
"Aku ada urusan mendadak Bu, ibu makan saja." ucap Starla.
"Jangan terlalu lama Pulang nak." ucap ibu nya. Starla terdiam sejenak.
"Dulu ibu nya sering meminta nya untuk sering-sering keluar, namun sekarang ibu nya sangat takut ketika Starla keluar.
Starla sudah mendapatkan tempat, namun dia harus membayar sewa tempat dulu.. Karena tidak memiliki uang terpaksa di menggadaikan handphone nya untuk sementara waktu. Dan sisa nya di pakai untuk modal jualan di malam hari.
Setelah semua nya sudah lengkap dia mulai Memasak dan mulai berjualan malam itu.
Starla sudah menyajikan makanan yang dia masak di sana, seperti gorengan, jajanan anak-anak dan banyak yang lain.
Diki kebetulan lewat pasar malam mau ke rumah Starla. Karena melihat banyak Gulali dia teringat Starla akhirnya dia memilih untuk berhenti.
Dia keluar dari dalam mobil mau membeli Gulali tersebut namun satu wanita yang tidak jauh dari sana membuat Diki heran.
"Loh kok Itu seperti Starla." batin Diki dia mendekati agar lebih jelas dan ternyata itu benar Starla.
"Starla!" ucap Diki. Starla menoleh ke arah Diki yang tidak jauh dari nya. Starla langsung diam dia tidak mengatakan apapun namun dia tidak juga menghiraukan Diki.
"Kenapa kamu berjualan di sini?" tanya Diki karena tidak biasa nya.
Starla tidak juga menjawab nya.
"Starla apa kamu mendengar ku? Aku bertanya kenapa kamu ada di sini?" tanya Diki.
"Bukan urusan kamu, aku mau ngapain di sini itu adalah urusan ku, sebaiknya kamu pergi saja." ucap Starla.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, bagaimana ini bukan urusan ku kalau kamu seperti ini." ucap Diki.
Starla menghela nafas panjang. "Jangan sampai aku berteriak, pergi lah dari sini." ucap Starla.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjelaskan semua ini."
"Aku butuh uang untuk membayar SPP ku yang sudah nunggak, aku tidak memiliki uang, ibu tidak berjualan lagi. Ini adalah jalan satu-satunya karena kamu dan kakak mu sudah membunuh ayah ku!" ucap Starla dengan nada yang sangat tinggi.
"Apa kamu puas? apa kamu sudah puas dengan semua penderitaan ku ini?" tanya Starla.
Diki diam. "Sekarang pergi lah jangan ganggu aku." ucap Starla.
Diki melihat dagangan Starla baru beberapa yang terjual.
"Aku akan membeli semua nya ini, kamu pulang saja." ucap Diki.. Starla tersenyum tipis Menatap Diki.
"Kamu merendah kan ku sekarang? Kamu merendahkan ku dengan uang mu itu?" ucap Starla. Diki menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, wajah kamu sangat kelelahan, ini sudah mau hujan dan tengah malam, kasihani kamu." ucap Diki.
"Aku tidak perlu di kasihani." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang. Dia berfikir bagaimana membuat jualan Starla laris.
__ADS_1
Akhirnya dia menemukan ide dia pergi ke dalam mobil dan tidak beberapa lama kembali membawa kertas yang sudah menempel di dada nya bertuliskan.
"Siapa yang beli berkesempatan berfoto dengan nya."
Diki cukup percaya diri dengan tampang yang dia punya.
Starla melihat itu tertawa. "Tidak ada gunanya, sebaiknya kamu pergi aku tidak butuh bantuan kamu!" ucap Starla.
Namun tiba-tiba ada perempuan yang lewat.
"Wahh bagus juga nih, kakak nya ganteng banget. Ini seriusan kan kak?" tanya Perempuan itu."
Diki mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi beli dulu yah mbak."
"Huff sebenarnya aku kurang suka jajan malam-malam, tapi gak apa-apa deh demi foto sama Kakak ganteng, membuat mantan ku cemburu." ucap perempuan itu.
Setelah dapat yang lain juga ikutan sampai Diki kelelahan begitu juga dengan Starla.
"Kak ini seriusan kan?" tanya perempuan yang gendut baru saja datang.
"Serius." jawab Diki.
"aku akan membeli lebih banyak tapi aku boleh cium kakak kan?" tanya Perempuan itu.
"Boleh-boleh!!!" Sorak-sorai teman nya.
"Boleh kok kak, silahkan saja, kebetulan orang nya juga jomblo." ucap Starla..Diki menghela nafas panjang.
Saya saat perempuan itu sudah membeli dan mau mencium Diki.. Tiba-tiba Diki kabur.
Perempuan itu sangat kecewa dia pun pergi tanpa foto atau cium.
"Kamu gila yah, bagaimana bisa kamu membiarkan orang lain mau mencium aku begitu saja!" ucap Diki.
Starla tersenyum melihat wajah Diki yang berlari menghindar dari perempuan itu.
"Bukan nya kamu menjual diri demi jualan ku?" ucap Starla.
"Iyah tapi tidak harus seperti itu juga." ucap Diki.
Diki melihat jualan Starla sudah habis.
"Yahh semua nya sudah habis, aku sama sekali tidak kebagian." ucap Diki.
Namun tiba-tiba hujan. Starla harus merapikan semua nya agar bisa mencari tenaga teduh.
"Aku bantuin."
__ADS_1
"Tidak perlu."
Starla terus menolak namun tetap saja Diki membantu nya.
"Huff hujan nya cukup lebat." ucap Diki setelah mereka berteduh di teras pasar malam.
Semua orang juga sudah berteduh di sana.
Diki melihat Starla kedinginan karena sempat terkena hujan.
Dia membuka jaket dan memberikan nya kepada Starla.
"Tidak perlu! Kamu bukan lagi pacar ku, kita harus menjaga jarak satu sam lain." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Emang nya kalau teman saja tidak boleh memberikan jaket nya?"
Starla menghela nafas panjang.
"Pakai lah dengan benar agar kamu tidak kedinginan. Kalau kamu kedinginan lalu sakit bagaimana dengan SPP kamu?" ucap Diki.
Starla terdiam.
"Humm dua bulan SPP cukup lah mahal, satu Minggu berjualan tidak mungkin kamu dapat melunasi nya, bagaimana kalau aku membayar nya itung-itung tanda maaf dan mengganti kan kewajiban almarhum ayah kamu."
Starla menggeleng kan kepala nya. "Jangan pernah tawarkan uang mu kepada ku. Aku tidak akan menerima nya." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Baiklah, aku minta maaf..Aku tidak bermaksud untuk merendahkan kamu."
Starla terdiam. Sudah satu jam menunggu namun hujan tak kunjung reda.
"Krukk!! Kruk!!" Bunyi perut lapar, Starla menoleh ke arah Diki, Diki langsung menunjuk Gigi nya.
Starla membuka kotak jualan nya ternyata masih ada sisa satu porsi.
"Loh tadi semua nya sudah habis, kok masih ada?" tanya Diki.
"Kamu mau atau tidak?"
"Aku mau." Diki langsung mengambil dan memakan nya sampai habis.
"Ini sudah jam dua belas malam, hujan tidak juga reda, sebaik nya kamu pulang duluan."
"Aku akan mengantar kan kamu pulang."
Starla menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu aku akan menunggu di sini."
Starla menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang saja dengan Diki, kasian melihat ibu sendiri."
"Baiklah aku mau." Diki sangat senang dia langsung membawa Starla keluar dari sana menembus hujan yang masih deras sekali.