Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Paha Kanan


__ADS_3

Pukul delapan malam David dan Wira baru beranjak pulang.


"Aku tidak menyangka urusannya bakal panjang hingga harus sampai larut ini.."ucap David dalam perjalanan pulang, ia mendesah lelah.


Wira yang berada di kursi kemudi, "Tidak masalah Tuan, yang penting masalah ini sudah terselesaikan..."


David berdecak, "Wira, bisa tidak ubah panggilanmu itu padaku. Aku merasa geli mendengarnya.."


Wira menggeleng, "entahlah.. saya merasa tidak bisa.."


David menghela nafasnya, menyenderkan badannya di kursi lalu memijat pelipisnya. Ponselnya berdering tertera nama My Wife di layar, David segera menggeser tombol hijau lalu menempelkannya di telinga.


"Di mana Daddy..?"tanya Aira di balik telpon.


"Masih di jalan, ada apa...?"


"Apa kau lelah.."


"Sedikit, apa kau menginginkan sesuatu.."tanya David,


"Iya.."


"Apa. Katakan..?"


"Aku ingin makan ayam goreng dengan sambal yang sangat pedas.."tutur Aira


"Bilang saja pada koki untuk membuatkannya.."


"No, aku tidak mau. Aku ingin ayam yang di tidak jauh dari perusahaanmu warung lesehan, tenang saja mereka buka menjelang malam. Jadi saat kau kesana pun masih ada.."


"Baiklah.."jawab David pasrah


"Tapi.."


"Apalagi.."David mengurungkan niatnya mematikan ponselnya.


"Mintalah yang paha kanan, aku tidak mau yang lain rasanya tidak enak..."ucapnya, David tergelak.


"Bagaimana bisa. Bukankah rasanya sama saja.."


"Beda. Aku tidak mau tau pokoknya kau harus mendapatkannya.."tutur Aira


"Semangat Daddy.."sambungnya sebelum mematikan telponnya meninggalkan David yang masih mengernyit heran.


David menyuruh Wira membelokkan mobilnya menuju perusahaan. Memandang ke arah jalanan yang terlihat masih ramai.

__ADS_1


"Kau tau warung lesehan yang tidak jauh dari perusahaan Wira. Antarkan aku kesana.."perintah David


"Baik Tuan.."


"Wira aku minta..."


Belum sempat melanjutkan ucapannya Aira kembali mengirimkan pesan ,


Ingat, aku tidak ingin kau menyuruh Wira untuk membelikannya. Kau harus membelinya sendiri.


Glek.. David menelan ludahnya. Seolah mengerti jalan pikiran David, Aira kembali mengirimkan peringatan.


"Kau minta apa tuan.."ucap Wira


David menggeleng, "Antarkan aku kesana saja."


Wira pun mengangguk, "Aira memintaku untuk membelikan ayam goreng di sana. Tapi yang lebih anehnya, dia meminta paha kanan.."sambung David


Wira tergelak, "Turuti saja, jangan sampai nanti anak-anak anda ileran saat sudah lahir.."ucapnya sedikit menyindir ingatannya tertuju pada perkataan David ketika Aira memintanya untuk tidur di apartemen miliknya. Dan kini Wira membalikkan ucapannya. Kesal, tentu saja kesal saat itu gairahnya sudah di puncak lalu kedatangan Aira dan David meruntuhkan semuanya.


"Kau mengembalikan ucapanku waktu itu ya.."seru David


Wira menggelengkan kepalanya,"Tidak, hanya mengingatkan Tuan.."


"Tadinya aku ingin meminta tolong padamu, tapi Aira tidak mau kau yang membelikannya.."ucap David


Seumur hidupnya David bahkan tidak tau membeli makanan di tempat-tempat seperti itu Tapi demi Aira dan buah hatinya David pasti akan melakukannya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Tiba di tempat David segera masuk memesan permintaan Aira. Kedatangan David tentu saja menghebohkan pemilik warung tersebut, seumurnya mereka tidak pernah melihat David makan atau memesan makanan di sana.


Terdengar aneh akan permintaan David memang, orang mana bisa membedakan paha kanan dan paha kiri ayam. Tapi David kekeh meminta hal itu membuang rasa malunya.


"Saya minta tolong pak istri saya tidak mengidam. Saya akan bayar sepuluh kali lipat.."ucapnya


Pemilik warung yang mendengar tentang uang tentu saja matanya berbinar, ia langsung mengatakan ada tapi harus izin pulang lebih dulu untuk memotong ayamnya.


Dua jam berlalu David baru mendapatkan pesenannya. Sesuai janjinya David membayarnya lebih banyak. Keluar dari mobil David melihat Wira sedang berbicara lewat telpon. Melihat David sudah selesai Wira mengakhiri telponnya.


"Sudah ya, kakak harus kembali menyetir. Kau tidur saja jika sudah mengantuk.."serunya sebelum mematikan telponnya.


David masuk ke dalam mobil, Wira pun kembali masuk ke dalam kursi kemudi.


"Felicia yang menelpon.."tanya David

__ADS_1


"Iya Tuan.."


David menganggukan kepalanya, "Maaf ya. Dia pasti kesal denganmu.."


"Tidak masalah Tuan. Dia ngerti kok.."ucapnya sambil memulai memacu mobilnya menuju kediaman David .


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dengan wajah lesu David masuk ke dalam, begitu di sambut Aira rasa lelahnya hilang seketika. Saat ingin memeluk Aira menghindar.


"Bau asap dan keringat, aku tidak ingin di peluk. Daddy harus mandi dulu.."seru Aira


Tersenyum kecut, "Baiklah. Ini pesananmu.." David menyerahkan kantong kresek pada Aira dan berlalu ke kamar.


Aira langsung membawanya ke dapur, mengambil piring dan memulai makan. Usai selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, David kembali turun mencari Aira is melihat Aira tengah makan dengan lahap.


"Apa memang seenak itu.."tanya David


"hemm.."gumam Air


Menganggukan kepalanya David kembali bertanya, "Dulu saat hamil Axel apa kau juga selalu menginginkan hal-hal aneh seperti saat hamil sekarang.."


Aira menghentikan aktivitas makannya menatap David yang kini duduk di depannya dengan penasaran.


Aira menggeleng, "Dulu saat hamil Axel, aku tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Dia begitu pengertian sejak dalam kandungan tidak pernah menyusahkanku, mungkin karena ia tau kami tidak bersamamu. Pernah sekali aku tiba-tiba merasa sangat ingin memelukmu, tapi itu tidak bisa aku lakukan, aku mencoba mencari fotomu di internet mengambilnya lalu memeluknya, untunglah itu semua dapat mengobati rasa keinginanku saat itu."tuturnya dengan suara yang tercekat,


Deg.. hati David terasa sakit mendengarnya, "Maaf.."David mengangkat tangannya membelai pipi Aira.


"Itu sudah berlalu untuk apa kau menanyakannya lagi.."ucap David


David menganggukan kepalanya, "Selesaikan makanmu. Aku akan ke kamar Axel lebih dulu.."


David berjalan ke atas menuju kamar Axel, membuka pintu kamar Axel. Tampak anak itu sudah tertidur lelap, David melangkahkan kakinya mendekati putranya itu.


Ia mengamati setiap inci tubuh Axel, David mengusap rambut Axel dengan pelan. Entah kenapa mendengar ucapan Aira dulu perasaan bersalah kembali hinggap dalam diri David. Sejak dalam kandungan putranya itu hanya menginginkan hal yang sangat sederhana untuk lebih dekat pada Daddynya, suatu penyesalan yang tak dapat berikan saat itu.


David mengusap sudut matanya yang basah, andai waktu bisa di putar ulang tentu saja David akan mencegah hal buruk itu terjadi pada Aira dan putranya, ia tidak akan membiarkan kemalangan menimpa mereka.


"Maafkan Daddy sayang.."lirihnya, David mendaratkan kecupan di kening Axel. David berjanji akan menebus segala kesalahan yang telah ia buat pada putra dan istrinya di masa lalu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒน๐ŸŒนBab ini aku membawa Aira dan David ya๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒน๐ŸŒนJangan lupa like, komen, hadiahnya.. Hari senin tiba jangan lupa juga votenya..๐Ÿ˜Š๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2