
“Di usia yang sekarang semoga apa yang nak martin bisa mewujudkan apa yang nak martin ingin kan, dan semua rencana nak martin berjalan dengan lancar, rejeki nak martin juga semoga lancar dan segera mendapat kan jodoh yang baik untuk nak Martin.” Doa Bu Irma untuk Martin.
“Aminn... terima kasih banyak bu.’ Ucap Martin sangat senang sekali.
Starla baru saja datang. “ Bu aku antar kak Martin ke depan dulu yah.” Ucap Starla.
“Iyah nak.”
Di depan rumah tepat nya di dekat parkiran.
“Ini untuk kakak.” Ucap Starla memberikan Martin Paperbag cukup besar.
“Apa isi nya ini? Apa sya boleh membuka nya di sini?” tanya Martin.
“Jangan di sini, setelah di rumah saja. Kalau begitu kakak hati-hati di jalan aku masuk dulu.” Ucap Starla langsung pergi meninggal kan Martin yang belum selesai ngomomg.
Starla masuk ke dalam. “Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu nak? Apa ada hal yang membuat kamu bahagia?” tanya Bu Irma.
“Ada deh bu, ibu tidak boleh tau.” Ucap Starla.
Ibu nya senyum melihat Starla.
“loe dari mana saja Martin jam segini baru pulang, bahkan kami menelpon kamu tidak kamu jawab sama sekali!” ucap teman nya sangat marah.
“Sorry semua nya, aku baru saja menemui gebetan ku,” ucap Martin seperti tidak ada maslah.
Teman-teman nya hanya bisa menggelengkan kepala nya.
“Ayo minun, belum habis kan? Kalau sudah habis kita pesan sja lagi.”
“Tadi Diki sudah menambah nya, diki baru saja naik ke kamar nya, sbelum nya dia ikut bergabung dengan kami di sini.
Tumben sekali dia mau bergabung seperti itu?” mereka sifat Diki sangat berbeda dengan Martin yang sangat mudah berbaur dengan orang baru dan juga sangat ramah sekali.
“Kamu membawa banyak hadiah seperti nya, ada apa itu?” tanya teman nya mau menyentuh paperbag pemberian calon mertua dan gebetan nya itu.
“jangan mencoba untuk menyentuh nya!” ucap Martin langgsung memegang nya.
“Huff dasar pelit.” Ucap teman perempuan nya. Setelah selesai minum, teman-teman nya sudah pada mabuk, mereka juga sebagian sudah pulang, sebagian juga tidur di rumah Martin.
Di kamar Martin membuka hadiah dari Starla. Dia sangat kaget ternyata isi nya adalah sweater yang sangat bagus warna hitam. Ada juga kertas pengucapan selamat ulang tahun dari Starla.
__ADS_1
Dia lanjut membuka hadiah dari bu Irma kepada nya.
“Ini syal yang di buat oleh bu irma sendiri, huff aku tidak menyangka aku bisa memakai syal yang begitu bagus buatan bu Irma.” Batin Martin.
Tiba-tiba ada pesan masuk ke hp nya.
“Selamat malam kak, semoga mimpi indah yah.” Ucap Starla menggunakan pesan suara dan suara nya begitu merdu skali di tellinga Martin.
“Selamat malam juga.” Balas Martin sambil mengirim kan foto nya memakai jaket tersebut.
“Ya ampun jaket nya bagus banget di pakai oleh kak martin, ternyata aku tidak salah pilih untuk memilih warna hitam untuk kak martin.” Ucap Starla.
Dia bisa tidur dengan nyenyak malam itu, begitu juga dengan Martin dia bisa tidur dengan nyenyak sambil memakai pemberian starla dan juga syal di leher nya.
Sementara di kamar Diki dia sangat sibuk dengan game nya yang tak kunnjung selesai. “Sayang kamu lagi di mana?” tiba-tiba pesan masuk ke hp nya.
Karena lagi fokus bermain dia mengabaikan nya. Namun Laura langsung menelpon nya.
“huff hany mengganggu saja !”
“Ada apa kamu menelpon ku tengah malam seperti ini?” tanya Diki dengan sangat kesal.
“Maaf sayang, aku gak bisa tidur itu sebab nya aku menelpon kamu, lagian kamu sih dari tadi cuekin aku mulu.” Ucap laura.
“Temanin aku tidur, telpon nya jangan di matikan yah.” Ucap Laura.
“Aku tidak bisa karena aku sedang bermain game!” ucap Diki. Laura tetap memohon namun Diki tetap saja tidak. Diki tidak banyak berbicara dia langsung mematikan sambungan telepon dengan sepihak.
Saat mau melanjutkan main agme ternya pesan ny sudah di balas oleh Starla.
Diki hanya memanggil nama Starla. Dan Starla hany menjawab iyah.
“Ini sudah berapa? Kenapa kamu baru membalas pesan ku?” tanya Diki.
Namun tidak di jawab oleh Starla karena dia juga sudah tidur.
Keesokan hari nya.
“Diki sarapan dulu.” Martin melihat Diki yang baru saja turun.
Diki duduk di meja makan, dia melihat sweater yang di pakai oleh Martin, dia merasa tidak asing dengan jaket itu.
__ADS_1
Dia mengingat beberapa hari yang lalu dia melihat Starla membawa paperbag, yang tidak sengaja di periksa oleh Hima saat di kelas.
“Ohh ternyata itu kak Martin batin Diki.
Setelah selesai sarapan dia langsung pergi tidak mengatakan apapun.
Martin hanya bisa menghela nafas panjang, tidak bisa mengantakan apapun.
Saat perjalan ke sekolah tiba-tiba hp nya berbunyi dia melihat telpon dari starla. “Ada apa dia menelpon ku?” tanya ny heran karena tidak biasanya.
“Haloo..”
“Kamu ada di mana? Apa kamu mau datang ke rumah ku sebentar?” tanya Starla.
“Ada apa?”
“Ke sini saja!” tel pon langsung mati.
Diki tidak jadi ke kampus lebih awal karena harus ke rumah Starla. Sesampai nya di depan rumah Starla dia langsung turun.
“Akhinya kamu datang juga, kamu sudah sarapan apa belum?” tanya Starla.
“Sudah.” Ucap Diki.
“Humm sayang sekali, ibu yang meminta kamu datang dia mau meminta kamu mencoba menu baru yang akan di jual oleh ibu, aku sudah bilang tiddak perlu.” Ucap Starla karena takut akan merepotkan Diki.
“Ibu bilang kalau kamu sangat pandai mencicipi makanan, dia minta pendapat kamu, kamu tidak keberatan kan?” tanya Starla.
“Tidak apa-apa.” Jawab Diki sedikit dingin karena dia sangat kecewa, entah apa yang ada di pikiran nya saat starla meminta nya datang.
Setelah selesai mencicipi makanan itu dia memberi tau apa saja ya kurang dia jujur karena itu baik untuk masa depan warung bu Irma.
“Kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini? Bukan nya kelas nanti jam sebelah?” ucap Starla penasaran karena Diki sudah sangat rapi.
“Aku ada janji dengan laura.” Jawab diki.
“Siapa laura? Apa itu pacar nak Diki?’ tanya BU Irma.
“Iyah bu, dia sangat cantik sekali, sangat cocok dengan Diki yang juga tampan.” Ucap Starla.
Diki menatap wajah Starla. “Bukan kah benar apa yang aku bilang?” tanya Starla kepada Diki. Diki tidak menjawab dia hanya diam saja.
__ADS_1
“Ya udah kalau begitu saya berangkat ke kampus dulu yah bu. Saya permisi.” Ucap Diki pamitan.
“Terima kasih banyak yah nak, jangan lupa dengan janji kita. Kamu harus datang.” Ucap bu Irma entah apa yang sudah mereka bicarakan.