
Wira merasa terkejut ketika Felicia memeluknya dengan erat, refleks Wira melepaskan genggaman koper yang berada di tangannya, tangannya terangkat untuk membalas pelukan Felicia, lalu mengelusnya secara lembut.
Wira masih terdiam, lidahnya kelu tak mampu menjawab, ia membiarkan Felicia tetap menangis sambil memukul dadanya melampiaskan segala kekesalannya. Wanita itu terus menangis terisak.
"Kau benar-benar jahat, setelah apa yang terjadi kau mau pergi meninggalkanku begitu saja, di mana tanggung jawabmu.."ucapnya dengan sesegukkan bak anak kecil yang sedang merajuk.
"Feli, aku hanya..."
"Diammm,.."teriak Felicia,
"Kemarin kau sudah banyak bicara, sekarang biarkan aku yang bicara.."sambungnya.
Wira menghela nafasnya dan memilih diam, "Harusnya kau membujuk dan merayuku untuk kembali, tapi kau justru memilih meninggalkanku.. Kau benar-benar jahat.."Felicia terus memukul dada Wira.
"Kenapa kau hanya diam, kau tidak berani menjawab. Dasar payah.."Felicia melepas pelukannya dan mengguncang tubuh Wira.
Wira tergelak, bukankah tadi dia sendiri yang menyuruhnya untuk diam lalu kenapa ia justru marah saat suaminya itu hanya terdiam. Wanita memang ingin selalu menang.
"Aku ingin sekali membencimu.. tapi aku tidak bisa..."seru Felicia
"Kenapa..?"tanya Wira dengan lembut,
"Karena aku mencintaimu bodoh."
Deg... Wira terkejut sedetik kemudian ia tersenyum tipis.
"Aku juga mencintaimu Feli, tapi aku.."
Felicia menempelkan telunjuk jarinya di bibir Wira membuat pria itu terdiam, Felicia kembali memeluk Wira, "Maka jangan tinggalkan aku, dan tetaplah di sini.."
Mata Wira tampak berkaca ia merasa terharu dan bahagia atas ucapan yang Felicia berikan, Wira melepas pelukan Felicia dan menatap dalam-dalam kedua manik mata Felicia kedua tangannya terangkat untuk menangkup kedua pipi Felicia, ia berusaha mencari kobohongan di mata Felicia namun ia tidak menemukannya.
"Kau yakin..?"tanya Wira
Felicia mengangguk, "Kau fikir untuk apa aku buru-buru datang kemari jika bukan untuk hal itu.."
Wira menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, ia langsung membawa Felicia ke dalam pelukannya, serta menghujani ciuman di wajah istrinya itu.
"Terimakasih, aku sungguh sangat bahagia Feli.."seru Wira ia menitikkan air matanya, dahinya ia tempelkan pada dahi Felicia.
π·π·π·
Kini Wira membawa Felicia ke dalam kamarnya, pria itu juga membuatkan secangkir teh untuk istrinya.
"Minumlah, wajahmu terlihat pucat. Apa kau berlari kesini.."tanya Wira di duduk di pinggir ranjang sementara Felicia bersandar di ranjang.
"Tentu saja, aku bahkan menaiki tangga darurat.."sahut Felicia sambil menyeruput teh di cangkirnya lalu meletakkannya kembali.
"Kenapa tidak menggunakan lift saja,.."ujar Wira
"Lambat, aku takut terlambat dan kau keburu pergi. Apa kau tidak melihat penampilanku, aku bahkan tidak sempat menyisir rambutku..."cetus Felicia dengan kesal.
Wira menggangukan kepalanya dan tersenyum tipis, "Kau berantakan juga cantik, apalagi jika rapi sangat cantik.."pujinya
Blush.. wajah Felicia langsung merona malu, matanya mendelik sempurna tidak percaya seorang pria dingin seperti Wira bisa menggombali dirinya. Wira terkekeh, "Terkejut ya.. aku sering mendengar kakakmu memuji Kakak iparmu seperti itu, jadi sekarang aku praktekan saja pada istriku.."
"Menyebalkan.."umpat Felicia
"Meskipun gombalannya copyan, tapi aku tetap mengatakannya dari hati kok."tutur Wira
__ADS_1
Wira menggenggam tangan Felicia, "Suami ini memang tidak pandai merayu Feli. Terimakasih sudah mau memberi aku kesempatan kedua, terimakasih sudah mau menerima kekurangan dari masa laluku yang begitu suram. Sekali lagi maaf untuk semua luka yang aku berikan, setelah ini, mungkin aku tidak bisa berjanji untuk selalu berusaha membuatmu bahagia, tapi aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu lagi.. Kau mau membantuku untuk menyembuhkan rasa traumaku kan.."sambung Wira penuh harap.
"Tentu saja, aku pasti akan membantumu. Asal kau berjanji untuk selalu terbuka padaku, jangan pernah menyimpan masalahmu sendiri, anggaplah aku istri dan temanmu.."sahut Felicia
"Aku janji.."jawab Wira
"Kau bisa tau aku akan pergi, siapa yang mengatakannya.."sambung Wira
"Mama,.. mama bilang kak David yang mengatakan pada dirinya. Dia juga bilang jika kakak juga mengundurkan dirinya dari perusahaan ."seru Felicia
Wira tergelak, "Tadinya begitu, tapi tidak jadi kok.."
"Maksudnya.."
Wira mengambil posisi tiduran di samping Felicia.
Flashback on
"Kalau begitu pergilah dan tidak usah kembali.."usir David
Deg.. entah kenapa perkataan David sangat melukai hatinya.
"Tuan saya.."
"Kau tidak mengganggap aku kakakmu lagi kan.. Apa hanya karena permasalahan rumah tanggamu kau meninggalkanku Wira.."tanya David penuh penekanan.
Wira terdiam, "Satu langkah saja kau melangkah keluar dari perusahaan ini, aku tidak akan memaafkanmu seumur hidupku.."
"Tuan saya harus apa,.."
"Payah, kau selalu bisa mencari solusi setiap permasalah perusahaan yang ku berikan padamu. Tapi ketika dirimu dalam masalah kau bahkan tidak bisa berfikir jernih.."
David memberikan sebuah map pada Wira.
"Tuan ini.."
"Aku fikir kau perlu menjernihkan otakmu, pergilah ke luar kota untuk beberapa hari sambil temui rekan bisnis ku di sana, diskusikanlah mengenai kerja sama antar perusahaan kita."ujar David
"Tapi Tuan bagaimana mungkin.."
"Mungkin, bagiku tidak ada yang mungkin. Kali ini aku tidak mau menerima penolakanmu Wira. Sekarang kembalilah ke apartemen persiapkanlah kepergianmu.."ucap David
Wira pun menurut dan berlalu pergi..
Sepeninggal Wira, David tersenyum tipis lalu ia mengambil ponselnya dan menelpon rumah menanyakan Felicia, lalu ia mengatakan jika Wira mengundurkan diri dan ingin pergi dar kota ini.
Flashback off
"Jadi kak David bohong padaku. Jadi kau hanya akan pergi ke luar kota.."tany Felicia
"iya, aku fikir tidak salahnya saran dari kakakmu itu. Sembari aku pergi dan memberikan waktu untukmu berfikir. Tapi ternyata akhirnya begini , syukurlah aku sangat lega.."tutur Wira
"Lalu apa kau jadi pergi beneran sekarang.."
Tring... tring..
"Sebentar, aku angkat telpon dulu.."Wira beranjak dari tempat tidurnya, mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
"Ya Tuan.."
__ADS_1
"Apa Felicia ada di situ.."tanya David dari balik telpon
"Ada, dia sedang.."
"Baiklah, Wira aku fikir kau tidak perlu pergi ke luar kota. Tadi sore aku sudah menelpon Nara untuk mewakili pertemuan itu dari perusahaan kita."
ucap David lalu mematikan panggilannya begitu saja.
Meletakkan ponselnya, Wira kembali melirik ke arah Felicia.
π·π·
"Telpon siapa? "tanya Aira sambil membawa secangkir teh untuk David.
"Wira.."
"Kau mengerjai adikmu dan adik iparmu.."seru Aira
"Mau gimana lagi keduanya sama-sama keras kepala.."sahutnya, David mengambil alih teh di tangan Aira lalu meminumnya sedikit dan meletakannya di meja.
"Tapi.."
"Shutt diamlah, yang penting cara ini berhasil menyatukan keduanya.."seru David
Aira terdiam mendudukan dirinya di sebelah David, "Di mana Axel.."
"Masih tidur.."jawab Aira
David menganggukan kepalanya, ia bangkit dari tempat duduknya, "Ayo kita ke kamar.."
"Ngapain, aku jenuh seharian sudah di kamar.."
"Olahraga.."jawab David cepat.
"Olahraga apa.."tanya Aira bingung
Davis berdecak kesal, "mengunjungi baby twins.."
Aira melotokan matanya, "Ini masih siang.."
"banyak bicara.." David segera menggendong Aira dan membawanya ke kamar.
π·π·
"Kenapa kak.. Kak David bilang apa.."tanya Felicia
"Aku tidak jadi ke luar kota.. terus kita ngapain.."ucap Wira
Felicia mengerutkan keningnya, Felicia melirik jam di atas nakas, "Mau masuk kampus juga sudah telat, aku ingin tidur sajalah. Beberapa hari aku tidak bisa tidur nyenyak.."
"Baiklah, ayo kita tidur.."Wira merangkak naik ke ranjang dan mulai memejamkan matanya.
π·π·π·
30 komentar lebih cukuplah untuk mendobrak semangatku menulis, makasih readers tercintaku..
Setelah baca bab ini ikut bahagia kan, ayo beri hadiah buat merekaππ
Jangan lupa like, komen, hadiahnya..
__ADS_1
bersambung..