaha bangkit duduk, lebih terkejutnya lagi ketika melihat dirinya sudah dalam keadaan tak berbusana sama seperti kondisi Wira saat ini.
Hiks.. hiks.. Metta mulai terisak, ia menutup mulutnya seraya menggelengkan kepalanya, ia berusaha menyangkal akan kejadian yang sebenarnya terjadi.
Wira yang mendengar suara tangis pun membuka matanya.
"Metta, kakak..."
hiks.. hiks.. Metta kembali terisak, "Kakak kemapa kau lakukan ini padaku.."
"Kakak akan jelaskan Metta,.."ser Metta
"Kau brengsek.."
Deg.. Hati Wira mencelos sakit kala melihat ratapan pilu adik sepupunya itu, adik yang selama ini jaga dengan sekuat tenaga, namun sekarang terlihat hancur akibat dirinya.
"Metta kakak akan mempertanggung jawabkan semuanya, kakak akan bicara pada paman dan bibi.."ujar Wira
Metta menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu.."
"Kau memang brengsek, aku pikir kau adalah pria yang terbaik.."
Metta menyingkap selimutnya dan mulai kembali memakai pakaian semalam dengan terburu-buru dalam keadaan menangis.
"Metta kau kemana tunggu kakak.."
Terlambat Metta sudah berlari keluar meninggalkan Wira. Wira pun kembali memakai pakaiannya dan mengejar Metta.
"Metta tunggu kakak, jangan lari.."Wira mengejar Metta yang terus berlari.
Metta melihat sekeliling jalanan yang terlihat ramai, ketika di rasa sepi Metta segera menyebrang jalanan itu.
"Metta tunggu kakak, ku mohon jangan seperti ini.."Wira kembali mengejar Metta tanpa melihat keadaan sekitar.
Metta membalikkan tubuhnya melihat ke arah Wira yang hendak menyebrang jalan demi mengejar dirinya, sebuah Truk bermuatan besar melaju dengan begitu kencang, mata Metta membulat sempurna, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak mau membiarkan Kak Wira celaka.."
Metta kembali berlari cepat,
__ADS_1
"Kakak awas..."
Brakk.. tubuh Metta tertabrak Truk dan terpental, darah segar mengucur di tubuhnya. Wira yang berhasil di dorong Metta terjatuh di pinggir, naasnya ia melihat kejadian itu berharap semua tak nyata, ia berharap semua hanya mimpi.
Wira berlari dan membelah kerumunan itu dengan badan yang gemetar.
"Metta, kenapa kau lakukan ini..." Tanya Wira dengan terisak, ia mendudukan kepala Metta yang sudah berlumuran darah di pangkuanya.
Metta meraih wajah Wira dan membelainya, "Kakak, a...ku.. men..cint..tai..mu.."lirih Metta dengan terbata-bata.
Deg... Wira terkejut dan terisak, mengingat pengorbanan dan segala perhatian Metta yang ia anggap biasa, ternyata dari balik semua itu Metta memendam perasaan cinta untuknya.
"Kalau begitu bertahanlah demi kakak. Kakak akan membawamu ke rumah sakit.."seru Wira
Tak lama sebuah mobil ambulance tiba, Metta segera di bawa masuk dan di larikan di rumah sakit. Dalam perjalanan Wira menelpon Paman dan Bibinya. Wira menangis terisak sambil membelai kepala Metta, terlihat nafas Metta yang tesengal-sengal.
"Maafkan kakak Metta, kakak mohon bertahankah demi kakak.."
"Ka..kak.. ja..ga.. di..ri..mu de..ngan...ba..ik.."lirih Metta,
Wira menggelengkan kepalanya, "jangan pikirkan kakak Metta, kau harus selamat.."
Sampai di rumah sakit, Metta segera di bawa ke ruang operasi. Kemudian Budi dan Diandra tiba.
Plak... satu tamparan mendarat di pipi Wira.
"Apa yang kau lakukan pada adikmu, bagaimana ini bisa terjadi. Aku tidak akan memaafkan mu jika sampai terjadi apapun pada putriku.."ucap Diandra menatap tajam Wira, untuk pertama kalinya ia menampar dan memarahi Wira.
"Mama sudahlah, Wira tidak bersalah.."seru Budi
"Diamm.. semua terjadi karena dia.."tunjuk Diandra
Tiga puluh menit kemudian lampu ruang operasi di matikan, Dokter keluar dengan wajah sendu.
"Tuan, Nyonya. Mohon maaf kami tidak dapat menyelamatkan nyawa putri anda.."
Deg..
"Tidak, putriku tidak mungkin meninggal.."
Sementara Wira tertunduk lemas air matanya mengalir ia menggelengkan kepalanya, mencoba menyangkal kenyataan ini.
Diandra kembali menyerang Wira dan memakinya, "Semua ini karena dirimu Metta bisa celaka. Aku menyesal membawamu ke rumah kami, pada akhirnya kau membawa bahaya dalam keluarga kami. Dasar anak tidak tau diri.."
"Bibi.. aku...."
"Diam, aku bukan Bibimu lagi sekarang. Mulai sekarang kau tidak ku anggap putraku lagi.. Pergi.. pergilah yang jauh dari kehidupan kami. Aku tidak mau memilik putra atapun keponakan seperti dirimu.."
"Pembunuh.."
Deg.. ucapan terakhir Diandra sangat menusuk hati Wira.
Sejak hari itu Wira tidak lagi tinggal di rumah Bibinya, ia keluar dari rumah bibinya tanpa membawa apapun. Hingga suatu hari Deni mencari Wira di rumah bibinya tersebut, namun ia tidak mendapati Wira di sana. Deni menyuruh beberapa anak buahnya berpencar mencari Wira. Sampai akhirnya Wira di temukan di sudut pinggiran kota dengan keadaan kacau, dia hanya bisa melamun dan menangis. Kemudian Deni membawanya pulang dan berusaha menyembuhkan Wira. Dokter mengatakan ia hanya mengalami shock yang berat.
Flashback off
⚘⚘
Note : Nanti akan terungkap siapa yang memberi obat perangsang untuk Metta ya, tapi gak tau di bab berapa😊.
Ini panjang lho guys, aku bergadang demi kalian.😊 gak penasaran lagi kan.
Komen di bawah ya kesan kalian membaca part ini?
__ADS_1
Jangan lupa like, dan beri hadiahnya ya.
bersambung..