Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Cinta terpendam ( Metta Juliancy)


__ADS_3

🌷🌷Yuk siap nangis berjamaah, sebelum itu tekan dulu likenya, hadiahnya.. eh setelah baca jangan lupa ketik komentarnya.. Ara ucapkan terimakasih😚 bagi yang udah kasih bunga dan kopi, nanti setelah baca bagi lagi ya cukup bunga apa kopi aja.. kalau koin kan harus top up dulu, aku agak perlu..😚🌷🌷


Flasback on


Wira Sanjaya merupakan putra tunggal Sanjaya dan Aida, keduanya orang tuanya bekerja mengabdi penuh pada keluarga besar Adinata. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga, tak jarang ia pun akan mengasuh David saat Mega meninggalkan putranya untuk keluar kota menemani Deni. Sedangkan ayahnya Sanjaya merupakan sopir pribadi Deni Adinata.


Singkat cerita, suatu hari Sanjaya dan Aida meminta izin untuk pulang ke halaman rumahnya ia ingin mengunjungi Wira yang ia titipkan pada neneknya. Deni menyarankan untuk membawa mobil miliknya saja. Entah karena terlalu senang akan bertemu putra tunggalnya itu atau karena apa , Sanjaya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Naasnya belum sempat sampai tujuan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan menabrak pembatas jalan tol, dan meninggal di tempat.


Wira yang saat itu baru berusia tujuh tahun menangis histeris kala melihat ayah dan ibunya pulang dalam keadaan terbujur kaku.


"Ayah, ibu.. ku mohon bangun. Jangan tinggalkan aku.."


Wira mengguncang tubuh kedua orang tuanya,.


"Nenek katakan pada Ayah dan Ibu untuk bangun, mereka bilang akan memberi kejutan ulang tahunku bukan, lalu kenapa mereka malah tertidur.." Wira kembali berlalu mengguncang tubuh sang nenek.


Nenek Sarni tertunduk lesu lidahnya kelu tak mampu menjawab dadanya terasa sesak dan sakit, melihat cucunya begitu histeris.


"Wira sayang, dengarkan nenek biarkan Ayah dan Ibu tenang ya. Mereka bisa pergi ke surga. Ikhlaskan mereka ya nak.."tutur nenek Sarni.


Wira menggeleng, "Kenapa mereka tidak membawa aku juga nek.."


Budi Juliancy dan Diandra bersama sang putri Metta Juliancy tiba di kediaman nenek Sarni. Diandra terkejut mendengar sang kakak Sanjaya kini telah tiada.


Diandra datang ke arah Wira dan memeluk ponakannya dengan erat.


"Tenanglah sayang, kau tidak sendiri. Masih ada kami, paman bibi juga adikmu Metta.."ujar Diandra


🌷🌷


Tujuh hari setelah kematian Sanjaya dan Aida, nenek Sarni sering jatuh sakit-sakitan, menjelang empat puluh hari kematian Sanjaya dan Aida, nenek Sarni di temukan di kamar mandi dalam keadaan sudah tak bernyawa.


Wira berlari dari satu rumah ke rumah yang lain demi mencari pertolongan, Pak Santo selaku ketua Rt di sana menghubungi Diandra dan Budi memberi kabar duka tersebut. Sebelumnya Diandra sudah berulang kali menawarkan nenek Sarni untuk ikut dengannya namun ia tidak mau, ia selalu mengatakan sayang untuk meninggalkan rumah peninggalan almarhum suaminya.


Diandra dan Budi kembali ke kampung halamannya.


"Bibi kenapa nenek meninggalkanku juga, apa nenek tidak sayang padaku.."ucap Wira dengan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Tidak sayang, nenek sangat sayang padamu. Kau tidak sendiri sayang, masih ada Bibi, Paman juga Metta adikmu.."tutur Diandra.


🌷🌷🌷


Keesokan harinya keluarga Adinata kembali datang ke kampung halaman Wira. Deni menawarkan diri untuk mengadopsi Wira. Namun Diandra menolak, ia masih merasa memilik hak atas Wira, ia akan merawat Wira layaknya anak kandung sendiri.


Akhirnya Deni memberikan pilihan pada Wira ia akan memilih siapa.


"Aku ikut Bibi Diandra saja.."ucap Wira


Deni pun tidak dapat memaksa, ia melepaskan Wira begitu saja. "Sanjaya aku berjanji meski ia tidak mau ikut bersamaku, aku akan melindunginya dan selalu memantaunya dari jauh.. Ini janjiku atas kesetiaanmu pada keluarga kami Sanjaya.."


"Papa kenapa tidak memaksa Wira untuk ikut bersama kita saja, agar aku mempunyai teman pa.."ucap David saat itu masih berusia sepuluh tahun.


"Kita tidak dapat memaksa keinginan seseorang sayang.."ujar Mega


"Baiklah, tapi lain waktu Papa akan membawaku bertemu dengannya kan.."tanya David


"Tentu saja..."


🌷🌷


Sesuai dengan janjinya, Diandra dan Budi membawa Wira ke tempatnya.


"Metta, ada Wira. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini bersama kita. Kau senang kan mempunyai teman.."tanya Diandra.


"Benarkah, tentu saja aku senang.."sahut Metta dengan girang.


Metta Juliancy, putri tunggal dari Budi Juliancy dan Diandra, usianya hanya terpaut beberapa bulan dengan Wira.


Diandra dan Budi memasukan Wira ke sekolah yang sama dengan Metta. Mereka tidak membeda-bedakan antara Wira dan Metta, baginya keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Wira seorang anak yang pandai dan selalu berprestasi dalam hal apapun, tentu saja Metta sangat mengagumi kepintaran kakak tersebut.


Hari terus berlalu, tanpa terasa keduanya sama-sama menginjak SMA. Wira tumbuh menjadi pria yang tampan dan di gemari para kaum hawa, tidak jauh beda Metta pun sama dia semakin cantik.


Metta semakin mengagumi ketampanan Wira juga kepintarannya, namun ia menyadari hubungan keduanya merupakan hubungan yang terlarang yang tak mungkin bersatu. Metta hanya diam terus memendam perasaannya.


"Bukankah cinta memang tidak harus bersatu, selalu berada dekat dengan Kak Wira saja aku sudah bahagia.."gumam Metta sembari menatap langit yang begitu cerah, ia duduk di belakang sekolahnya.

__ADS_1


"Kau memikirkan apa Metta.."tanya Wira yang datang selepas mengikuti extra kulikuler bola basket, ia mengambil minum yang Metta bawa dan meneguknya.


Metta menatap Wira dengan seksama, ia menelan ludahnya melihat aura ketampanan Wira dengan bulir keringat yang mengalir di tubuhnya.


"Hei, melamunkah.."Wira menjetikkan jarinya mengejutkan Metta.


"Tidak, aku tidak melamun.."


Wira pun hanya menjawabnya dengan ber oh ria saja.


"Kak, banyak wanita yang mengagumi dirimu, apa kau tidak berniat menjadikan salah satunya kekasihmu..."tanya Metta.


"Tidak, aku tidak ingin punya kekasih. Bukankah jika aku mempunyai kekasih, nantinya aku akan menjadi sulit jalan dan menghabiskan waktu bersamamu,.."tutur Wira, entah kenapa Metta yang mendengar hal itu merasa senang.


"Aku tidak ingin terikat hubungan yang tidak jelas Metta yang pada akhirnya akan berujung menyakiti salah satu pihak. Aku mempunyai adik sepertimu, aku juga tidak rela jika adikku ini akan di permainkan oleh seseorang."sambung Wira


"terimakasih kak Wira.."


🌷🌷


Waktu terus berlalu hingga kini keduanya sudah menginjak kelas tiga SMA, hingga mendekati ujian. Hubungan Wira dan Metta masih sama, banyak pria yang menganggumi Metta dan menyatakan cintanya namun tidak satupun yang membuat hati Metta tergugah untuk menerimanya.


"Salahkah aku yang mencintai kakakku sendiri.."gumam Metta


Suatu hari Desi teman sekelas Mereka menyatakan cintanya pada Wira, namun Wira menolaknya, ia justru berlalu meninggalkan Desi dan pergi bersama Metta. Desi menggeram kesal, ia merasa sakit hati.


Hingga tiba waktunya ujian, Metta dan Wira kerap menghabiskan waktu berdua untuk belajar. Keduanya berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik saat ujian nanti.


"Andainya aku bisa memilih jika aku tak bisa memilikinya akan lebih baik jika aku tiada di dunia ini.."gumam Metta menatap Wira dalam diam, Wira terlalu fokus dengan buku pelajarannya.


🌷🌷


Bagaimana part ini..?


masih ada satu bab lagi kisah Wira dan Metta, Ara istirahat dulu ya, pegel jari ngetik..😊


Kasih hadiah buat Ara ya, jangan lupa like dan komentarnya di tunggu.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2