Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
S2 : Bukan pria idaman


__ADS_3

Warning 21+++


Area dewasa di bawah umur boleh skip, kalau tetap maksa gak tanggung jawab😂


Felicia berdiri di depan cermin rias sembari melepaskan hiasan yang ada pada rambutnya. Wira menutup pintu balkon kamarnya, ia berjalan ke arah istrinya sembari menyilangkan tangannya di dada seraya tersenyum tipis.


Felicia yang melihat pantulan Wira dari cermin jantung berdetak lebih cepat. Dulu saat selesai menikah Felicia tidak merasakan seperti ini. Tapi hari ini, Felicia merasakan sesuatu yang berbeda, ia merasa sifat Wira lebih hangat. Ada sesuatu yang tak mampu ia jabarkan, namun ia tau jika kini ia mencintai suaminya.


"Kak.."panggil Felicia gugup.


"Hem.."jawab Wira menaikan sebelah alisnya.


Felicia membalikkan tubuhnya menghadap Wira,


"Itu lho apa namanya..."ucapan Felicia semakin ngaco kala melihat Wira tengah menatap dirinya dengan intens, wanita itu tampak gugup terkadang juga menggaruk rambutnya. Wira jadi gemas sendiri.


"Ayo duduklah.."Wira membawa Felicia untuk duduk di pinggir ranjang.


"Kak.."panggil Felicia lagi


"Apa hem,..."


"Kenapa kau jadi gugup begini, wajahmu bahkan sudah merona. Padahal aku belum melakukan apapun lho.."sambung Wira,


Wira berjongkok di hadapan Felicia membuat Felicia terkejut.


"Kakak kau mau apa..?"tanya Felicia


Wira mengambil tangan Felicia.


"Feli, aku bukan pria manis seperti aktor-aktor yang sering kau lihat di televisi. Aku adalah aku. Seorang lelaki yang pernah membuatmu terluka. Aku tidak lebih brengsek yang selalu membuatmu tak di inginkan. Tapi malam ini aku akan mengungkapkan semuanya.."tutur Wira matanya tampak memerah dan seidikit berkaca-kaca.


Felicia menatap Wira "Aku tidak menyentuhmu karena aku tidak mau menghancurkanmu. Tapi yang ku lakukan malah menyakitimu. Ada saat di mana aku merasa takut kau akan menyerah dan meninggalkanku. Ya, sampai suatu hari hal yang ku takutkan itu terjadi kau marah dan pergi meninggalkanku. Hari itu aku menyadari bahwa dirimu sangatlah berarti untuk hidupku. Aku tidak bisa kehilanganmu. Hingga akhirnya aku bisa mendapatkanmu kembali, Feli aku sangat bersyukur kau masih mau menerima pria brengsek seperti diriku. Aku sangat bahagia Feli, aku seperti menemukan kebahagiaanku kembali. Maaf untuk semua luka yang pernah ku torehkan pada hatimu. Terimakasih telah mempercayaiku kembali.."sambungnya ia mengecup tangan kanang Felicia.


Felicia tersenyum di balik isak tangisnya. Perlahan ia mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap setetes air mata yang jatuh dari mata Wira , "Cukup aku sudah sangat tau kak. Aku percaya padamu.."


"Feli aku memang bukan pria idaman siapapun. Tapi izinkan aku menjadi suami yang baik untukmu. Hanya untukmu.."Bangkit dari tempatnya Wira memajukan wajahnya untuk mengecup kening Felicia.


Felicia memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat yang sangat ia sukai. Rasa hangat yang tak dapat di beri oleh siapapun, kecuali Wira.

__ADS_1


Wira membawa Felicia kembali berdiri,meraih dagu Felicia lalu meneguk ludahnya dengan sudah payah. Tersenyum, lalu Wira menangkup wajah Felicia dan mulai mencium bibir nya dengan lembut. Permainan lidah yang sangat luar biasa, Felicia berusaha mengimbanginya. Bunyi decapan terdengar merdu di kamar itu.


Ciuman keduanya terurai, kilatan-kilatan yang tidak biasa dapat terlihat di balik mata keduanya. "I really want you tonight, Baby.."bisik Wira yang entah mengapa terdengar seksi bagi Felicia.


Felicia tidak menjawab ia hanya mengalungkan kedua tangannya di pundak suami. Wira tersenyum manis, ia memeluk erat dan kembali mencium bibir manis Felicia. Kali ini, bukan hanya bibir, Wira pun mengecup mesra leher, bahu Felicia. Wira terus memberikan sensasi gila yang tak mampu Felicia jabarkan. Hingga ia tidak dapat mengendalikan tubuhnya.


Wira melepaskan dasi dan jasnya, lalu ia lemparkan begitu saja. Setelahnya kedua tangan Wira mulai liar menurunkan gaun yang di kenakan Felicia. Felicia melakukan hal yang sama yaitu membuka satu persatu kancing kemeja milik suaminya, bersamaan dengan itu gaun Felicia sudah lepas dan terjuntai ke lantai.


Wira menuntun Felicia ke ranjang lalu menidurkannnya. Ia menindih tubuh Felicia, perlahan ia kembali mencium dan ******* bibir istrinya. Ciumannya beralih ke leher jenjang Felicia, ia memberikan sebuah tanda kepemilikan di sana. Felicia terlihat begitu menikmati akan apa yang suami lakukan.


Wira menyusuri setiap inci tubuh Felicia, kini lidahnya sudah beralih pada bukit kembar milik Felicia. Membenamkan ciumannya di sana, sementar tangan satunya bekerja untuk yang lain, terkadang memelintir atau meremasnya. Membuat Felicia membusungkan dadanya, ia merasa di bawa terbang ke nirwana, bersamaan pepaudan antara cinta dan gairah, suaminya benar-benar membuatnya menikmati sensasi gila yang tak pernah ia jabarkan. Aneh, Felicia merasa sangat menyukai akan apa yang Wira lakukan kini. Bahkan ia tidak tau kapan dirinya sudah dalam keadaan telanjang bulat.


Melepas ciumannya Wira tersenyum manis, ia bangkit melepaskan ikat pinggang lalu menurunkan celananya.


Deg.. Felicia memalingkan mukanya, membuat Wira terkekeh.


Wira kembali menindih tubuh Felicia, membuat mata Felicia membulat sempurna saat ia melihat bukti kejantanan milik suaminya.


"Kenapa? mau megang.."bisik Wira di telinga Felicia.


"No, aku takut.."lirihnya mukanya kembali merona.


Wira mulai membenamkan miliknya pada milik Felicia, ia berusaha menerobos masuk goa yang masih sangat sempit.


"Sa..sakit.."Teriak Felicia, Wira langsung membungkam kembali bibir istrinya. Felicia meronta memukul dada sang suami juga mencakar menggunakan kuku-kuku cantik miliknya, terlihat ia begitu kesakitan. Setelah berhasil masuk, Wira membenamkan miliknya sejenak.


"Boleh di lanjut.."bisik Wira, Felicia menganggukan kepalanya. Setelah mendapat izin dari Felicia, Wira mulai menggerakkan pinggulnya. Sementara bibir dan tangan terus bekerja menikmati setiap benda yang ada di depan mata.


Melepaskan bibirnya, Wira memandang wajah Felicia yang tengah mengigit bibirnya seperti menahan sesuatu, "Jangan gigit bibir, keluarkan saja. Kenapa di tahan, kamar ini juga kedap suara.."


"Aku malu.."jawabnya


Wira terkekeh, sungguh menggemaskan istrinya, tau asik begini dari dulu kali Wira menikmati sensasi yang memabukkan bersama istrinya itu, eh.


Wira terus mempercepat gerakannya, hingga Felicia sudah tidak dapat menahan desahan indah yang sejak tadi ingin ia lepaskan.


Sungguh lucu, tadi ia bilang malu. Tapi ia terlihat menikmati apa yang suaminya lakukan itu, kamar yang ber ac terasa panas untuk keduanya yang masih saling menyatu, bertukar saliva, dan bertukar keringat.. Hingga satu jam berlalu Wira menghentikan gerakannya, Felicia merasakan sesuatu hangat mengalir di bawah sana bersamaan dengan Wira mendesahkan namanya.


Wira membenamkan wajahnya pada wajah Felicia, lalu memberikan kecupan singkat di dahinya, "Terimakasih sayang.."ucapnya, dengan deru nafas yang masih terdengar akibat pergumulan panas yang keduanya lakukan.

__ADS_1


Felicia hanya menganggukan kepalanya ia tidak mampu menjawab, ia merasa badannya remuk. Wira bangkit dari atas tubuh Felicia, lalu membaringkan dirinya di sebelahnya. Wira menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


Wira memiringkan tubunya menghadap Felicia, wanita itu sedang memejamkan matanya, seperti menahan sesuatu.


"Masih sakit kah.."tanya Wira lembut, ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Meski matanya sudah mengantuk Wira tetap harus menahannya sejenak, untuk sekedar memastikan keadaan istrinya.


Felicia juga menghadapkan tubuhnya pada Wira hingga kini keduanya saling berhadapan, "heem, Kak Aira bohong.."celetuknya.


"Maksudnya..?"Wira mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


"Dulu pas kita nikah, aku pernah bertanya bagaimana rasanya malam pertama, dia bilang enak dan nikmat. Taunya kok sakit begini, perih.."ucap Felicia.


Wira terkekeh, ia kembali mengingat moment saat itu, pantas saat malam pengantin Felicia memakai lingerie merah menyala. Dan hari ini Wira sengaja tidak menyuruh Felicia memakai pakain itu, ia tidak mau Felicia kembali mengingat momen yang menyedihkan itu.


Felicia menggelengkan kepalanya, "Jika sakit begini, aku tidak mau lagi melakukannya.."ucapnya membuat Wira tergelak.


"Hanya untuk yang pertama sakit, kesananya tidak lagi.."tutur Wira


"benarkah..?"


"Heem, tidur yuk. Kakak sudah sangat ngantuk.."ucap Wira ia meraih tubuh Felicia memeluknya lalu mulai memejamkan matanya.


Merasa lelah Felicia menyusul suaminya menuju alam mimpi.


🌹🌹


Bagaimana part ini?


Aku sebagai penulis baca part ini senyum-senyum sendiri.


Komen di bawah ya, kalau komennya banyak usahakan up lagi😊.. Ara tunggu lho.


Lempar hadiah nya yang banyak ya😂


Jangan lupa juga tinggalkan jejak like, koment, hadiahnya.


Di tunggu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2