Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 12


__ADS_3

"Hanya karena itu kamu membenci ku bertahun-tahun. Kamu sangat tidak memiliki hati." ucap Starla.


Diki diam, dia melihat ke arah Starla yang menangis. Untuk pertama kalinya dia melihat Starla menangis. Sudah sangat kejam yang dia lakukan namun tidak pernah melihat Starla menangis.


"Maaf kan aku." ucap Diki sambil menunduk kan kepala nya.


"Aku tidak butuh maaf kamu, aku tau itu tidak tulus. Kamu sering mengatakan itu dan setelah itu kamu tertawa dan mengeluarkan kata-kata yang membuat ku sakit." ucap Starla.


Diki bingung harus mengatakan apa. Namun yang di katakan Starla semua benar, beberapa kali dia mengatakan maaf namun dia tidak pernah serius.


"Aku tau aku sangat tidak bisa di maafkan, aku minta maaf. Terserah kamu memaafkan aku atau tidak tapi aku akan menunggu ibu kamu datang setelah itu aku baru pergi." ucap Diki.


Starla diam. Dia melanjutkan tidur Diki duduk di sofa menunggu Ibu Starla.


Di rumah Martin berusaha fokus bekerja namun tidak bisa. Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke handphone nya dari adik nya.


"Starla di rawat di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah nya, di ruangan 099 di lantai tiga."


Tidak berfikir panjang dia langsung berangkat menuju ke rumah sakit itu.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sana.


"Starla..." Martin membuka pintu dan menyebut nama Starla.


Melihat Martin datang Starla sangat senang.


"Kak Martin." ucap Starla.


"Bagaimana keadaan kamu? Kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Martin terlihat sangat khawatir.


"Hanya masuk angin saja kak." ucap Starla.


"Masuk angin? Kalau hanya masuk angin tidak mungkin sampai di rawat seperti ini." ucap Martin.


"Apa kata dokter? Kamu tidak perlu menutupi semua nya, wajah kamu sangat pucat dan badan kamu juga sangat panas." ucap Martin memegang tangan Starla.


Starla tersenyum karena Martin sangat perduli dan khawatir kepada nya.


"Aku tidak apa-apa kak, terimakasih sudah mau datang dan sangat mengkhawatirkan aku seperti ini." ucap Starla.


"Kalau bukan karena Diki kamu tidak akan sakit seperti ini, saya akan memberikan hukuman kepada Diki." ucap Martin.


Starla menoleh ke arah Diki yang hanya diam saja fokus pada handphone nya.


"Sudah kak, aku sakit seperti ini bukan karena Diki. Fisik ku terlalu lemah." ucap Starla.


"Cih.. Tadi saja menyalah kan aku." ucap Diki dalam hati.

__ADS_1


"Kamu pulang saja Diki, kakak Akan menemani Starla di sini." ucap Martin kepada Diki.


"Humm bagus lah kalau begitu." ucap Diki langsung pergi.


"Kak Martin benar-benar sangat aneh kalau bisa menyukai gadis seperti Starla." ucap Diki sambil berjalan meninggalkan Ruangan itu.


"Loh nak Diki mau kemana? Starla sendiri?" tanya Bu Irma.


"Enggak kok Bu, di dalam sudah ada kak Martin, aku harus pulang." ucap Diki.


"Loh kok pulang? Ini ibu bawain makanan untuk kamu." ucap Bu Irma.


"Tidak perlu Bu, terimakasih, tapi saya harus pulang." Diki langsung pergi.


"Sangat aneh, berbeda sekali dengan Martin." ucap Bu Irma.


Keesokan harinya Starla salfok sudah bisa pula dari rumah sakit.


"Terimakasih yah nak Martin sudah menemani Starla di rumah sakit dan juga membantu membayar biaya rumah sakit. Saya akan segera mengembalikan uang tersebut." ucap Bu Irma setelah sudah sampai di rumah.


"Tidak perlu Bu, saya harus bertanggung jawab karena kelakuan adik saya." ucap Martin.


"Adik?" ucap Bu Irma bingung.


"Enggak kok Bu, maksud kak Martin itu adalah bertanggung jawab sebagai senior, nanti kalau udah ada uang kita akan mengganti nya." ucap Starla.


"Tidak perlu repot-repot Bu, saya sebentar lagi harus pergi ke kantor." ucap Martin.


"Oohh baiklah nak, sekali lagi terimakasih. Kalian lanjut lah berbicara." ucap Bu Irma.


"Kenapa kamu menutupi kesalahan Diki? Seharusnya Ibu kamu harus tau agar dia bisa menegur Diki karena kejahilan nya kelewatan." ucap Martin.


Starla menggeleng kan kepala nya.


"Ibu tidak boleh tau bagaimana aku di sekolah, ibu memiliki riwayat penyakit jantung, kalau dia kepikiran dia bisa sakit." ucap Starla.


Martin menghela nafas panjang.


"Ini semua karena Diki, saya juga bingung bagaimana mengatasi dia, benar-benar sangat nakal." ucap Martin.


Starla tersenyum. "Anak laki-laki hal wajar kalau nakal, aku bisa mengatasi nya kakak tidak perlu khawatir, terimakasih sudah perduli kepada ku." ucap Starla.


Martin tersenyum.


"Jujur aku sangat senang sekali mempunyai senior yang baik seperti kakak. Aku sebelum nya tidak pernah dekat dengan orang lain." ucap Starla.


Martin tersenyum dia merapikan rambut Starla menyelip kan ke belakang telinga nya. Starla di perlakukan seperti itu sangat lah gugup.

__ADS_1


"Apapun masalah kamu ceritakan sama Saya, kalau Diki jahil atau berani membuly kamu lagi saya akan memberikan hukuman kepada dia." ucap Martin.


Starla tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu sangat cantik kalau tersenyum seperti ini." ucap Martin mencubit pipi Starla.


"Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu, cepat sembuh dan jangan banyak aktifitas." ucap Martin. starla melambaikan tangan nya.


Dia memegang pipi nya yang di cubit oleh Martin.


"Ya ampun kenapa aku jadi baper gini sih? Gak-gak ." dia langsung menepis pikiran nya namun tetap saja senyum-senyum.


Di malam hari nya Martin sedang di rumah menonton TV namun tiba-tiba mendapatkan pesan dari salah satu teman nya.


"Martin ini Diki kan? Aku melihat nya minum di club." isi pesan berserta foto Diki yang sudah mabuk.


Martin menghela nafas panjang.


"Benar-benar nih anak tidak bisa di atur." ucap Martin.


Tengah malam Diki baru saja pulang. Martin berdiri di depan pintu.


"Dari mana kamu jam segini baru pulang?" tanya Martin.


"Baru selesai jalan-jalan bersama Laura." jawab Diki.


Martin menahan tangan Diki yang mau mengabaikan nya.


"Ada apa sih kak?" ucap Diki dengan kesal.


"Kamu mabuk kan?" ucap Martin. Diki menatap Martin.


"Bukan urusan kakak, tidak perlu ikut campur, bukan nya kakak sebelumnya tidak pernah perduli apa yang aku lakukan?" ucap Diki.


Dia langsung pergi meninggalkan Martin.


"Diki! Diki!" Martin membentak Diki namun dia sama sekali tidak perduli.


"Hufff." Martin sangat kesal.


Di dalam kamar Diki baru saja selesai mandi dia duduk di karpet bersandar ke kasur sambil membuka handphone nya.


Dia melihat Story Starla di IG. Dia membuat stiker tersenyum.


"Tidak biasanya dia membuat Story seperti ini." batin Diki.


"Apa kamu sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Diki. Namun Tiba-tiba menarik nya lagi.

__ADS_1


"Kenapa aku menanyakan itu? Aku tidak perduli, bodo amat." ucap nya langsung mematikan handphone.


__ADS_2