
Hari terus berlalu namun keheningan di antara David dan Aira masih sama. Meski begitu Aira tidak melarang David untuk setiap harinya menemui Axel. Diam-diam Aira kerap memperhatikan interaksi antara David dan Axel. Axel yang lagi senang-senangnya mempunyai seorang Daddy, anak itu kerap sekali meminta sang Daddy menyuapinya kala sedang makan, menemani ia bermain, juga membantunya belajar.
Seperti kali ini Axel sedang makan dengan udang goreng, dengan telatennya David mengupas udang itu untuknya. Lalu menyuapi Axel, tampak Axel sangat menikmati suapan dari tangan sang Daddy, wajah Axel terlihat berbinar bahagia, tidak ada lagi Axel yang berwajah sendu dan murung.
"Daddy aku kenyang sekali.."ucap Axel sambil mengelus perutnya.
David terkekeh, "Bagus biar kau cepat besar.."ucapnya.
"Apa menjadi dewasa itu menyenangkan.. Karena yang ku lihat menjadi dewasa seperti Mommy dan Daddy tidaklah mudah, sampai sekarang saja Mommy tidak mau bergabung dengan kita kala sedang bersama. Apa Mommy dan Daddy belum baikan, kenapa Mommy begitu lama marahnya.."cetus Axel
David terdiam mencerna ucapan Axel, lalu ia menghela nafasnya, ternyata Axel begitu peka dengan keadaan sekitar yang terjadi, "Son, Daddy cuci tangan dulu oke, kau bermainlah dengan mainanmu dulu.."ucap David
Menyadari David yang beranjak menuju dapur untuk cuci tangan, Aira langsung beranjak pergi.
David tersenyum tipis, sebenarnya ia juga menyadari keberadaan Aira yang memperhatikannya sejak tadi. David menyalakan kran di wastafel lalu mengguyur tangannya di bawah air mengalir itu, setelahnya di rasa sudah bersih David mematikan kran itu, lalu mengeringkan tangannya menggunakan kain lap yang sudah tersedia.
πππ
Aira terdiam duduk di taman kecil samping rumahnya, ingatannya terus terbawa pada kejadian beberapa hari ini. David sering kali menghabiskan waktunya demi Axel di rumahnya, pria itu seolah ingin menunjukkan jika ia juga mampu menjadi Daddy yang baik untuk putranya, bahkan di rela membawa setumpuk pekerjaannya di rumahnya itu, meski begitu David tidak menginap ia akan pulang pada tengah malam saat Axel tertidur. Setiap David bertanya Aira hanya akan menjawab dengan cuek, namun David tetap bersikap biasa.
"Apa yang kau pikirkan.."tanya David tiba-tiba mengejutkan lamunan Aira.
Aira melirik sekilas ke arah David, "Bukan urusanmu.."
"Aku fikir kau memikirkanku.."seru David lalu ia mendudukan dirinya di sebelah Aira.
Aira menatap tajam David, namun David tidak peduli ia justru tersenyum pada Aira.
"Bolehkah aku berbicara.."ucap David
"Memangnya sejak tadi kau tidak berbicara.."decak Aira dengan kesal.
David terkekeh, "Oh ya ampun, ternyata kau galak juga.."
__ADS_1
David mengusap wajahnya, ia kembali bersikap tenang, "Aira aku menyadari kesalahanku di masa lalu, maaf telah memberimu luka yang begitu perih. Setelah kau pergi dari pesta itu, aku berusaha menghubungimu namun kau tak mengangkat telponku, aku ingin berlari mengejarmu namun cengkraman tangan dari Papaku begitu kuat, aku ingin membelamu saat itu namun entah kenapa lidahku begitu kelu hingga akhirnya aku hanya terdiam, membiarkan kau terluka seorang diri."
David menghela nafasnya, Aira terdiam mendengarkan penjelasan dari David, namun ia tetap memalingkan mukanya dari David, "Sampai di rumah aku begitu terkejut kau sudah tidak di sana, kau pergi tanpa membawa barang pemberian apapun dariku, bahkan gelang yang ku berikan sebagai hadiah untukmu kau tinggalkan. Entah kenapa saat itu aku merasa ada sesuatu yang hilang dariku, tapi aku tidak menyadari itu apa. Sampai akhirnya aku bertanya pada Wira, dia hanya mengatakan 'aku cukup bertanya pada diriku sendiri, apa aku cinta apa tidak' aku bingung Aira aku dengan mengerti dengan perkataannya."
"Keesokan harinya aku mendapat kabar dari Wira jika kau kecelakaan, dengan semangatnya aku beranjak untuk ke rumah sakit di mana kau di rawat hatiku mulai kembali hangat, namun sesuatu kembali mengejutkan saat Wira mengatakan kau sudah tidak ada di sana, seseorang tanpa nama telah membawamu pergi dari sana. Hatiku rasanya mencelos, aku begitu khawatir dan takut saat itu hatimu sedang terluka di tambah kau kecelakaan dan aku sama sekali tidak tahu keberadaanmu. "
"Yang tidak aku sangka ternyata orang yang membawamu pergi adikku sendiri. Padahal dia tau benar keadaanku saat itu, aku benar frustasi mencarimu kemana-mana. Aku mengerahkan segala orang-orangku mencarimu, tapi tetap di pertemukan. Maafkan aku Aira untuk semua luka yang aku torehkan pada hatimu. Maaf karena diriku kau juga harus kehilangan Papamu. Seandainya saat itu aku bisa menahan diriku, semuanya pasti tidak akan terjadi"
Aira terdiam matanya sudah berkaca-kaca, ia juga tidak menyangka jika selama ini David mencarinya. David bangkit lalu berjongkok di depan Aira ia meriah tangan Aira.
"Aira bisakah kau memberi maaf untukku. Ijinkan aku menebus kesalahanku di masa lalu Aira. Biarkan aku menjadi Daddy yang baik untuk Axel,"ucap David memandang Aira
Aira memandang ke arah David, hingga tatapan keduanya bertemu, "A... aku.."
"Mommy tolong maafkan Daddy."ucap Axel yang datang tiba-tiba dengan kedua telapa tangan mengatup, sebenarnya Axel sudah berdiri tidak jauh dari mereka sejak tadi ia mendengarkan semuanya ucapan Daddy pada Mommynya.
"Axel.."David dan Aira terkejut lalu bangkit dari tempatnya keduanya berdiri di sampung Axwl
"Apa sayang.."jawab Aira
"Maafkan Daddy. Jangan biarkan Daddy pergi lagi, aku sungguh ingin Daddy berada di tengah-tengah kita."ucap Axel mata anak itu sudah berkaca-kaca.
Aira mensejajarkan dirinya pada Axel, "Apa kau bahagia sayang.."
"Sangat, aku sangat bahagia Mommy.."jawab Axel dengan cepat.
Aira tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah David.
"Aira aku tidak berbicara apapun pada Axel, sungguh.."David berkata begitu seolah takut jika Aira menuduh dirinya yang menyuruh Axel berbicara seperti itu.
Aira mengernyit bingung, "aku tau.."
David mendesah lega, "jadi gimana..?"
__ADS_1
Aira tersenyum, "Aku memaafkanmu. Lupakanlah kejadian itu jangan di ungkit lagi.."
"Sungguh.."ucap David
Aira mengangguk, David tersenyum senang, "Terimakasih.."David memeluk Aira dengan erat , Aira pun membalasnya.
"Mommy Daddy aku kejepit.."ucap Axel
Sontak Aira dan David melepas pelukannya "Axel.."ucap keduanya langsung memeriksa Axel.
"Kau tidak apa-apa kan sayang.."tanya Aira
"Lain kali jika mau berpelukan jangan jadikan aku korban.."ucap Axel lalu berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
David melihat ke arah Aira tersenyum tipis, "Ayo kita menikah Aira.."
Aira menghela nafasnya, "Aku tidak mau menikah dengan tunangan wanita lain."jawab Aira dengan cepat.
"siapa yang sudah tunangan.."
"Kau dan Jelita kan..."
"Aku sudah membatalkan pertunanganku dengannya, lagi aku tidak mencintainya aku hanya terpaksa kala itu.."jelas David
"Oh.."jawab Aira lalu meninggalkan David seorang diri.
πππ
ππPerjuangan cinta David dan Aira di mulai,ππ
ππAyo dong yang kenceng kasih like, komen, hadiahnya.. kebetulan hari senin bagi yang punya tiket vote bisa kasih ke akuππππ
bersambung..
__ADS_1