
Cafe Mine
Sebuah Cafe unik yang terletak di pinggiran Danau, menyajikan berbagai menu Eropa. Semilir angin yang berasal dari Danau, membuat siapa pun yang berada di sana merasa betah dan senang.
Dan di sinilah kini Wira, Felicia beserta Diandra dan Budi berada. Diandra mengajak keponakannya itu untuk sekedar ngopi bersama.
"Berapa usiamu sayang.."tanya Diandra lembut pada Felicia.
"21 tahun Bibi.."sahut Felicia
Diandra dan Budi tergelak, "Masih sangat muda, kenapa mau menikah dengan Wira.. Umur kalian bahkan terpaut sangat jauh.."seru Budi, sementara Wira menggaruk tengkuknya merasa canggung.
"Bagaimana mungkin Tuan Deni merelakan putrinya yang masih sangat muda menikah.."Sambung Diandra, makin bertambah kikuk lah Wira.
Felicia tersenyum tipis, "Tentu saja karena aku mencintainya." jawaban Felicia mampu membuat Wira merasa berbunga-bunga, seraya ada jutaan kupu-kupu meloncat di hatinya, andainya sedang tidak di tempat umum sudah Wira tarik istrinya lalu di peluknya erat.
"Keluargaku sudah sangat mempercayai Kak Wira, bagi mereka Kak Wira sudah seperti putranya sendiri. Papa, Mama, dan Kakak percaya jika Kak Wira pria yang baik dan pantas untukku. Jadi ketika aku memutuskan untuk menikah dengan Kak Wira, mereka dengan lapang dada menerimanya.."tutur wanita berparas ayu itu. Wira terdiam merasa terharu atas ucapan sang istrinya itu, 'pria yang baik, padahal Wira tidak pernah melakukan kebaikan apapun, semua yang ia lakukan hanyalah murni sebagai seorang bawahan terhadap atasan, tapi keluarga istrinya itu menganggap seolah dirinya telah melakukan hal yang sangat luar biasa'.
"Papa bilang jika kedua orang tua Kak Wira sangat berjasa bagi keluarga kami. Aku juga merasa sangat beruntung bisa menjadi istrinya. Tidak perduli seperti apapun masa lalunya, bagiku kini aku mengenalnya dia orang yang baik, aku juga mencintainya. Jadi, Paman Bibi bisakah kalian memberikan restu kalian untuk pernikahan kami yang baru ini. Maafkanlah segala kesalahannya di masa lalu,.."Felicia tersenyum menggenggam tangan Diandra dan Budi.
Diandra menepuk tangan Felicia, wanita paruh baya itu beranjak dari tempatnya lalu mengitari kursi dan memeluk Felicia.
"Kau wanita yang sangat baik, hatimu sangat bijak dan mulia. Bibi yakin Wira merasa beruntung dan bahagia, mendapatkan istri seperti dirimu. Tentu saja, Bibi dan Paman pasti akan memberikan restu pada kalian. Paman dan Bibi sudah jauh hari memaafkan Wira. Dia tidak bersalah Feli, dia juga korban..."tutur Diandra.
"Apa yang Bibimu katakan itu benar nak. Dan yang berbuat sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal.."sambung Budi.
🌷🌷
Satu jam berlalu keempatnya masih larut dalam obrolan dan keseriusan, Diandra dan Budi menawarkan diri untuk Wira menginap di rumahnya namun Wira menolak karena ia masih cukup sibuk, mungkin lain waktu mereka akan berkunjung. Sampai pada akhirnya Diandra dan Budi pamit pulang lebih dulu.
"Wira.." panggil seorang pria, yang membuat Wira mengurungkan niatnya untuk beranjak dari tempat duduknya .
"Gilang.."sahut Wira
Mata Wira kembali beralih pada seorang wanita di sampingnya, "Desi.."gumam Wira
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, kami sudah lama mencarimu Wira, ada sesuatu hal yang harus ku bicarakan padamu.."seru Gilang
"Pentingkah.."tanya Wira
"Sangat.."
Menghela nafasnya Wira mempersilahkan keduanya duduk, mata Gilang menatap Felicia. seakan mengerti tatapan Gilang, Wira memperkenalkan Felicia.
"Dia istriku.."ucap Wira
"Salam kenal Nona, saya Gilang dan ini Desi. Kami teman suamimu saat masih SMA dulu.."ucap Gilang
"Saya Felicia.."jawab Felicia
__ADS_1
"Apa yang ingin kalian katakan.."tanya Wira to the point, sejak dulu Wira memang paling tidak bisa berbasa-basi.
Glek.. Gilang dan Desi menelan kasar ludahnya sendiri, melihat tatapan tajam Wira yang seperti akan mengulitinya hidup-hidup membuat bulu kuduk keduanya merinding.
Entah kenapa melihat keduanya di sini, mendadak Wira mempunyai firasat yang tidak baik.
"Jika kakak menatap temanmu seperti itu, sebelum bicara mereka pasti akan kabur duluan..."tutur Felicia.
Wira melirik ke istrinya dan tersenyum manis, "Diamlah sayang, suamimu ini memang seperti ini. Tidak suka basa-basi.."sahutnya, blush wajah Felicia langsung merona padahal baru di panggil sayang.😂😂
"Cepat katakan.."
Desi menganggukkan kepalanya memberi kode pada Gilang untuk bicara.
"Wira sebelumnya kami ingin minta maaf padamu.."ucap Gilang
"Apa kesalahan kalian.."tanya Wira
Menundukkan kepalanya, Gilang kembali berbicara. "Kau ingat dengan apa yang menimpa Metta dan dirimu setelah pesta kelulusan kita."
Wira masih terdiam, Felicia terkejut menghentikan minumannya.
"Kamilah penyebab dari semuanya Wira, kami yang merencanakan untuk memberi obat perangsang untuk Metta, sementara itu aku juga berusaha mengompori minum agar kau bisa mabuk.."
Rahang Wira mengeras tangannya mengepal.
Brakkk.. Wira menggebrak meja, hingga menimbulkan kegaduhan, dan membuat semua penghuni cafe itu menatap ke arahnya. Gilang dan Desi tampak meringis bergidik ngeri.
"Kak tenanglah dengarkan dulu penjelasan mereka.."Felicia memegang tanga Wira.
"lepaskan aku Feli, biarkan aku menghajar mereka. Manusia seperti mereka pantasnya mati."
Wajah Desi pucat pasi melihat raut amarah Wira, "Kami tau kami salah kami ingin minta maaf Wira."
"Apa kalian pikir dengan minta maaf lalu Metta akan kembali hidup lagi , kalian memang benar-benar bodoh dan tidak punya otak. Karena perbuatan kalian aku menodai adikku sendiri, Metta meninggal, dan apa kalian tau bertahun-tahun lamanya aku selalu hidup dalam ketakutan dan di hantui rasa bersalah, kalian benar-benar picik. Akan ku bunuh kalian.."ucap Wira dengan emosi menggebu-gebu.
"Aku tau, maka satu bulan setelah kejadian itu aku dan Gilang datang ke rumah paman dan bibimu, mengakui semua perbuatan kami. Kami ingin minta maaf padamu , tapi kau tidak tidak di sana. Paman dan Bibimu juga sudah membawa kami ke jalur hukum, kami di penjara tiga tahunan lebih. Bukan hanya itu akibat perbuatan kami, usaha orang tua kami juga bangkrut."tutur Desi
Brak.. Wira kembali menggebrak meja.
"Jika aku yang jadi paman dan bibi akan ku biarkan kalian membusuk di penjara, kalian manusia yang biadab.."
Desi sudah menangis tersedu-sedu, jika saja sedang tidak ada Felicia, Wira pastikan kedua manusia itu sudah babak belur tak terbentuk.
"Apa motif kalian melakukan hal serendah itu pada kami.."ucap Wira
"Untuk mempermalukan Metta, dan menghancurkanmu Wira Aku merasa marah saat kau menolak perasaanku, namun kau lebih memilih berjalan dengan Metta.. Dan Gilang yang merasa sakit hati atas penolakan Metta pun menyetujui ideku.."seru Desi
"Dia adikku bodoh.."gertak Wira ia kembali menggebrak Mejanya, kali ini ia tidak bisa mengampuni mereka.
__ADS_1
Bugh..
Bugh..
Wira mencekik leher gilang, dan menghajarnya membabi buta. Setelah di rasa Gilang tak berdaya, Ia beralih menatap Desi ia menatapnya tajam.
plak..
"cih, perempuan rendahan..."umpat Wira.
"Ampun Wira, kami minta maaf sungguh kami minta maaf. Kami tidak peduli kau akan melakukan apapun pada kami, tapi tolong maafkan kami. Aku merasa tidak tenang selama kau belum memaafkan kami.."ucap Gilang.
Tangan Wira mengepal, ia bahkan sudah tidak peduli ketika dirinya sudah menjadi tontonan semua pengunjung di sana.
"Kak tenanglah,.."
"Diam kau Feli.. Biar ku hajar bajingan ini.."bentak Wira.
Felicia terkejut ketika Wira berani membentak dirinya kini, ia langsung menunduk. Matanya tampak berkaca-kaca, menyiratkan sebuah rasa kecewa.
"Baiklah lakukan apapun yang akan kau lakukan, aku tidak akan ikut campur lagi. Kau fikir dengan cara menghabisi mereka , Metta akan kembali lagi padamu. Bukankah mereka juga sudah mendapatkan hukuman atas apa yang mereka perbuat. Maka lakukanlah apa yang akan kau lakukan, aku akan pulang sendiri kau tidak membutuhkanku di sini.."tutur Felicia, ia mengambil tas miliknya dan berlalu keluar Cafe itu.
Wira mengusap wajahnya kasar, menyadari kesalahannya pada istrinya.
🌷🌷🌷
Sepanjang jalan keduanya hanya terdiam, sedari tadi Felicia tampak enggan menatap Wira, wanita itu terus menatap ke arah luar.
"Feli, maafkan kakak ya. Kakak tidak bermaksud membentakmu. Tadi itu...."tutur Wira
"Emosi begitu, sudahlah kaum pria selalu pintar mencari alasan.."cetusnya
Glek.. Wira menelan ludahnya, ia bingung sendiri menghadapi perempuan yang marah. Ia bahkan tidak tau bagaimana cara merayu.
"Bukan begitu Feli, kakak sungguh tidak sengaja tadi..."
Felicia menatap tajam Wira, "Kenapa saat aku marah kakak jadi banyak bicara, diamlah aku pusing mendengarnya.."
Wira meremas rambutnya, ketika ia di salahkan lagi. Ingin sekali ia membenturkan kepalanya ke stir mobil, tapi tidak. Enak saja bagaimana bisa Wira lakukan itu, ia bahkan belum merasakan surga dunia bersama istrinya, ehh.
"Kenapa diam saja, dasar tidak peka.."gumam Felicia
Wira melototkan matanya, ia meraup mukanya dengan tangannya, salah lagi kan bukannya tadi ia yang menyuruh diam.
🌷🌷
up doble ya hari ini..
jangan lupa like, komen, hadiahnya.
__ADS_1
bersambung..