
ππMasih dalam posisi flashback ya readersππ
ππJangan lupa tekan like, komen, hadiahnyaππ
ππDi part sebelumnya banyak yang memberi like dan komentar, makasih banget aku jadi semangat buat upππ sayang kalian dehππ
πππ
Mobil Dino telah sampai di depan Villa, Pak Nanang selaku penjaga Villa itu membukakan gerbang. Setelah memarkirkan mobilnya Aira dan Dino turun.
Aira mengedarkan pandangannya melihat Villa itu, sederhana namun tetap terlihat mewah dan elegan, dengan di depannya terdapat taman-taman kecil, pemandangan yang terlihat begitu asri.
Aira menghela nafasnya lalu tersenyum, Dino membantu mengeluarkan barang-barang Aira yang berada dalam satu koper.
"Bagaimana? apa kau suka.?"tanya Dino sembari mengajak Aira untuk masuk ke dalm Villa.
Aira mengangguk, "Udara sejuk, pemandangannya asri bagaimana mungkin aku tidak suka.."
"Ini kamarmu, jika kau memerlukan sesuatu di sini kau bisa bilang pada Pak Nanang atau istrinya, mereka memang setiap hari pasti akan datang untuk membersihkan Villa ini."jelas Dino saat sudah sampai di depan pintu kamar.
"Aku mengerti, makasih Dino.."
Dino mengangguk, "Jangan sungkan."
Dino melirik arlojinya waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, ya karena Dino dan Aira memang sengaja pergi dari rumah sakit itu dini hari.
"Aira aku harus pergi, aku harus mengunjungi restoran yang baru aku buka cabang kemarin"jelas Dino
Aira tersenyum, "Pergilah."
"Ini untukmu..?"ucap Dino
"Ini apa..?"
"Ponsel baru untukmu, aku sudah memasukan simcard baru juga untukmu. Pakailah, dan hubungi aku jika kau memerlukan bantuan"titur Dino
"Tapi aku merasa tidak enak Dino, kau sudah membantuku begini saja aku sudah cukup bersyukur dan berterimakasih"
"Aku tidak terima penolakan, aku pergi dulu"ucap Dino setelahnya berlalu pergi. Lalu Aira membuka pintu kamarnya ia ingin istirahat.
πππ
Tiga minggu sudah Aira tinggal di Villa milik Dino, Aira begitu menikmati keadaan yang ada di sana, Aira mampu menjernihkan otaknya.
Dino tidak setiap hari datang mengunjunginya, mengingat pria itu memang banyak kesibukan. Namun hari ini ia datang ke Villa itu, karena Aira meminta tolong untuk mengantarkan ke rumah Papanya yang berada di Bekasi. Aira merindukan Papanya, Aira akan membawa Papanya ke rumah yang sudah Aira beli.
__ADS_1
"Kau sudah siap..?"tanya Dino saat Aira sudah di luar dengan pakain rapi.
"Sudah, ayo..."serunya .
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa jam kemudian mobil Dino telah memasuki gang di mana rumah Papa Aira berada. Sebuah rumah sederhana dengan cat biru laut sudah terlihat, Dino segera memarkirkan mobilnya.
"Aduh.."ringis Aira kala ia merasakan sakit dan pening pada kepalanya.
"ada apa Aira.."tanya Dino kala mendengar suara Aira.
"Tidak ada apa-apa Dino.."Aira mencoba menahan rasa pusing di kepalanya.
Kemudian Aira masuk ke dalam rumahnya, mengingat ini masih pagi hari, keluarga Aira sedang melakukan sarapan.
"Papa..."panggil Aira pada papanya yang tengah duduk dengan kursi roda, Papa Aira menatap Aira dengan senyum dan rindu.
Nesya dan Nina terkejut akan kedatangan Aira, apalagi Aira membawa seorang pria.
Aira berlari memeluk Papanya," Aku merindukan Papa.."
"Pa.. pa.. ju.. ga.. me.. rin..du.. kan.. mu.."Ucapnya dengan terbata-bata, Aira menangis terharu karena kini keadaan Papanya ada kemajuan.
Semua mata tertuju pada Dino, Aira menyadari itu, "Oh ya Pa ini Dino teman Aira.."
Dino langsung memberi salam pada keluarga Aira. Nesya dan Nina menyambut dengan ramah, entah apa maksudnya mereka sudah berubah atau ini hanya trik yang menyimpan maksud tertentu. Aira mengenyahkan segala pemikiran itu.
Aira pun mengajak Dino untuk sarapan mengingat memang sebelum berangkat tadi keduanya memang belum memakan apapun.
Aira meletakkan sendoknya tatkala ia merasakan rasa pusing di kepalanya, Aira fikir mungkin itu efek kecelakaan tiga minggu yang lalu. Aira kembali menyuapkan makanannya, namun tiba-tiba ia merasakan mual pada perutnya.
"Ada apa Aira..?"tanya Dino saat Aira menutup mulutnya.
Aira menggeleng, "Tidak apa-apa.."
"Apa kak Aira sakit..?"tanya Nina dengan lembit membuat Aira mengernyit heran akan pertanyaan Nina, tumben sekali ia ramah padanya.
Aira menggeleng, "Aku tidak sakit.."serunya.
"Aku istirahat dulu ya.."sambung Aira, ia bangkit dari tempatnya, namun saat baru satu langkah ia beranjak Aira kembali merasakan pusing pada kepalanya hingga akhirnya
Brukkk... Aira jatuh tak sadarkan diri.
"Aira..."teriak Dino panik
"Kakak.."
__ADS_1
Semua merasa terkejut, tidak terkecuali Papa Aira, ia ingin menolong Aira namun apalah daya mengingat keadaan dirinya yang lumpuh. Dino dengan sigap langsung menggendong Aira dan membawa Aira masuk ke kamar atas petunjuk Nina. Dino pun meminta Nina untuk memanggil seorang Dokter, Dino khawatir terjadi sesuatu apalagi selama dalam perjalanan Dino lihat Aira selalu memijat kepalanya Dino fikir akan ada yang fatal akibat kecelakaan yang di alami Aira tuga minggu yang lalu.
πππ
Dokter Desy tiba di rumah Aira, kemudian Nina mengantarkannya ke kamar Aira. Semua menunggu dengan cemas berharap tidak Aira baik-baik saja.
"Bagaiamana Dokter...?"tanya Dino dengan penasaran.
Dokter Desy menghela nafasnya, "Jangan panik dan cemas dia baik-baik saja.. Hanya saja.."
"Hanya saja apa dokter? putriku baik-baik saja bukan.."sambung Nesya
"Putri anda tengah hamil.."jelas Dokter
"apa....?"Nesya terkejut mendengarnya, begitupun dengan Dino, Nina, dan Papa Aira. "Bagaimana mungkin.."sambungnya
" Saya sudah memeriksanya berulang-ulang namun hasilnya tetap sama. Putri anda hamil . Saya permisi dulu Bu.."Dokter Desy pamit pergi.
Tidak lama setelah kepergian Dokter Desy, Aira membuka matanya dengan sedikit rasa pusing Aira berusaha bangun menyandarkan dirinya di ranjang. Aira melihat satu persatu orang di ruangan itu yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa..?"Tanya Aira.
"Aira, bayi siapa yang kau kandung? siapa ayah bayi itu Aira..."tanya Nesya dengan bertubi-tubi.
"Maksud mama..?"Aira bertanya balik
"Dokter mengatakan kau hamil Aira.."tutur Dino dengan lirih penuh rasa kecewa.
"Apa...?"Aira terlonjak kaget, Ia menggelengkan kepalanya berusaha menyangkal keadaan yang ada, namun ingatan-ingat bulan lalu saat pergulatan panas dengan David kembali telintas jelas di otaknya, saat di mana Aira hendak meminum obat pencegah kehamilan itu namun obat itu jatuh. Hingga kini Aira menyadari janin siapa yang ia kandung.
Aira mendongak memandang satu-persatu orang-orang yang memandangnya dengan kecewa, pandangan terakhir ia tujukan pada Papanya.
"Papa.. aku..."ucap Aira
Papa Aira menitikkan air matanya, ia menyesal tidak cukup baik menjaga putrinya, ia merasa gagal mendidik putrinya, kemudian Papa Aira merasakan nyeri pada dadanya, dengan susah payah ia menggerakkan tangannya memegang dadanya.
"A.. i... ra.. k.. ka..u.."ucapnya dengan terbata-bata, sebelum kemudian ia meringis kesakitan memegangi dadanya.
"Papa.. aku.. minta maaf pa.."Aira bangkit menghampiri papanya dengan air mata mengalir.
Papa Aira berusaha mengambil nafasnya, namun ia merasakan dadanya begitu sesak, kemudian ia tergolek lemah tak sadarkan diri.
"Papa.. jangan begini pa... ku mohon bangun.."Aira berusaha mengguncang tubuh papanya, menyuruh papanya untuk membuka matanya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit Aira..."Dino langsung menggendong Papa Aira membawanya ke mobil. Di ikuti oleh Aira, Nesya, Nina. Sepanjang jalan mereka berharap Papa Aira akan tertolong, mereka menangis tergugu melihat keadaan papanya yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
ππ
bersambung..