Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran

Skandal Cinta Sang Wanita Pendamping Bayaran
Bab 6 : Kesepakatan


__ADS_3

Hari ini di kantor tampak semua orang di sibukkan dengan aktivitasnya. Tak terkecuali, dengan Aira yang tampak serius dengan kerjaannya kali ini.


Lama berkutat dengan pekerjaannya, akhirnya Aira bisa bernafas lega segera menarik otot-ototnya yang kencang. Tidak lama setelah itu ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal di dalam ponselnya.


"Hallo? Dengan siapa ya?" tanya Aira setelah panggilan telpon ia terima.


"Aira ini saya David. Jam makan siang saya tunggu kau di Cafe Pelita ada sesuatu yang ingin saya bicarakan padamu," ucap David, yang membuat Aira cukup terkejut.


"Emmm.. apa mengenai masalah mobil Bapak itu?" tanya Aira.


"Mungkin salah satunya. Ya sudah saya tutup dulu telponnya," ucap David mengakhiri panggilannya.


Aira menggigit bibirnya merasa bingung jika diminta untuk ganti ruginya ia kali ini akan membayar pakai apa pikirnya. Perempuan itu memilih menjatuhkan kepalanya di atas meja.


****


Cafe Pelita


Di jam makan siang ini suasana cafe itu memang begitu padat. Namun, bagi David tidak masalah karena ia sudah memesan ruang VIP khusus untuk dirinya.


Setibanya di cafe Aira segera melangkahkan kakinya ke meja David. Sebelumnya, David memang sudah mengirimkan pesan padanya, jika ia telah menunggu juga memberi tahu jika ia berada di ruang VIP.


Di sinilah Aira berada, berhadapan langsung dengan atasannya sendiri. Berbeda dari Aira yang terlihat canggung, David merasa biasa saja, meski saat pertama kali melihat Aira ada getaran-getaran aneh yang ia rasa, namun ia menepis rasa itu.

__ADS_1


"Pesanlah makan untukmu terlebih dahulu," ucap David memberikan daftar menu makanan pada Aira.


"Tapi, Tuan saya-" sahut Aira yang belum selesai bicara.


"Tenang saja, aku yang mengajakmu makan di sini. Tentu saja aku yang akan membayarnya," ujar David seakan mengerti jalan pikiran Aira.


"Baiklah." Aira segera membuka daftar menunya, lalu memesannya.


Tidak lama setelah itu seorang pramusaji telah tiba membawa pesanan mereka. Lalu mereka pun mulai menyantap makanannya.


"Tuan? Apa yang ingin bicarakan pada saya" tanya Aira di sela-sela makannya.


David hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. "Selesaikan saja dulu makanmu," ucapnya.


Berbeda dengan Aira yang merutuki kebodohannya, David justru merasa senang dengan Aira yang terlihat apa adanya. Jika wanita lain akan makan dengan canggung, justru Aira makan dengan lahap.


Setelah selesai dengan makannya keduanya kini terlihat sudah siap untuk memulai obrolannya.


"Tuan, maaf! Jika masalah untuk kerugian dari mobil anda yang rusak waktu, untuk saat ini saya belum bisa menggantinya. Bisakah nanti saya mencicilnya? Emm... Maksudnya anda bisa memotong gaji saya mulai bulan depan," tutur Aira dengan tatapan memohon.


David tersenyum tipis mendengar penuturan Aira. "Saya dengar selain bekerja di perusahan saya. Kamu juga bekerja sebagai wanita pendamping bayaran, benar apa tidak?" tanya David pelan.


Deg!!

__ADS_1


Jantung Aira seketika rasanya mau melepas, ah bagaimana bisa atasannya itu tau, pasti atasannya itu telah berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya, ia harus memberi penjelasan untuknya.


"Tuan saya mohon jangan pecat saya. Saya jamin kok pekerjaan sampingan saya tidak akan mempengaruhi kinerja kantor. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini," ucap Aira dengan rasa takut.


"Saya tau. Maksudku memanggilmu kesini juga saya ingin meminta bantuan darimu," sahut David dengan serius.


"Maksud Tuan? Bantuan apa? Apa yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya Aira.


David membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Begini saya ingin mengontrak kamu menjadi pendamping saya selama empat bulan. Saya juga mau dalam waktu empat bulan itu kamu tidak menerima pria lain untuk kau dampingi," jelas David.


"Tuan.. Tapi kenapa harus selama itu?" tanya Aira. Jujur ia hanya takut jatuh dalam pesona seorang David yang tampilannya begitu memukau, apalagi mengingat pria itu adalah atasannya, ibarat kata bagai bumi dan langit.


"Ya karena saya memang membutuhkanmu selama itu. Jika kamu menyetujuinya saya akan menganggap kerugian pada mobil saya itu lunas, bagaimana?" tawar David.


Mendadak Aira menjadi dilema, jika ia menerima tawaran itu artinya ia akan terjerat kontrak perjanjian dengan pria ini selama empat bulan. Namun, jika ia menolak ia bisa-bisa tidak makan tidak bisa mengirim uang untuk pengobatan papanya, gajinya sebulan kerja bahkan tidak cukup untuk mengganti kerugiannya.


"Bagaimana Aira?" tanya David lagi, memecah lamunan Aira.


"S-saya. Emm Baiklah saya setuju," ucap Aira membuat David tersenyum senang, dengan begini ia bisa menghindari perjodohan itu.


"Baiklah besok Wira akan memberikan surat perjanjian itu dan kau harus tanda tangan. Baiklah terimakasih sebelumnya, saya harus pergi dulu. Tenang saja makanannya sudah saya bayar semuanya," ucap David berdiri lalu pergi.


Aira mendesah kesal. "Apa ini, bisa-bisanya aku harus terikat kontrak dengan pria. Bagaimana jika aku tak sanggup menahan hatiku. Apalagi melihat sikap pak David yang begitu ramah seperti ini. Tuhan aku takut tergoda dengannya," ucap Aira menidurkan kepalanya di meja.

__ADS_1


__ADS_2