
"Diki sangat tulus dan perhatian kepada ku. walaupun aku beberapa kali mengusir dan menyuruh nya pergi namun tetap saja dia bertahan." batin Starla.
Starla turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi. Saat keluar dia kaget melihat Diki sudah berdiri di depan pintu.
"Kenapa kamu tidak membangun kan aku kalau mau ke kamar mandi?" tanya Diki. "Aku sudah sembuh, aku bisa berjalan sendiri.. Kelihatan nya kamu sangat nyenyak kenapa tiba-tiba bangun?"
"Aku tidak melihat kamu di samping ku. Aku takut kamu pergi." ucap Diki.. Starla diam, Diki mendekati Starla dan memeriksa suhu badan Starla.
"*sudah mendingan data biasa nya, hanya perlu istirahat banyak, minum obat dan juga makan." ucap Diki.
"Aku sudah tidak panas, aku akan kembali ke rumah.
"Kalau begitu aku akan mengantar kamu." Ucap Diki.
Starla menggeleng kan kepala nya. "Gak usah kamu lanjut istirahat saja." ucap Starla.
"Bagaimana bisa aku lanjut istirahat kalau kamu mau pulang sendiri dalam keadaan seperti ini? Kamu bisa gak dengarkan aku?" ucap Diki.
"Tapi aku tidak mau merepotkan kamu."
"Aku sama sekali tidak merasa di repot kan, justru kalau kamu menolak akan membuat aku semakin repot." ucap Diki.
"Tapi... Tidak ada tapi-tapian! Pokok nya kamu jangan pulang sekarang. Tunggu sampai membaik baru kamu bisa pergi." ucap Diki.
"Ibu bagaimana? kasian ibu tidak ada yang masak di rumah." ucap Starla.
"Aku sudah mengirim makanan ke rumah." ucap Diki.. Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Ojek.
Starla berbicara dengan ibu nya melalui handphone gojek tersebut.
Ibu nya bisa tenang setelah berbicara dengan Starla.
"Kamu tidur lah aku akan membuat sarapan." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Aku bisa membuat nya sendiri." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Kamu bisa gak jangan membantah sekali saja?" ucap Diki.
Starla langsung diam. Dia keluar mengikuti Diki.
Diki sudah merencanakan masak bubur sendiri karena tidak terlalu sulit dia pasti bisa.
__ADS_1
Setelah sudah jadi dia memberikan nya kepada Starla.
"Makan lah." ucap Diki.
"Aku sudah tidak sakit, kenapa aku harus makan bubu? Aku tidak biasa makan bubur." ucap Starla.
Diki Menatap wajah Starla. "Kalau kamu makan ini sampai habis, aku akan membiarkan kamu pergi." ucap Diki.
Starla langsung memakan bubur itu sampai habis, walaupun sangat enek dia tetap memaksa nya makan sampai habis.
Diki melihat nya tersenyum. "Nih minum obat." ucap Diki. Starla memakan obat setelah selesai dia merasa kenyang.
Dia mencari Diki tidak ada lagi di meja makan dia mencari ke kamar namun tidak ada Juga, Starla berjalan ke arah Ruan tamu dan ternyata Diki tidur di ruang tamu.
Wajah nya terlihat sangat ngantuk sekali. Starla tidak mau mengganggu nya.
"Bagus banget kalau Diki tidur seperti ini. Aku memiliki kesempatan untuk kabur." ucap Starla. Dia mengambil sepatu dan juga tas nya mau keluar namun ternyata pintu di kunci.
Dia mencari kunci namun tidak menemukan nya.
"Diki membuat kemana kunci?" dia mencari terus, sampai pada akhirnya dia kefikiran mencari di saku celana Diki.
Dan benar saja ternyata ada di saku celana depan Diki.
Namun terlalu ketat sehingga sangat sulit. Diki bergeliat membuat Starla tegang.
Starla tidak mau menyerah dia mencoba lagi namun tiba-tiba Diki memegang tangan nya. Starla kaget sekali.
Diki membuka mata nya. "Kamu pasti mau berusaha untuk kabur kan? Kamu pikir kamu bisa melakukan nya?" ucap Diki.
"Kamu licik banget! Kamu bilang kalau aku menghabis kan bubur dan minum obat aku bisa pergi." ucap Starla.
"Aku minta maaf aku harus seperti ini karena kamu sangat keras kepala, kamu tidak akan memikirkan kesehatan kamu kalau sudah keluar." ucap Diki dia menarik tangan Starla dan tidur di sofa bersama nya.
"Lepas kan aku!" ucap Starla. Diki tidak menjawab nya.
"Biarkan aku tidak sebentar saja agar aku bisa mengantarkan kamu pulang." ucap Diki. Starla tidak berontak lagi karena Diki terlihat mau lanjut tidur.
Dan pada akhirnya mereka berdua tidur bersama di sofa sampai siang hari.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemen Diki.
__ADS_1
Diki terbangun dia membuka mata nya dia melihat jam sudah jam dua belas lewat.
"Sudah siang." batin Diki. Dia melihat Starla masih tidur di pelukan nya.
Dia menatap wajah Starla. Dia mau mencium Starla namun terhenti karena mengingat status mereka sudah tidak ada lagi.
"Diki apa yang mau kamu lakukan? Jangan jadi pria yang berengsek." ucap nya kepada diri nya sendiri.
Starla bergeliat dia mempererat pelukannya dan semakin mendekat ke dada Diki.
"Ayah aku sangat merindukan ayah."' ucap Starla. Diki terdiam. Namun lagi-lagi suara pintu di ketuk membuat Diki harus segera bangun.
"Starla.. Starla bangun.." Ucap Diki. Starla bangun dia menatap wajah Diki.
"Ada apa?" tanya Starla. "Ada tamu." ucap Diki. Starla bangun dia melihat jam.
"Sudah siang saja." ucap Starla.
"Ugh badan ku terasa sangat enak sekali. Sekarang terasa sangat ringan." ucap Starla. Dia berdiri berbalik dia sangat kaget melihat Martin dan teman nya Martin.
"Diki.." Ucap Martin.
"Jangan berfikir yang aneh-aneh kak, Starla sakit dia hanya istirahat di sini, dia sudah mau pulang kok." ucap Diki.
Martin dan teman nya hanya diam sambil memasang tatapan curiga.
Namun di balik tatapan curiga Martin sangat senang melihat adik nya kembali bersama Starla.
"Kalau begitu aku akan mengantar kan Starla pulang dulu kak, kakak tunggu saja di sini." ucap Diki.
Diki menarik tangan Starla keluar. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Aarhhh!! Kenapa aku lupa sih kalau hari ini kak Martin datang dengan teman nya ke apartemen ku?" ucap Diki panik.
Dia menoleh ke arah Starla. "Aku minta maaf Starla.. Aku benar-benar minta, aku sama tidak bermaksud apa-apa." ucap Diki sangat merasa bersalah Starla Harus bertemu dengan Kakak nya.
Starla Menatap wajah Diki. Terlihat sangat panik, khawatir dan juga tidak enakan.
"Sebaiknya kamu sadar kan diri dulu, aku tidak apa-apa." ucap Starla. Diki terdiam sejenak.
"Kak Martin dan teman-teman nya ada urusan di apartemen ku, tidak ada tempat lain untuk berdiskusi soal bisnis. Aku minta maaf karena mereka jadi berfikir aneh-aneh." ucap Diki.
__ADS_1
Starla melihat wajah Diki tersenyum. "Kenapa kamu tersenyum?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa." ucap Starla.