
Sampai pintu apartemen Feli semakin agresif ia terus memaksa mencium bibir Wira. Peluh dingin membanjiri kening Wira, darahnya terasa berdesir. Wira memalingkan mukanya menghindari ciuman Felicia, dengan tergesa-gesa ia memasukan kode apartemen, setelah terbuka Wira langsung masuk.
"Lepas..."Felicia menghentakkan kakinya dan menggigit lengan Wira.
"aww.."teriak Wira
Bugh.. Felicia jatuh dari gendongan Wira.
"Feli.. kau baik-baik saja kan.."Wira berjongkok menghampiri Felicia yang meringis kesakitan, ia menepuk pipi Felicia, wajah wanita itu tampak memerah.
"Feli ayo berdirilah.."ucap Wira, ia membantu Felicia berdiri.
Kepala Felicia kembali berdenyut, matanya tampak memerah ia kembali merangkul Wira memeluknya erat, Feli kembali membungkam bibir Wira dengan bibirnya dalam posisi berdiri, "Feli sadarlah, jangan seperti ini.."Wira masih berusaha mengendalikan diri, ia mengiring Felicia ke kamar mandi,..
Brak.. Wira membuka pintu kamar mandi menggunakan kakinya, lalu menggiring Felicia menuju bathup,
Byur.. "Aw.. apa yang kau lakukan. Aku ingin cium.. Ini sungguh dingin.."teriak Felicia
Wira kembali menyalakan kran agar air terus mengalir tubuh Felicia, "Kau bilang panas bukan, jadi kau harus berendam"
Wira membalikkan badannya berniat meninggalkan Felicia begitu saja, kepalanya sudah berdenyut nyeri peluh dingin sudah membanjiri keningnya, kaki dan tangannya tampak gemetar.
Grepp byur..... Felicia kembali menarik tangan Wira membawanya ke dalam bathup, hingga kini posisi Wira berada di atas tubuh Felicia.
Cup.. Felicia kembali mencium dan ******* bibir Wira, matanya tampak memerah ia seperti begitu tersiksa dengan keadaannya saat ini. Wira terdiam menatap Felicia, ia yang awalnya menolak lambat laun mulai membalasnya keduanya saling ******* dan bertukar saliva. Tangan Felicia tampak sibuk membuka pakaiannya sendiri, hingga kini Felicia sudah tampak bertelanjang setengah dada.
Felicia kembali meraba dada Wira, ia berniat membuka pakaian Wira. Tiba-tiba kepala Wira kembali berdenyut nyeri ia melepaskan ciuman Felicia dan memejamkan matanya sejenak.
"Kau brengsek..."
__ADS_1
"Pembunuh..."
Sekelebat bayangan masa lalu kembali terlintas dalam ingatannya.
"Aku tidak bisa melakukan ini,.."Wira menghempaskan tangan Felicia, ia bangkit dari atas tubuh Felicia.
Nafas Felicia tampak terengah-engah, badan Felicia sudah tampak melemas "Berendamlah Nona.."serunya, Wira mengunci kamar mandi dari luar ia takut Feli akan keluar dan menyerangnya.
Keluar dari kamar mandi dengan badan yang gemetar, Wira menarik laci di atas nakas lalu mengambil sebutir obat kemudian meminumnya. Wira menelungkupkan badannya di kedua kakinya matanya tampak memerah dan mulai berkaca-kaca.
Tiga puluh menit kemudian ia merasa tenang, Wira mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang "Cari info tentang siapa orang yang memberi obat perangsang untuk Nona Felicia, aku ingin laporannya segera.."setelah itu ia mematikan ponselnya.
"Tidak akan ku ampuni dia.."ucapnya dengan tangan mengepal.
"Ya ampun, Feli. Aku melupakannya.."Wira segera berlalu ke kamar mandi. Di lihatnya Felicia terbaring lemah dengan posisi terendam air, wajahnya tampak memucat.
Wira kembali ke mengambil ponselnya dan menelponnya.
"Naiklah ke atas dan bawa salah satu pakaianmu, aku butuh bantuanmu. Cepat.."perintahnya. Wira mengambil pakainnya dan membawanya ke kamar mandi untuk ganti.
Tidak lama terdengar bunyi bell, Wira membukakan pintu.
"Cepatlah masuk.."ucapnya
"Ada apa kau memanggilku. Mengganggu tidurku saja..."tanya Novi di selai gerutuan tidak jelas ia sungguh kesal tidurnya terganggu.
Wira menarik tangan Novi ke kamarnya, "Tolong gantikan pakaiannya.."perintah Wira
Novi yang masih merasa masih ngantuk tidak menyadari keberadaan Felicia di kamar Wira. Saat mendengar perintah Wira ia menengok ke arah ranjang seketika matanya membulat sempurna.
__ADS_1
"Nona Felicia, apa yang terjadi.."tanyanya dengan kaget, seketika rasa kantuknya langsung hilang.
"ceritanya panjang.."sahut Wira datar
Novi menghampiri Felicia yang tampak masih memejamkan matanya, "Kau tidak melakukan apapun padanya kan.."tanya Novi penuh selidik.
"Berisik.. kau kira aku sebejat itu.."serunya kesal.
Novi menghela nafas lega, "syukurlah, aku hanya takut kau di habisi oleh Tuan David jika kau menyakiti adiknya.."ucapnya, membuat Wira terhenyak.
Ponsel Wira kembali berdering, Wira menjauh mengangkat ponselnya. Novi pun mulai mengganti pakain Felicia. Tidak lama ia kembali dan Novi sudah selesai mengganti pakain Felicia.
"Nov.."
"Ada apa.."sahut Novi
"Aku akan akan keluar sebentar, tolong kau temani dia di sini."
"Kau mau ke mana.."tanya Novi karena ia melihat wajah Wira yang tampak emosi.
"Memberikan pelajaran pada seseorang,.. Temanilah Nona Feli sebentar, kalau kau merasa ngantuk tidur saja di sini.."serunya sebelum ia berlalu pergi mengambil jaket dan kunci motornya.
⚘⚘⚘
Wira emang setia kan pada David, gak mungkinlah ia buat kecewa David..😂😂 ada gak yang mengharapkan Wira benar-benar khilaf.
jangan lupa like, komen, bagi yang punya tiket vote boleh bagi😊
bersambung..
__ADS_1