
"Baiklah saya mengerti. Tapi kamu mau kan memakai cincin ini." ucap Martin.
Starla mengangguk dia menjulurkan jari nya.
Berusaha untuk tetap biasa saja walaupun sebenarnya Starla sudah sangat tidak nyaman di sana.
"Ini sangat aneh sekali, aku bersama kak Martin namun kenapa aku tidak nyaman, aku merasa sangat bersalah." batin Starla.
Setelah selesai makan mereka berdua berdiri di dekat pagar.
Martin mengambil foto tiba-tiba Mencium pipi Starla.
Starla kaget. Dia mau kesal namun tidak mungkin.
Martin memposting foto itu membuat semua fans Martin ketar-ketir dan semua nya cemburu.
Termasuk Diki yang melihat itu terbakar api cemburu.
Diki meletakkan handphone nya dia menghela nafas panjang.
"Loe gak apa-apa kan bro?" tanya teman nya.
"Gak apa-apa kok bro." ucap nya.
Kebetulan Diki lagi nongkrong bersama teman-teman nya, dia tidak bisa menunjukkan wajah nya yang galau dan kesal.
Kembali lagi di restoran hotel. Starla dan Martin sedang menikmati Minuman dan melihat pemandangan dari atas sana.
Starla kedinginan karena dress nya tidak menggunakan lengan.
"Kak sebaiknya kita pulang saja." ucap Starla.
"Kamu sudah bosan?" tanya Martin. Starla tersenyum.
"Bukan bosan kak, tapi di sini sangat dingin sekali." ucap Starla.
Martin membuka Jas nya.
"Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Starla.
"Pakaian lah ini agar kamu tidak kedinginan." ucap Martin.
Starla tersenyum. Martin merangkul pundak Starla. Starla hanya bisa duduk kaku Tampa ada perlawanan.
"Saya sangat ingin kita segera memiliki hubungan yang serius ke depan nya?" ucap Martin.
"Maksudnya?"
"Saya sudah berumur, sebentar lagi saya sudah lulus kuliah.. Banyak keluarga saya meminta saya untuk menikah." ucap Martin.
Starla Menatap Martin. "Kita baru saja pacaran kak, aku sudah bilang aku belum ingin membahas tentang itu." ucap Starla.
__ADS_1
"Saya tidak memaksa kamu, saya sangat mencintai kamu, harapan saya hanya kepada kamu." ucap Martin.
"Umur kakak belum terlalu tua, bukan kah rencana kakak mau lanjut S2?" ucap Starla.
"Kalau saya menikah bukan berarti saya tidak bisa lanjut." ucap Martin.
Starla terdiam sejenak. "Tapi aku belum siap kak." ucap Starla. Martin tersenyum dia mengelus pipi Starla.
"Saya tidak akan memaksa kamu kok sayang, kamu tidak perlu khawatir yah." ucap Martin. Starla mengangguk.
Setelah itu mereka pun pulang dari sana.
"Huff akhirnya aku sampai di rumah..." Ucap Starla melempar kan tubuh nya ke tempat tidur nya.
"Starla.. Kamu sudah pulang nak?" tanya Ibu nya yang tiba-tiba masuk ke dalam Kamar nya. Dia langsung duduk karena kaget.
"Iyah Bu, aku sudah pulang. Kok ibu belum tidur?" tanya Starla.
"Belum ngantuk nak, bagaimana makan malam dengan Martin?" tanya Ibu nya.
"Yah begitulah Bu." ucap Starla.
"Kok wajah kamu gitu sih? Seharusnya kamu bahagia dong, baru saja berkencan pertama kali dengan pacar." ucap ibu nya.
"Huff seandainya saja kalau bukan karena permintaan ibu aku tidak nyaman. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman dan tidak pantas bersama kak Martin."
"Aku sudah menganggap kak Martin seperti kakak ku sendiri."
"Kok kamu diam sih nak?" tanya Ibu nya.
"Anak ibu semakin cantik saja, Ayah mu melihat ini pasti sangat senang." ucap Ibu nya.
Starla hanya bisa tersenyum saja.
Setelah beberapa lama ibu nya keluar. Dia mau mandi namun handphone nya berdering.
"Diki! Kenapa dia menelpon ku sekarang?" ucap Starla heran.
"Halo!" jawab Starla.
"Saya di depan rumah kamu." ucap Diki.
"loh kamu ngapain di sini?" Aku tidak meminta kamu datang ke sini." ucap Starla.
Telpon nya langsung mati. "Apa yang dia lakukan datang malam-malam ke sini? sangat aneh."
Starla langsung mempercepat mandi nya. Dia keluar dari rumah dan melihat mobil Diki namun Diki nya tidak ada di sana.
Dia berjalan ke belakang mobil Diki dan ternyata Diki duduk di bagasi mobil nya sambil melihat ke arah langit.
"Ya ampun Diki! Apa yang kamu lakukan di sini tengah malam?" tanya Starla. Diki menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu ada Masalah?" tanya Starla.
Diki menoleh ke arah Starla. "Iyah, saya memiliki masalah." ucap Diki.
"Masalah sama Laura lagi?" tanya Starla.
"Sama kamu!" ucap Diki. Starla kaget. "Sama aku? aku membuat kesalahan apa?" tanya Starla.
"Kamu membuat aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa beraktivitas seperti biasanya." ucap Diki.
"Aku melakukan apa? Aku merasa tidak melakukan apapun." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. Dia keluar dari Bagasi itu mau pergi namun di tahan oleh Diki.
"Coba cerita apa yang membuat kamu marah seperti ini." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya. Dia menunduk kan kepala nya.
"Apa yang aku lakukan? Aku membuat diri ku sendiri malu saja." batin Diki.
"Sebaiknya aku pulang saja." ucap Diki.
"Kamu aneh sekali, ada apa sih dengan kamu?" tanya Starla.
"Tidak ada." ucap Diki. "Kamu marah sama aku karena pergi dengan kak Martin?" tanya Starla.
"Enggak! Ngapain aku marah." ucap Diki. "Lantas kenapa kamu tiba-tiba marah seperti ini?" tanya Starla jadi pusing memikirkan nya.
"Tidak apa-apa."
"Kamu tunggu di sini sebentar." ucap Starla pergi masuk. Tidak beberapa lama kembali membawa kopi untuk Diki.
"Nih minum dulu untuk menenangkan pikiran kamu." ucap Starla.
"Aku tidak minum kopi, kamu jangan menyamakan aku dengan kak Martin." ucap Diki.
"Sebenarnya Diki kenapa sih? Apa benar yang di katakan oleh Hima kalau dia menyukai aku?" ucap Starla dalam hati.
"Tapi tidak mungkin Diki menyukai aku. Selama ini dia sangat membenci aku. Begitu pula dengan aku tidak mungkin aku memiliki perasaan kepada Diki." ucap nya dalam hati.
"Minum lah, tidak baik menolak rejeki." ucap Starla.
Diki meminum nya dia melamun sebentar sambil melihat ke arah Langit.
"Aku sangat suka dengan langit. Bagaimana dengan kamu?" tanya Starla kepada Diki.
"Suka. Orang tua saya pernah bilang kalau lagi merindukan seseorang pandang lah ke langit yang penuh dengan bintang dan juga bulan. Kita akan bisa membayangkan wajah orang yang kita rindukan." ucap Diki.
Starla tersenyum. "Benar banget, setiap kali aku merindukan Ayah ku, aku selalu melihat ke arah langit. Aku kembali mengingat masa-masa dia ada dan membayangkan wajah nya tersenyum kepada ku." ucap Starla.
"Aku tidak pernah berani membayangkan wajah orang tua ku." ucap Diki.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu tidak merindukan mereka?"
"Aku tidak ingin membuat aku mengingat kembali bagaimana orang tua ku meninggalkan aku untuk selama-lamanya." ucap Diki.