
Sesuai janjinya dengan David kemarin. Saat ini Aira berada dalam ruangan kerja David. Terlihat Wira baru saja memberikan berkas yang berisi surat perjanjian kontrak.
"Ini apa tuan?" tanya Aira dengan bingung.
David menatap tajam Aira membuat nyali Aira menciut. "Hanya surat perjanjian biasa, Aira. Semua untuk menghindari jika salah satu di antara kita berbuat curang. Sebagai seorang pekerja profesional tentu harusnya kau tau, jika dalam bekerja surat seperti ini sangat diperlukan. Bukankah aku sudah ku katakan kemarin tentang surat perjanjian ini," jelas David.
Aira menelan ludahnya kasar, menunduk untuk membaca isi surat perjanjian di tangannya itu lalu membuka mulutnya.
"Saya disewa selama empat bulan?" tanyanya Aira lagi.
"Iya, secara eksklusif! Tenang saja aku tetap akan membayar mu meski sudah dipotong dengan hutang-hutangmu. Oh ya, kwitansi dari bengkel juga ada, apa kau memerlukannya?" Kata David.
"Tidak perlu tuan. Saya percaya dengan anda sepenuhnya," sahut Aira.
"Bagus! Kau memang harus percaya, karena tidak mungkin aku menipumu. Itu tidak ada gunanya untukku, Aira." David berucap dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Cara David berbicara membuat bulu kuduk Aira meremang, tidak ingin berfikir kemana-mana, Aira pun membuka suaranya.
"Baiklah saya setuju, di mana saya harus tanda tangan?" tanyanya. ia hanya ingin secara keluar dari zona itu.
Wira pun datang lalu menunjuk tempat bermatrai. Dengan tangan gemetar Aira membubuhkan tanda tangannya. Ia tidak tau apa yang akan terjadi kelak, ia tau menjadi pasangan pura-pura untuk seorang David bukanlah hal yang mudah. Ia hanya berfikir mendapat bayaran lalu ia bisa mengobati penyakit papanya itu.
"Apa ada pemintaan yang khusus dari saya tuan?" tanya Aira.
David mengamati Aira lalu seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Aira mengangguk. "Baik, tuan!"
"Keluar dari sini, ikutlah dengan Novi sekretaris saya. Dia akan mengantarmu ke butik. Butiknya terletak di lantai dasar gedung ini," ujar David.
"Untuk apa tuan?" tanyanya Aira heran. "Saya punya banyak gaun," tambahnya kemudian.
__ADS_1
David menatap tajam Aira lalu mengamati penampilannya dari atas sampai bawah lalu ia berdecak.
"Kamu pikir pasangan seorang David Adinata memakai gaun sembarangan. Mereka bahkan akan mengecek label beserta apapun yang kau pakai nanti, " serunya dengan tatapan tajam.
Belum apa-apa ia sudah di buat pusing, perkataan lelaki itu membuatnya takut.
"Jangan pusingkan soal harga, aku yang akan menanggung semuanya. Oh ya, nanti saat jam makan siang ikutlah dengan Wira sebentar dan diskusikan mengenai hobimu, makanan kesukaanmu pokoknya jelaskan secara lengkap tentang dirimu. Aku ingin kita bertukar informasi sebelum datang sebagai pasangan," lanjutnya. Aira hanya mengangguk.
"Satu lagi Aira, dan ini harus kau taati!" David mengamati Aira yang tampak menunduk. "Urusan kita murni profesional, dilarang menggunakan hati."
"Pergilah ke luar dan ikuti perintahku," ucap David dengan tegas.
Malam itu Aira keluar dari gedung kantornya dengan perasaan berkecamuk, antara bingung dan tidak percaya, bercampur rasa takut. Di sisi lain ia senang hutangnya dengan pria itu akan lunas, sisa uangnya ia bisa membawa ayahnya pergi dari rumah terkutuk itu. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, ia takut tidak mampu mengendalikan hatinya. Pun ia tahu saat ini ia sedang bermain api dengan pria bernama David Adinata itu, dan siap di hanguskan kapanpun pria itu menginginkannya. Menggelengkan kepalanya ia berfikir, ia menepis segala pemikiran kemungkinan yang akan terjadi, ia hanya harus fokus tentang uang yang akan ia dapat, tidak akan berfikir kemana-mana.
😊jangan lupa tinggalkan jejak Vote, like, dan komen😊
__ADS_1