
"Saya tau kamu karena Martin sering menceritakan kamu kepada saya, dia juga sering bilang kalau Diki selalu membuat masalah kepada kamu." ucap Pak Andi.
"Setiap kali Diki membuat masalah saya yang akan mengurus nya ke kampus atau ke sekolah karena Martin benar-benar sangat sibuk." ucap Pak Andi.
Starla hanya tersenyum saja.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
"Masuk!"
"Martin, Starla datang mencari kamu." ucap pak Andi.
"Starla?" ucap Martin kaget.
"Iyah." ucap Martin seperti tidak menyangka.
Starla masuk. "Maafin aku kak datang mendadak jadi mengganggu waktu kerja kakak." ucap Starla.
"Tidak apa-apa.. Silahkan duduk." ucap Martin. Starla mengangguk. "Oh iya kalau begitu saya permisi yah." ucap Paman nya.
Martin mengangguk. "Kak Martin sudah makan?" tanya Starla. Martin menutup laptopnya dia duduk di depan Starla.
"Humm sebenarnya beberapa jam yang lalu saya baru selesai makan, namun melihat kamu membawa makanan saya jadi lapar lagi." ucap Martin.
"Kakak bisa saja." ucap Starla.
"Kamu membawa ini untuk saya kan?" tanya Martin. Starla mengangguk.
"Aku meminta ibu memasak ini khusus untuk kakak, aku pikir kakak tadi nya akan lama di kampus ternyata Kakak sudah pergi." ucap Starla.
Martin langsung makan. Dia sudah beberapa hari tidak makan sup buatan Bu Irma.
"Maafin saya jadi membuat kamu repot-repot datang ke sini." ucap Martin. "Gak apa-apa kok kak, sebenarnya aku juga ke sini mau mengucapkan terimakasih kepada kakak " ucap Starla.
"Terimakasih? Untuk apa?" tanya Martin.
"Karena kakak berbicara kepada semua orang akhirnya Mereka semua minta maaf dan berjanji tidak menggangu aku lagi." ucap Starla.
"Maksud nya?" tanya Martin.
"Tadi semua teman sekelas ku minta maaf, mereka berjanji tidak akan membuly ku lagi, aku yakin pasti kakak kan yang meminta mereka minta maaf." ucap Starla.
"Tapi saya tidak mengatakan apapun kepada teman-teman kelas kamu " ucap Martin.
"Saya hanya memperingati Diki pada waktu kejadian itu." ucap Martin. "Apa itu arti nya bukan kakak yang meminta mereka minta maaf?" tanya Starla. Martin mengangguk.
Starla terdiam sejenak.
"Mungkin Yang meminta mereka minta maaf adalah Diki. Akhir-akhir ini saya melihat Diki juga sudah banyak diam, dia tidak pernah lagi mencari masalah kepada kamu." ucap Martin.
Starla diam. "Tapi mau bagaimana pun aku tetap berterimakasih kepada kakak karena sudah banyak membantu aku." ucap Starla. Martin tersenyum.
"Oh iya Acara di panti asuhan Minggu depan bagaimana?" tanya Martin.
__ADS_1
"Semua nya baik-baik saja kok kak." ucap Starla.
"Bagus deh kalau begitu." ucap Martin.
"Ya udah Kalau begitu aku pamit pulang dulu yah kak, Ku tidak mau mengganggu kakak." ucap Starla.
"Kamu mau kemana buru-buru? Bukan kah Biasanya hari Sabtu warung ibu mu tutup?" tanya Martin.
"Iyah sih Kak, aku ingin cepat pulang ke rumah." ucap Starla.
"Sebenarnya saya mau mengajak kamu ke rumah saya." ucap Martin.
"Hah! Ngapain kak?" tanya Starla.
"Besok adalah hari ulang tahun saya, saya mau kamu masak sesuatu yang enak untuk makan malam nanti." ucap Martin.
"Tapi kak."
"Jangan banyak alasan, kamu tidak bisa menolak." ucap Martin.
Starla sebenarnya tidak enak dan tentunya pasti sangat segan.
Martin dan Starla langsung meninggalkan kantor.
"Oh iya tadi kamu datang ke sini pakai apa?" tanya Martin. Starla mau menunjuk mobil Diki namun sudah tidak ada lagi di sana.
"Saya sangat merasa bersalah karena mau bertemu dengan saya kamu jadi jauh-jauh." ucap Martin.
"Huff seandainya saja kak Martin Sadar aku melakukan ini karena aku menyukai nya." batin Starla.
Sebelum kembali ke rumah mereka belanja terlebih dahulu.
"Kakak yakin mau belanja sama aku?" tanya Starla.
"Apa yang salah? Justru kamu yang lebih tau." ucap Martin.
"Humm kalau begitu aku akan mulai memilih nya." ucap Starla. Martin tersenyum.
Martin mulai mendorong troli belanja. Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Kamu mau?" Martin memberikan eskrim. Martin juga mengambil foto mereka berdua sambil makan eskrim. Semua orang yang menyukai Martin melihat itu sangat cemburu sekali.
Diki melihat postingan itu setelah dia sudah sampai di kamar nya.
"Baru kali ini aku melihat senyuman Starla yang sangat manis seperti ini." batin Diki.
Martin dan Starla sudah sampai di rumah.
"Saya tukar baju dulu yah, setelah itu saya akan membantu kamu." ucap Martin.
"Tidak perlu kak, aku akan melakukan nya sendiri." ucap Starla.
"Saya tidak enak, ini untuk makan malam bersama keluarga dekat saya, tidak mungkin saya membiarkan kamu sendiri." ucap Martin.
__ADS_1
Starla mengangguk, untung saja sebelum nya dia membawa baju ganti jadi bisa memakai baju rumahan.
Mereka berdua sudah di dapur. "Pakai ini dulu kak." ucap Starla memberikan celemek kepada Martin.
"Saya tidak tau cara memakai nya." ucap Martin.
Starla menghela nafas panjang dia tau kalau Martin hanya modus saja.
Starla tidak berhenti tersenyum karena Martin selalu membuat nya salting.
"Sini saya bantu." ucap Martin memasang kan Celemek kepada Starla.
Starla membelakangi Martin.
"Rambut kamu sangat wangi sekali, kamu pakai shampoo apa?" tanya Martin mencium aroma rambut Starla.
Diki baru saja keluar dari kamar nya dia melihat Martin mencium kepala Starla.
"Cihh apa yang mereka lakukan?" ucap Diki.
Diki melihat mereka sangat akrab sekali. Starla terlihat sangat senang ketika bersama Martin.
"Kak!" panggil Starla. Martin menoleh ke arah Starla.
"Cicip dulu." Starla menyuapi Martin.
Tidak sengaja mata mereka bertemu.
"Ekhem-ekhem!!" Diki turun dan melihat itu.
"Diki! Kamu sudah di rumah?" ucap Martin.
Diki mengangguk. "Tante dan Paman sudah di perjalanan ke sini." ucap Diki.
"Baiklah kalau begitu bantu kakak Menata piring di meja." ucap Martin.
"Aku masih ada urusan lain." ucap Diki
"Kamu mau kemana? Acara ini hanya sekali setahun, apa kamu tidak bisa menghargai kakak sekali saja?" tanya Martin.
"Bukan nya kakak sudah mempunyai Tante dan paman, masih banyak keluarga yang lain nya kan? Jadi untuk apa aku di sini?" tanya Diki.
"Diki!" ucap Martin marah. Starla hanya bisa diam.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Kakak kamu sendiri tidak bisa kamu hargai!" ucap Martin.
"Kakak berusaha sabar untuk menghadapi kamu, namun kamu benar-benar tidak bisa mengerti." ucap Martin.
"Aku pergi dulu."
"Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus di rumah, apa kata Tante dengan paman kalau kamu tidak di rumah hari penting seperti ini?" ucap Martin.
"Aku tidak di perlukan di sini, untuk apa aku di sini?" ucap Diki. Martin menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kamu sudah dewasa Diki, sampai kapan kamu akan seperti ini kepada kakak? Kakak tau kamu masih marah kepada kakak." ucap Martin.