
"Untuk apa? aku baru saja makan dari kantin."
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah tidak apa-apa Buang saja." ucap Diki.
Starla menahan nya.
"Sudah beberapa hari kita tidak berkomunikasi seperti biasa nya, bahkan bertemu hanya sesekali saja." ucap Diki.
"Lalu?"
"Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin kamu tidak merindukan aku." ucap Diki.
"Aku sangat sibuk, tidak sempat untuk merindukan kamu." ucap Starla.
"Kamu jangan marah yah kalau aku terlalu dekat dengan Tifani. Tifani sudah seperti kakak ku sendiri." ucap Diki seakan tau apa yang sedang di pikirkan Starla.
"Kamu tau kan Tifani seperti ini karena kak Martin, dia adalah seorang perempuan. Aku tau dia sangat mencintai kak Martin pasti sangat sulit bagi nya kalau menghadapi nya sendiri an." ucap Diki.
"Tapi tetap saja aku merasa di asing kan." ucap Starla sambil memasang wajah sedih.
Diki menggeleng kan kepala nya..
"Tidak mungkin perempuan pemalu ini aku asing kan, perempuan yang sangat keras kepala tapi sangat menggemaskan." ucap Diki mencubit pipi Starla.
"Diki... Jangan seperti itu, bagaimana kalau ada yang lihat?" ucap Starla.
"Iyah-iyah maaf." ucap Diki sambil tersenyum.
"Ayo dong jangan marah terus, nih senyum seperti aku, kamu pasti tambah cantik." ucap Diki.
Starla tiba-tiba memeluk Diki.
Diki tersenyum dia membalas pelukan Starla.
Namun beberapa orang lewat mereka langsung melepa. pelukan nya.
"Sekarang masih marah?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok." ucap Starla.
Diki tersenyum.
Cukup lama mereka berbincang-bincang di taman.
"Apa yang Kalian lakukan di sini?" tiba-tiba Hima datang.
"Duduk-duduk aja." ucap Starla.
"Humm kalian semakin dekat saja. Apa nanti kak Martin tidak cemburu melihat mantan kekasih nya dekat dengan adik nya sendiri." ucap Hima.
"Apa yang kamu katakan Hima." ucap Starla.
__ADS_1
"Aku melihat kak Martin tadi, dia juga menanyakan kamu." ucap Hima.
Starla terdiam sejenak. "Ya udah ah kalau begitu aku mau ke kelas dulu, kalian yakin mau di sini saja?" tanya Hima.
Mereka berdua beranjak dari tempat tidur.
Starla melihat Diki jadi diam dan memasang wajah datar, padahal tadi ceria sekali.
"Starla." panggil Martin. Starla dan mereka semua menoleh ke arah Martin yang berjalan ke arah mereka berdua.
Namun Diki langsung menarik tangan Starla ke dalam.
"Ada apa dengan mereka berdua." ucap Hima.
"Seperti nya Starla masih marah kepada saya." ucap Martin.
"jangan kan Starla kak, aku juga marah kepada kakak." ucap Hima.
Martin di tinggal kan begitu saja.
Setelah selesai dari kampus Martin pulang ke rumah nya.
Dia melihat Tifani berdiri di depan pintu. Tifani berfikir itu adalah Diki namun ternyata Martin.
"Kamu masih di sini? Aku pikir kamu sudah pulang." ucap Martin.
"Aku di sini menunggu kamu." ucap Tifani.
"Kenapa kamu menunggu saya." tanya Martin.
"Tidak perlu bertanya hal yang tidak perlu kamu ketahui." ucap Martin.
"Kamu pasti tinggal bersama perempuan lain kan?" tanya Tifani.
"Kamu sudah tau jelas aku seperti apa bukan? Kenapa kamu masih bertanya?" tanya Martin.
Tifani terdiam. "Aku tidak akan memaksa kamu kembali bersama ku lagi. Aku hanya ingin kamu berbicara kepada orang tua ku kalau hubungan kita sudah putus." ucap Tifani.
"Baiklah aku akan berbicara dengan orang tua kamu." ucap Martin. Tifani mendengar itu sangat sedih, namun dia harus tegar dia bukan lah perempuan lemah.
Bukan sekali dua kali dia mengalami hal seperti ini.
"Hari ini aku akan mengantar kan kamu pulang." ucap Martin. Tifani terkejut karena Martin sangat bersemangat mengantarkan nya.
"Aku akan menunggu Diki terlebih dahulu." ucap Tifani.
Dan di sore hari nya Diki baru saja Pulang, dia heran melihat Tifani dan Martin duduk berdua diam-diaman di Ruang tamu.
"Diki akhirnya kamu pulang juga." ucap Tifani.
Diki melihat Tifani sudah rapi dan juga ada koper.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke kota ku, mungkin dalam jangka lama kita tidak akan bertemu, Kamu jaga diri baik-baik yah." ucap Tifani.
Diki melihat ke arah Martin.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir. Terimakasih sudah menerima ku di sini dan juga sudah berbuat baik kepada ku " ucap Tifani.
"Boleh kan aku peluk kamu?" tanya Tifani. Diki mengangguk.
"Sejak kapan Diki begitu dekat dengan Tifani seperti itu?" ucap Martin dalam hati. Tifani masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Martin mendekati Diki. "Kakak minta maaf sudah membuat keputusan ini." ucap Martin.
"Apa kakak akan melepaskan perempuan sehebat Tifani? perempuan baik, Sabar, pintar dah penyayang?" tanya Diki.
"Kakak tidak bisa bersama Tifani lagi, semua nya pasti terasa berbeda." ucap Martin.
"Ini semua tergantung kakak, bisa tidak kakak merubah sifat kakak yang sangat jahat itu!" ucap Diki.
Martin terdiam. "Ini sudah keputusan kakak, tidak ada kecocokan dia antara kami berdua lagi." ucap Martin.
Diki diam. "Percayalah kalau kakak melepaskan Tifani sesuatu yang buruk akan terjadi kepada kakak." ucap Diki.
Martin tidak perduli dia meninggal kan Diki.
Starla ternyata ikut dengan Diki dia berdiri di depan bersama Tifani.
"Starla.." ucap Martin mau memeluk Starla namun di tahan oleh Starla langsung.
"Kak kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, aku mohon jangan seperti ini. Hargai perasaan mbak Tifani." ucap Starla.
"Saya hanya mencintai kamu Starla, saya tidak tau harus bagaimana sekarang. Saya tidak bisa tampa kamu." ucap Martin.
Tifani mendengar itu sangat sakit.
"Saya hilang arah, saya tidak tau harus apa. Saya minta maaf kembali kepada saya." ucap Martin.
Starla menggeleng kan kepala nya. "Kak.. kalau kakak benar-benar mencintai aku jangan mengganggu aku lagi, aku bahagia dengan Diki." ucap Starla.
Martin menggeleng kan kepala nya. "Kamu hanya milik saya." ucap Martin.
"Tidak kak, lepas kan aku." ucap Starla. Diki langsung menahan tangan Martin agar tidak menyentuh Starla.
"Selesaikan urusan kakak, jangan mengganggu Starla." ucap Diki.
Martin terlihat sangat terpukul melihat Starla bersama Adik Nya.
Dia dan Tifani masuk ke dalam mobil, tidak ada percakapan di Antara keduanya.
Martin tidak bisa melupakan Starla. Baru setelah perjalanan Martin menoleh ke arah Tifani ternyata dia ketiduran.
Martin mengurangi kecepatan mobil nya. Sepanjang perjalanan Martin hanya fokus mendengar musik saja. Sampai Tifani bangun Martin tidak mengatakan apapun kepada dia.
__ADS_1
"Aku sangat lapar." ucap Tifani. Martin menoleh ke arah Tifani.
"Kita sudah hampir sampai." ucap Martin. Namun tiba-tiba suara perut Tifani membuat nya tau kalau Tifani tidak bisa menahan dan akhirnya Berhenti di rumah makan.