
Mereka masuk ke dalam mobil.
"Kenapa makan nya di luar? Kenapa tidak di kantin saja?" tanya Starla.
Diki hanya diam saja, tidak beberapa lama sampai di cafe yang tidak jauh dari Dari kampus mereka.
Diki dan Starla masuk.
"Pesan saja apa yang kamu mau, aku yang akan membayar nya." ucap Diki.
"Tidak perlu, aku bisa membayar sendiri." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang.
Mereka memesan tidak beberapa lama makanan nya datang.
Starla sangat senang karena itu termasuk makanan kesukaan nya yang sangat jarang dia makan. Dia tidak memiliki teman ke cafe itu, dia takut kalau bertemu orang yang tidak menyukai dia di sana.
"Makan lah, apa yang kamu lihat?" tanya Diki. Starla melihat Diki makan dia pun ikut langsung makan.
Namun tiba-tiba dia sangat terkejut sekali ketika air tiba-tiba membasahi nasi nya.
Dia kaget dia langsung berdiri karena kaget sekali.
Begitu juga dengan Diki dia langsung berdiri.
"Laura! Apa yang kamu lakukan?" tanya Diki.
"Berani-beraninya kamu pergi makan sama perempuan Culun ini." ucap Laura sangat marah sekali.
"Kamu jangan salah paham." ucap Diki.
Tiba-tiba Laura menjambak rambut Starla sangat erat sekali.
"Kamu jangan macem-macem yah! Kamu pikir kamu bisa merebut Diki dari aku?" ucap Laura.
"Laura! Laura lepas kan." ucap Diki.
"Lepaskan aku! Pasti dia menggunakan dukun agar kamu bisa bersama dia." ucap Laura.
Starla hanya bisa diam saja dia pasrah di apain oleh Laura.
"Ada apa ini?" tanya Martin yang baru saja datang dengan beberapa rekan kerja nya.
Karena cafe itu dekat dengan beberapa perusahaan juga jadi pengunjung nya banyak.
Laura melihat Martin dia langsung melepaskan rambut Starla.
"Kak Martin." ucap Laura.
"Apa yang Kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan itu kepada Starla?" tanya Martin.
"Aku tidak suka kepada Starla yang mencoba untuk merebut Diki dari aku kak." ucap Laura.
__ADS_1
Martin Menatap Diki.
"Tidak seperti itu kak, aku hanya pergi makan dengan Starla." ucap Diki.
Starla tidak mengatakan apapun dia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Starla.. Starla." panggil Martin tidak di hiraukan oleh Starla. Dia mengejar nya di ikuti oleh Diki namun langsung di tahan oleh Laura.
"Sayang ngapain kamu ngikutin dia sih?" tanya Laura.
"Kamu kenapa sih berfikir yang aneh-aneh kepada Starla dan aku?" tanya Diki.
"Sebenarnya aku tidak percaya kalau kamu bersama dia dekat, aku yakin sih dia yang memaksa kamu ke sini.. Hanya saja aku tidak suka melihat dia bahagia." ucap Laura.
Diki menghela nafas panjang dia mau marah tapi tidak bisa karena dia lah yang membuat Laura membenci Starla. Semua orang tidak suka kepada Starla karena dia.
"Sebaiknya kita kembali ke kampus, aku tidak berselera mau makan." ucap Diki.
Mereka kembali ke kampus, Diki melihat Starla sudah duduk di kursi paling sudut, hanya bisa menunduk kan kepala nya.
"Kenapa sih aku jadi merasa bersalah seperti ini? Aku tidak pernah seperti ini." batin Diki.
Dia diam-diam melihat Starla memakan roti yang ada di bawah meja nya.
Usai kuliah Starla memilih keluar dari gerbang belakang agar tidak perlu di tahan oleh Diki.
Diki di depan parkiran sudah menunggu Starla dari tadi.
"Iyah. Mau bagaimana pun aku harus mengikuti perintah kak Martin." ucap Diki.
"Aku melihat dia keluar gerbang belakang, sudah kamu tidak perlu menunggu dia, sebaiknya kamu nganterin aku pulang." ucap Laura.
Diki tidak bisa menolak ajakan kekasih nya itu akhirnya dia pun mengantar Laura pulang ke rumah nya.
Sementara di tempat lain Starla tidak langsung pulang ke rumah dia berdiri di pinggir Taman kota.
"Kenapa sih orang-orang sangat jahat kepada ku? Aku berfikir awalnya kalau kuliah akan bertemu orang baik namun ternyata sama saja." batin Laura.
"Aku sangat benci dengan takdir hidup ku." ucap nya cukup keras.
"Apa yang sudah aku lakukan sehingga hidup ku begitu menyedihkan seperti ini?" ucap nya sampai tidak terasa air mata nya menetes.
"Maafin saya.." tiba-tiba Martin sudah ada saja di samping nya. Dia menoleh ke samping nya.
"Kak Martin." ucap nya kaget.
Dia menghapus air mata nya dan berusaha biasa saja.
"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan air mata mu seperti ini? Keluar kan saja apa yang ada di hati kamu." ucap Martin.
"Seharusnya saya tidak perlu meminta Diki lebih dekat dengan kamu, saya pikir dengan cara seperti itu akan membuat Diki lebih baik ke kamu namun ternyata saya salah." ucap Martin.
__ADS_1
Starla menggeleng kan kepala nya.
"Kakak jangan berfikir seperti itu, aku tidak apa-apa kok. Mungkin aku saja yang membuat mereka tidak nyaman." ucap Starla.
Martin semakin merasa bersalah.
"Katakan apapun yang membuat hati kamu lega, marah saja kepada saya agar kamu lega." ucap Martin.
Starla tiba-tiba memukul Lengan Martin dengan pelan.
"Kakak jangan meminta ku jadi jahat." ucap Starla. Martin semakin terharu melihat Starla. Dia mengembangkan tangan nya meminta Starla ke pelukan nya.
Starla menggeleng kan kepala nya dia tidak mau.
"Sini." ucap Martin.
"Aku tidak mau kak." ucap Starla.
"Kenapa?" tanya Martin. Starla menunduk kan kepala nya namun Martin tidak menunggu dia langsung memeluk Starla.
Starla kaget karena di peluk dia tidak bisa menolak karena dia juga sangat senang sekali.
Pria yang dia suka sedang memeluk nya dan itu nyata.
"Saya tau kalau saya dan Diki serta orang-orang begitu jahat kepada kamu, saya benar-benar minta maaf." ucap Martin.
Starla hanya diam saja, jantung nya sudah tidak bisa tenang karena sudah berdetak begitu cepat.
Seketika semua masalah nya hilang begitu saja.
"Ya Allah Kenapa pelukan kak Martin begitu nyaman dan sangat menenangkan sekali." ucap Starla dalam hati.
Dia mau membalas pelukan Martin namun dia takut, Martin langsung menarik tangan nya.
"Kalau kamu butuh seseorang untuk teman curhat, atau butuh seseorang pengen ngapain saja cari saja saya." ucap Martin.
Starla tertawa, "Aku tidak ingin menyusahkan kakak." ucap Starla.
"Justru kalau kamu, saya tidak akan pernah merasa di susah kan, kamu tidak perlu khawatir seperti itu." ucap Martin.
Starla tersenyum. "Baiklah kalau begitu aku akan terus mencari kakak." ucap Starla.
"Tapi ada syaratnya." ucap Martin.
"Apa kak? Aku tidak memiliki uang untuk membayar kakak." ucap Starla.
"Syarat nya begitu mudah sekali, kamu tinggal tersenyum saja, kamu jujur dan jangan merasa tidak nyaman ketika bersama saya." ucap Martin.
Starla langsung tersenyum.
"Nah gini dong." ucap Martin mencubit pipi Starla.
__ADS_1