Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 100


__ADS_3

Starla duduk di samping Pak Faisal.


"Kamu sangat cantik sekali sayang, tidak salah saya memilih kamu." ucap pak Faisal.


"Hentikan!" Tiba-tiba Martin datang. Semua mata tertuju kepada Martin.


Pak Faisal kaget melihat Martin datang. "Kak Martin. Diki." ucap Starla kaget.


"Nak Martin.." Bu Irma melihat mereka datang.


"Apa maksud anda dengan semua ini?" tanya Martin.


"Kamu tidak perlu ikut campur Dengan ini, urusan kita sudah tidak ada." ucap pak Faisal.


"Apa yang terjadi?" tanya Martin.


Tidak ada yang menjawab, Starla dan Bu Irma Heran kenapa pak Faisal begitu takut.


"Kenapa anda memaksa Starla menikah dengan anda?" tanya Martin.


"Kak aku melakukan ini karena hutang Ayah." ucap Starla.


"Utang?" tanya Martin. Pak Faisal terdiam.


"Saya sudah membayar semua kerugian yang bapak minta waktu itu. Apa lagi yang anda tuntut kepada Bu Irma dan anak nya?" tanya Martin.


Starla dan Bu Irma heran. Bingung.


"Ada apa dengan semua ini?" batin Starla.


Tiba-tiba polisi datang. "Anda harus mempertanggung jawabkan semua nya ini di penjara." ucap Martin.


"Jangan penjarakan saya, saya mohon. Saya minta maaf maaf. Saya akan melepaskan Starla dan ibu nya.


"Anda sebelum nya sudah berjanji agar tidak pernah mengganggu keluarga Almarhum. Namun semuanya anda ingkari." ucap Martin.


"Dan sekarang waktunya semua kebusukan dan kejahatan bapak di ketahui oleh mereka.


"Bapak lah yang membunuh Pak Haris, bapak yang sudah mengatur semua nya agar orang lain tidak tau." ucap Pak Faisal.


Starla dan Ibu nya terdiam. Semua yang mendengar nya juga kaget. Diki cukup kaget juga karena awalnya dia tidak tau korban tabrakan satu lagi adalah Ayah nya Starla.


"Maksudnya apa kak Martin?" tanya Starla.


"Kalian harus tau sebenarnya yang menabrak pak Haris adalah Pak Martin. Beliau ugal-ugalan membawa Mobil." ucap pak Faisal.


"Bawa dia!" ucap Martin langsung pergi ke luar dari sana.

__ADS_1


"Anda juga harus di penjara, bukan saya." ucap Pak Faisal masih berusaha untuk membela diri.


"Pergi! Anda harus bertanggung jawab kekantor polisi." Martin.


Diki, Martin dan Starla serta Ibu nya. Starla dan ibu nya menatap Martin dengan tatapan penuh tanda tanya, butuh penjelasan.


"Ibu, Starla kasih saya waktu untuk menjelaskan nya." ucap Martin.


"Jadi kakak benar menabrak mobil yang di Kendarai oleh Pak Haris?" tanya Diki. Martin menoleh ke arah Adik nya.


Martin mengangguk.


"Saya tidak ugal-ugalan. Pada saat itu saya ribut dengan orang tua saya di dalam mobil. Saya sangat emosi saya hilang kendali dan pada akhirnya saya tidak bisa mengontrol mobil yang saya bawa sehingga saya lari dari jalur mobil dan menabrak mobil pak Haris yang kebetulan Sangat Laju." ucap Martin.


Bu Ira mendengar itu seketika langsung syok. Dia mau pingsan namun keluarga nya langsung membawa kembali ke rumah.


"Ibu..." Starla khawatir dengan ibu nya.


"Saya benar-benar minta maaf, saya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, saya minta maaf." ucap Martin.


"Kakak pikir permintaan maaf saja sudah cukup?" tanya Starla.


"Itu mungkin tidak lah cukup, saya minta maaf sebesar-besarnya sama kamu mau pun ibu kamu, apa pun yang kalian minta akan saya berikan." ucap Martin.


"Kakak begitu mudah berbicara seperti itu? Kakak sangat mudah berbicara demikian tampa memikirkan perasaan ku dengan ibu ku?" tanya Starla.


Dia sangat kecewa dengan Martin. Dia benar-benar sedih mengetahui faktanya seperti itu, dia pikir selama ini Ayah nya kecelakaan tunggal.


Martin menunduk sedih. "Aku butuh kejujuran kakak apa yang membuat kakak berantem di dalam mobil pada waktu itu." ucap Diki.


"Mamah dan papah mau bercerai. Mereka memiliki pasangan hidup masing-masing. Mereka meminta ijin kakak untuk menikah dengan pilihan mereka." ucap Martin.


Diki terdiam sejenak. Dia mengingat lagi pada suatu hari tidak sengaja dia melihat foto mamah nya dengan laki-laki lain dan juga foto Papah nya dengan perempuan lain.


Dan Diki sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dari mereka berdua.


"Percaya atau tidak itu adalah urusan kamu, kakak juga tidak memiliki bukti untuk membuat kamu Percaya." ucap Martin langsung pergi.


Diki duduk lemas dia sudah salah kepada kakak nya. Namun tetap saja masih ada rasa marah pada kakak nya karena emosi dia membuat orang tua nya meninggal dunia.


Diki tidak tau harus mengejar Starla atau kakak nya.


Diki memilih untuk kembali ke apartemen nya.


"Masing-masing mereka ingin memiliki waktu sendiri memikirkan apa yang terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Ibu...." Panggil Starla setelah sampai di rumah. Ibu nya menoleh ke arah Starla. Dia langsung memeluk Starla dan kedua nya menangis.

__ADS_1


Ternyata Martin mengikuti mereka.


Mendengar suara tangisan membuat dia semakin merasa bersalah dia tidak tau harus bagaimana lagi. Dia sudah tidak mampu menunjukkan wajah nya di hadapan Bu Irma dan juga Starla.


Keesokan harinya...


"Starla, Diki dan Kak Martin sudah dua hari tidak ada kabar nya. Aku jadi khawatir ." ucap Hima.


Dia mencoba menghubungi Starla namun tidak aktif.


"Sebaiknya aku datang saja lah ke rumah Starla memastikan keadaan nya."


Hima sampai di rumah Starla di heran melihat warung Bu Irma tidak buka.


"Loh kok Sepi sih?" ucap Hima, dia masuk ke dalam mengetuk pintu tidak beberapa lama di buka oleh Starla.


"Starla kenapa kamu di rumah saja?" tanya Hima.


"Aku pikir Siapa tadi, eh ternyata kamu." ucap Starla.


Hima masuk. "Kamu sendiri saja di sini?" tanya Hima.


Starla mengangguk.


"Loh ibu kamu kemana?"


"Ibu ku sakit dia pulang ke kampung untuk berobat kampung, aku baru saja pulang mengantarkan nya." ucap Starla.


"Loh kok bisa? Kamu kok gak ngabarin aku sih?" tanya Hima. Starla diam.


"Kamu lagi ada masalah yah?" tanya Hima karena raut wajah Starla sangat sedih.


Starla tiba-tiba nangis, Hima langsung memeluk nya.


"Kok nangis? ada apa?" tanya Hima. Starla masih belum menceritakan nya.


Hima menunggu Starla lebih tenang dulu, dia mengelus kepala nya agar lebih tenang.


Setelah tenang Hima menanyakan nya lagi.


."Coba katakan ada apa." ucap Hima.


"Ya membuat Ayah ku meninggal adalah kak Martin." ucap Starla.


"Maksudnya?"


"Kak Martin yang menabrak mobil Ayah pada waktu itu, bukan kecelakaan tunggal dan kak Martin menipu semua orang agar percaya Ayah kecelakaan tunggal." ucap Starla.

__ADS_1


Hima kaget mendengar nya, dia benar-benar sangat kaget karena tidak habis pikir. Seperti tidak mungkin namun itu adalah kenyataan.


__ADS_2