
"Hai, David apa kabar? Ah, aku sungguh merindukanmu." Freya datang menghampiri kursi David.
David bangkit dari kursi. "Senang mengenal anda Nona Freya, kabar ku baik."
"Ah, kamu terlalu sopan padaku, membuat aku jadi semakin tertarik padamu," tanpa apa-apa Freya mendekat memeluk serta mencium David, membuat Aira molongo. Dengan susah payah David melepaskan pelukan wanita itu.
Freya sekilas melihat ke Aira lalu mengerutkan keningnya. David menyadari arah pandang Freya lalu ia mengenalkan Aira "Kenalkan ini Aira," ucap David. David memberi kode Aira lewat matanya.
"Oh apa kabar? Saya Aira,"kata Aira. Namun, tidak diperdulikan oleh Freya.
"Silakan duduk Freya," ucap Deni.
"Oh ya ku ingin duduk dekat dengan David," jawab Freya seraya duduk di sebelah David, tanpa memperdulikan Aira , Freya tetap berusaha merayu David.
"David, kita baru saja bertemu. Namun, aku merasa sangat cocok denganmu. Bagaimana jika lain kali kita pergi ke sebuah club bersama, aku tau dimana club' yang terbaik di sini," eru Freya dengan tidak tau malu terus menempel pada David.
David merasa jijik dengan tingkah laku Freya, ia berusaha meremas tangan Aira, guna mengkode meminta bantuan. "Sayang, kau mau mencoba ini? Ini sangat enak cobalah sedikit," ucap Aira menyuapi makanan pada David.
"Kau benar ternyata sangat enak, bisakah kau menyuapiku lagi. Makanannya akan tambah lebih enak jika itu berasal dari tanganmu," sahut David. Bagi David ucapannya itu tidak bermakna apa-apa. Namun, bagi Aira justru membuat ia salah tingkah. Lupakan ini hanya sebuah akting oke,batin Aira
Melihat kedekatan Aira dan David membuat Freya kesal, pun juga Deni sang papa David. Berbeda dengan yang lainnya Mega justru tampak tersenyum, ia sudah lama tidak melihat putranya bisa sedekat itu dengan wanita.
Hal itu juga berlaku pada keluarga Freya, ternyata David justru memamerkan kemesraannya padanya.
__ADS_1
"David jaga sikapmu, kau tak menghargai Freya yang berada di sampingmu? Kau justru asyik dengan wanita lain!" tegur Deni marah.
"Oh ya, aku lupa jika ada dia pa. Aku suka tidak sadar jika ada orang lain saat sedang bersama Aira. Istilah orang yang sedang kasmaran itu apa ya.. em ya aku tau serasa dunia milik berdua," jawab David dengan entengnya.
"David diamlah kau-" tunjuk Deni dengan emosi.
"Kenapa? Papa mau mengusirku? Oh papa tidak suka dengan kelakuanku?" sahut David tenang.
Sementara itu keluarga Freya tampak kesal "Cukup Pak Deni, saya muak mendengar perdebatan anda dengan anak anda. Rasanya kehadiran kami tidak dihargai, apalagi ternyata David putra anda sudah mempunyai pasangan, lebih baik kami permisi," ucap Papa Freya.
"Pa, tapi aku suka sama David," rengek Freya ketika sang Papa berusaha menyeretnya untuk pulang.
"Diamlah! Ayo pulang!" seru papa Freya,
"Cih!! Menjijikan," ucap David sambil mengusap-usap lengannya dan pipinya bekas dicium dan dipegang Freya.
"Sudah puaskah kau menghancurkan rencana papa?" tanya Deni penuh dengan penekanan,
"Tentu saja, sudah ku katakan berulang kali, jangan membuat perjodohan konyol untukku, lihat wanita yang papa pilih untukku, ternyata sangat rendahan dan menjijikan," jawab David dengan sinis.
"Dia dari keluarga terpandang jelas dia setara denganmu. Berbeda dengan wanita yang di sisimu, kau tidak tau buka asal usulnya,"teriak Deni.
Aira meringis mendengar ucapan papa David. Aira juga berusaha mengusap lengan David memberi ketenangan.
__ADS_1
"Aku tidak butuh pendapat papa, baiklah makan malam sudah selesai, aku pamit pulang," pamit David lalu beranjak berdiri.
"Sayang, kau tidak menginap di sini?" tanya Mega dengan penuh harap.
David melihat ke arah mamanya lalu tersenyum. "Tidak untuk malam ini ya ma."
Mega pun tampak mengerti lalu membiarkannya mereka pergi.
Sepanjang jalan Aira hanya terdiam memikirkan rentetan kejadian tadi selama makan malam berlangsung. Nyatanya menjadi seorang keluarga sosialita tidak seenak yang ia bayangkan, makan saja harus berdebat, bahkan memilih pasangan juga harus dipilihkan. Sungguh rumit, Aira merasa bersyukur hidup dalam kalangan menengah ke bawah. Ia bisa melakukan apapun yang ia bisa, tanpa adanya perdebatan dan gangguan, ia bisa bercita-cita setinggi yang ia bisa.
Lamunan Aira buyar ketika David menepuk pundaknya, dan bilang jika sudah sampai di kosan ia tinggal.
"Terimakasih untuk malam ini, maaf untuk segala kejadian yang terjadi tadi," ucap David.
"Tidak masalah tuan, saya tidak memikirkannya," sahut Aira.
"Baiklah, aku harus pergi. Aku akan hubungi lagi jika aku membutuhkanmu lagi. Uangnya akan aku transfer nanti," ucap David.
Untuk hari ini pekerjaan Aira pada David cukup sampai di sini. Ia tidak tau apakah David puas dengan kinerjanya apa tidak.
Aira menjatuhkan dirinya di kasurnya, ia masih memikirkan akan sikap wanita yang tadi akan dijodohkan dengan David, dia tampak agresif, sejujurnya ada rasa tidak suka di dalam diri Aira pada wanita tadi. Namun, ia tidak punya hak apa-apa.
Kemarin saat Novi sang sekretaris David mengantarkan ia membeli gaun, ia memilihkan begitu banyak gaun, sepatu, tas, tentunya semua adalah barang yang bermerk. Aira hanya menganggap semua adalah titipan suatu saat bila mana kontrak perjanjian ini berakhir ia akan mengembalikannya pada yang punya.
__ADS_1
Notif sebuah pesan masuk dari handphonenya ia lalu mengeceknya. Matanya membulat sempurna, ia kaget sekaligus senang bayaran yang ia terima dari David lebih berkali-kali lipat dibandingkan dengan tarif yang biasa ia berikan. Ia akan memulai sedikit demi sedikit menabung untuk membeli rumah lalu membawa papanya pergi dari rumah terkutuk itu. Membayangkan itu membuat ia tersenyum sendiri.